FWA Jadi Game Changer, Mitratel (MTEL) Bidik Pertumbuhan Baru dari Internet Rakyat
JAKARTA, investortrust.id – PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel memiliki potensi pertumbuhan baru melalui pengembangan Internet Rakyat berbasis teknologi Fixed Wireless Access (FWA), di tengah bisnis menara telekomunikasi yang sudah memasuki fase matang.
Selama ini, perhatian investor masih tertuju pada tenancy ratio MTEL yang relatif lebih rendah, dibandingkan kompetitor, yakni di level 1,57x, dengan rincian wilayah Jawa sebesar 1,66x dan luar Jawa 1,5x. Tenancy ini dipicu berlanjutnya strategi ekspansi agresif dalam membangun infrastruktur hingga ke pelosok untuk pemerataan akses digital.
Strategi tersebut kini mulai menunjukkan nilai tambah yang ditunjukkan dari jaringan menara dan fiber MTEL yang tersebar luas, terutama di luar Jawa, diproyeksikan menjadi tulang punggung pengembangan Internet Rakyat berbasis FWA.
Baca Juga
Kinerja Sesuai Ekspektasi, Analis Pasang Target Tinggi Saham Mitratel (MTEL)
Wilayah luar Jawa yang sebelumnya dianggap memiliki monetisasi terbatas, kini justru menjadi fokus ekspansi FWA. Hal ini membuka peluang peningkatan tenancy ratio secara signifikan, seiring kebutuhan operator terhadap infrastruktur menara yang sudah tersedia.
Teknologi FWA sendiri membutuhkan jaringan pemancar yang luas untuk menjangkau wilayah yang belum terlayani fiber optik. Dalam skema ini, menara telekomunikasi menjadi infrastruktur kunci karena setiap ekspansi layanan berpotensi langsung menambah jumlah tenant pada menara eksisting.
Dua operator Internet Rakyat, yakni PT Telemedia Komunikasi Pratama, anak usaha PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI), serta PT Eka Mas Republik (MyRepublic Indonesia), telah memasang target ekspansi agresif.
WIFI menargetkan 5.500 site FWA dengan 5 juta pelanggan. Sementara itu, program pemerintah menargetkan Internet Rakyat menjangkau hingga 34,5 juta rumah menengah ke bawah.
Internet Rakyat
Sementara itu, analis OCBC Sekuritas Gani menilai posisi MTEL sangat strategis dalam menangkap peluang ini. Menurutnya, operator Internet Rakyat tidak memiliki waktu maupun efisiensi biaya untuk membangun menara baru dalam waktu singkat.
“Pasar selama ini melihat tenancy rendah sebagai kelemahan. Padahal dalam konteks FWA, itu justru ruang pertumbuhan. Ketika operator mulai ekspansi ke luar Jawa, mereka dapat langsung memanfaatkan menara yang sudah ada,” ujar Gani.
Baca Juga
Kembangkan Teknologi Jaringan, Mitratel (MTEL) dan ZTE Jalin Kolaborasi Strategis
Ia memperkirakan kebutuhan menara untuk mendukung FWA di Indonesia mencapai sedikitnya 8.000 unit. Dengan kepemilikan menara terbesar, MTEL dinilai berpeluang mendapatkan porsi signifikan dari kebutuhan tersebut.
Dengan tambahan sewa sekitar 2.000 menara pada 2025, tenancy ratio MTEL meningkat dari 1,52x menjadi 1,57x. Gani memproyeksikan rasio tersebut dapat menembus 1,6x ketika implementasi FWA berjalan optimal.
Model bisnis menara yang berbasis shared infrastructure juga memberikan keuntungan dari sisi profitabilitas. Biaya operasional yang relatif tetap membuat setiap tambahan tenant langsung meningkatkan pendapatan dan margin.
“Cost cenderung flat, tetapi revenue naik setiap ada tenant baru. Ini menciptakan operating leverage yang kuat, terutama di area yang sebelumnya belum optimal,” jelasnya.

