Laju Bitcoin Tersendat Saat Nasdaq dan S&P 500 Melonjak ke Rekor Tertinggi Baru
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id –Pergerakan Bitcoin (BTC) menunjukkan tren positif dalam beberapa waktu terakhir, namun masih menghadapi hambatan kuat untuk menembus level psikologis US$ 80.000. Upaya terbaru untuk menembus US$ 75.000 kembali gagal, meski harga sempat menyentuh US$ 75.134 atau naik 1,45% dalam 24 jam terakhir.
Melansir Coindesk, Kamis (16/4/2026) Kinerja Bitcoin yang cenderung tertahan kontras dengan pasar saham Amerika Serikat yang justru mencatatkan reli signifikan. Indeks Nasdaq Composite naik 1,6% dan mencatat kenaikan harian ke-11 berturut-turut hingga menembus rekor di atas 24.000. Sementara itu, S&P 500 juga menguat 0,8% dan mencapai level tertinggi baru di atas 7.000.
Sentimen positif di pasar keuangan global turut mendorong saham-saham berbasis kripto. Saham Coinbase (COIN) naik 6,2%, Robinhood (HOOD) melonjak lebih dari 10%, dan MicroStrategy (MSTR) menguat 4,4%.
Meski demikian, Bitcoin masih berusaha mengejar ketertinggalan setelah sempat anjlok ke kisaran US$ 60.000 pada Februari lalu. Hingga kini, level US$ 75.000 menjadi batas atas yang berulang kali menahan penguatan harga dalam dua bulan terakhir.
Trader Jasper de Maere menyebut adanya tanda-tanda penolakan di area resistance tersebut. Ia menilai level US$ 72.000 menjadi titik krusial yang perlu dipertahankan untuk menjaga peluang breakout ke level yang lebih tinggi.
Apabila harga mampu bertahan di atas level tersebut, Bitcoin berpotensi melanjutkan penguatan. Namun, jika kembali melemah, aset kripto ini diperkirakan akan memasuki fase konsolidasi seiring meredanya volatilitas pasar.
Baca Juga
Harga Bitcoin dan Saham Indokripto Koin Semesta (COIN) Kompak Menguat, Saatnya Bangkit?
Sebelumnya harga Bitcoin mengalami lonjakan pada Senin (13/4/2026), menyusul fenomena short squeeze masif yang dipicu oleh blokade Selat Hormuz oleh Amerika Serikat. Kemudian, Iran merespons dengan kebijakan tak terduga, yakni mewajibkan pembayaran ‘Tol Bitcoin’ bagi seluruh kapal tanker yang melintasi jalur tersebut. Dinamika geopolitik ini tidak hanya memicu likuidasi posisi short senilai ratusan juta dolar, tetapi juga mengukuhkan fungsi kripto sebagai alat strategis dalam ekonomi modern.
Vice President INDODAX, Antony Kusuma, menyatakan bahwa lonjakan harga Bitcoin dan aset kripto lain mencerminkan semakin kuatnya posisi aset kripto dalam merespons tekanan global.
“Kenaikan harga Bitcoin di tengah kombinasi faktor geopolitik, inflasi, dan dinamika pasar menunjukkan bahwa kripto semakin dipandang sebagai alternatif lindung nilai. Fenomena seperti penggunaan Bitcoin dalam aktivitas ekonomi lintas negara menjadi sinyal bahwa adopsi kripto terus berkembang, tidak hanya di level ritel tetapi juga dalam konteks global yang lebih luas,” ujar Antony dalam risetnya, Rabu (15/4/2026).
Langkah Iran mengenakan tarif setara US$ 1 per barel dalam bentuk Bitcoin menciptakan permintaan organik yang masif secara instan. Sistem pembayaran berbasis blockchain ini digunakan Iran untuk memastikan transaksi tetap berjalan dan strategi untuk menghindari sanksi internasional dengan memanfaatkan sistem keuangan di luar jangkauan Amerika Serikat (AS).
Di sisi lain, inflasi (CPI) Amerika Serikat yang naik ke 3,3% pada Jumat (10/4/2026) menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan tren 1–2 tahun terakhir yang rata-rata berada di kisaran 2,4%–3%. Kenaikan harga akibat konflik Timur Tengah meningkatkan ekspektasi bahwa inflasi akan tetap tinggi, sehingga mendorong investor melakukan diversifikasi ke aset alternatif seperti Bitcoin, serta memperkuat narasi sebagai safe haven di tengah tekanan pada nilai mata uang konvensional.
Pada kisaran harga US$ 74.000 - US$ 75.000 saat ini, pergerakan Bitcoin menunjukkan penguatan turut didukung oleh arus masuk dana (inflow) ke ETF Bitcoin spot yang mencapai sekitar US$1,94 miliar sepanjang Maret hingga April. Dukungan likuiditas ini memperkuat struktur harga dan menjaga momentum positif dalam jangka pendek.
Baca Juga
Gagal Tembus US$ 76.000, Bitcoin Masih 40% di Bawah Level Tertingginya Sepanjang Masa
Menurut Antony, dinamika ini menunjukkan bahwa industri kripto mulai memasuki fase baru dalam adopsinya. “Jika sebelumnya kripto lebih banyak dipandang sebagai aset spekulatif, saat ini perannya mulai meluas ke ranah geopolitik dan perdagangan internasional. Ini adalah perkembangan yang penting, karena memperlihatkan bahwa teknologi blockchain memiliki relevansi yang semakin nyata dalam sistem ekonomi global,” tambahnya.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa volatilitas tetap menjadi karakter utama pasar kripto. Faktor lain seperti kebutuhan likuiditas menjelang Producer Price Index dan penjualan pajak di Amerika Serikat, serta perubahan kebijakan moneter berpotensi mempengaruhi pergerakan harga jangka pendek. Oleh karena itu, investor diimbau untuk tetap mengedepankan manajemen risiko dan tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan sentimen sesaat.
Secara historis, April merupakan bulan positif bagi Bitcoin, dengan rata-rata kenaikan 69% sejak 2013 ditutup di zona hijau. Namun, tahun ini pergerakan pasar lebih dipengaruhi faktor geopolitik dan makroekonomi, serta dampak lanjutan dari koreksi harga tahun lalu. Hingga kuartal kedua 2026, Bitcoin tercatat naik sebesar 8,64%.

