Laba Perdana GOTO Topang Optimisme, Target Harga Rp 80 Tetap Dipasang
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Keberhasilan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) membukukan kinerja bersejarah pada kuartal I-2026 dengan torehan laba bersih perdana sebesar Rp 258 miliar membuat prospek sahamnya makin moncer. Prospek juga didukung ekspektasi berlanjutnya pertumbuhan kinerja keuangan.
Hal ini mendorong BRI Danareksa Sekuritas dalam riset terbarunya mempertahankan rekomendasi beli saham GOTO dengan target harga Rp 80 per saham. Target harga tersebut juga mempertimbangkan bisnis pembiayaan diperkirakan menjadi pendorong utama pertumbuhan ke depan, meskipun risiko jangka pendek masih membayangi, terutama dari fluktuasi harga bahan bakar, pelemahan daya beli, serta tantangan ekspansi di segmen mass market.
Baca Juga
GOTO Ukir Sejarah: Laba Bersih Pertama Rp 171 Miliar di Kuartal I-2026
Analis BRI Danareksa Sekuritas Kafi Ananta dan Erindra Krisnawan mengatakan, pencapain bersejarah GOTO tersebut ditopang pertumbuhan bisnis pembiayaan (GTF) serta peningkatan jumlah pengguna aktif bulanan (MTU). Secara keseluruhan, GOTO mencatat adjusted EBITDA sebesar Rp 907 miliar pada kuartal I-2026, naik 35% secara kuartalan dan setara sekitar 30% dari proyeksi tahun penuh.
“Kinerja ini telah melampaui ekspektasi, didorong oleh ekspansi loan book yang tumbuh menjadi Rp 9,9 triliun atau naik 12,7% secara kuartalan. Pertumbuhan tersebut turut didukung oleh kontribusi awal dari merchant lending sekitar Rp 0,5 triliun serta kenaikan MTU menjadi 27,5 juta atau naik 5% secara kuartalan,” tulis riset tersebut.
Namun demikian, BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan, segmen On-Demand Services (ODS) masih menghadapi tantangan. Nilai transaksi bruto (GTV) ODS hanya tumbuh 4% secara tahunan, bahkan mengalami penurunan secara kuartalan akibat faktor musiman. Hal ini mencerminkan masih terbatasnya penetrasi di segmen mass market. Meski begitu, GOTO mencatat kinerja positif di segmen affluent tercermin dari peningkatan margin EBITDA ODS sebanyak 35 basis poin menjadi 2,7%.
Di tengah capaian kinerja yang kuat pada awal tahun, manajemen tetap mempertahankan panduan adjusted EBITDA tahun 2026 kisaran Rp 3,2-3,4 triliun. Sikap ini mencerminkan kehati-hatian terhadap kondisi makroekonomi, terutama terkait volatilitas harga bahan bakar dan daya beli masyarakat.
Baca Juga
Analis Optimistis GOTO Untung Tahun Ini, GTF Jadi Mesin Utama Pendongkrak Kinerja
Manajemen juga membuka peluang untuk melakukan cost pass-through, apabila tekanan biaya meningkat, dengan fokus utama pada segmen pelanggan affluent. Selain itu, setelah menyelesaikan migrasi cloud, GOTO kini berfokus pada transformasi berbasis kecerdasan buatan (AI), termasuk pengembangan antarmuka yang lebih personal di seluruh ekosistemnya. Langkah ini diharapkan dapat mendorong kembali pertumbuhan ODS ke level high single digit.
Dari sisi aksi korporasi, GOTO berpotensi mempercepat pelaksanaan program buyback saham senilai US$ 200 juta setelah US$ 114 juta telah direalisasikan. Langkah ini didukung oleh arus kas bebas yang kuat dengan adjusted free cash flow mencapai Rp 1,3 triliun pada kuartal I-2026 serta posisi kas yang solid sebesar Rp 23 triliun.
“Secara keseluruhan, prospek GOTO tetap positif dengan rekomendasi beli dan target harga Rp 80 per saham. Kinerja bisnis pembiayaan diperkirakan menjadi pendorong utama pertumbuhan ke depan,” ungkapnya.

