Perang Iran vs AS-Israel Uji Ketahanan Ekonomi Indonesia, Pemerintah Harus Segera Ambil Langkah Strategis Ini
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Ketidakpastian ekonomi global yang dipicu perang Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel tengah menguji daya tahan perekonomian Indonesia. Dampak perang di Timur Tengah bisa menjalar luas ke neraca pembayaran dan stabilitas sistem keuangan nasional. Karena itu, pemerintah harus segera menempuh langkah cepat dan strategis.
Hal itu mengemuka dalam diskusi awal pekan Forum Guru Besar dan Doktor Insan Cita bertajuk “Resiliensi Ekonomi Indonesia di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Global” yang digelar secara daring, Senin (6/4/2026) malam. Diskusi yang dipandu Prof Euis Amalia ini menghadirkan ekonom Ariyo DP Irhamna dan Halim Alamsyah.
Ekonom Ariyo DP Irhamna memaparkan, saat ini terdapat empat guncangan utama yang memengaruhi ekonomi Indonesia. Salah satu yang paling terasa adalah lonjakan harga minyak akibat eskalasi konflik di Timur Tengah yang dipicu perang Iran melawan AS dan Israel.
“Kenaikan harga minyak sekitar US$ 10 per barel saja sudah menekan defisit transaksi berjalan Indonesia hingga US$ 3–4 miliar, dan itu langsung tecermin di neraca pembayaran,” ujar dia.
Baca Juga
Iran Belum Buka Selat Hormuz meski Diancam Trump, Harga Minyak Naik
Fakta lain yang tak kalah mengkhawatirkan, menurut Ariyo, adalah ketergantungan energi Indonesia. Dengan produksi minyak hanya sekitar 600 ribu barel per hari (bph), padahal konsumsi mencapai 1,6 juta bph, Indonesia menghadapi defisit sekitar 1 juta bph.
Situasi semakin kompleks karena lebih dari 80% impor minyak Indonesia melewati jalur strategis Selat Hormuz yang sedang diperebutkan Iran dan AS-Israel. “Artinya, sekitar US$ 28 miliar impor BBM kita berada dalam posisi rentan terhadap konflik geopolitik,” kata Ariyo.
Ariyo menegaskan, melihat sektor energi secara parsial bisa menyesatkan. Betul bahwa Indonesia adalah impor net importir minyak. Tapi Indonesia juga net eksportir energi. Batu bara, gas alam cair (LNG), dan minyak sawit mentah (CPO) membukukan total ekspor US$ 54,5 miliar pada 2025.
“Jadi, yang harus dilihat adalah pergeseran net terms of trade, bukan sekadar kenaikan impor BBM,” tandas dia.
Produk Impor dan Capital Outflow
Ariyo Irhamna mengungkapkan, selain energi, tekanan datang dari membanjirnya produk China ke pasar domestik, terutama baja, elektronik, dan tekstil. Kebijakan nontarif yang saat ini diterapkan pemerintah belum efektif membendung arus tersebut.
Di sisi lain, fragmentasi tarif AS dan ketidakpastian kebijakan perdagangan global turut memperburuk kondisi. “Bukan hanya besaran tarifnya yang merusak, tapi ketidakpastiannya juga sangat berdampak,” tutur Ariyo.
Baca Juga
Bursa Asia Ikuti Irama Wall Street, tapi Risiko Konflik Iran Masih Membayangi
Indonesia, kata Ariyo, juga berada dalam posisi sulit akibat decoupling (pemisahan atau ketidaktergantungan) teknologi antara China dan AS. Ketergantungan impor mesin dari China mencapai 34%, sedangkan ekspor ke AS bernilai belasan miliar dolar setiap tahun.
Sementara itu, Halim Alamsyah menyoroti dampak dari sisi keuangan yang lebih berbahaya karena bergerak cepat melalui ekspektasi pasar. Arus modal keluar (capital outflow) Indonesia saat ini merupakan yang terburuk dalam 20 tahun terakhir.
“Dana dari dalam maupun luar negeri keluar dan belum kembali,” ujar dia.
Halim Alamsyah menjelaskan, ketidakpastian global membuat investor cenderung beralih ke aset aman seperti emas, yang sempat menyentuh harga US$ 5.000 per ons sebelum turun ke kisaran US$ 4.600.
“Perang Iran versus AS-Israel ini sebenarnya hanya menambah risiko yang sudah ada. Yang paling cepat bereaksi itu jalur ekspektasi. Begitu investor merasa ada potensi gangguan ekonomi, capital outflow bisa terjadi seketika,” tegas dia.
Krisis Kepercayaan dan Instabilitas
Halim Alamsyah dan Ariyo Irhamna sepakat bahwa skenario terburuk dari kondisi ini bukan hanya defisit atau pelemahan rupiah, melainkan krisis kepercayaan yang dapat memicu instabilitas sistem keuangan.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stagnan di kisaran 5% selama 15 tahun terakhir juga mencuatkan pertanyaan serius. “Jarang ada negara dengan pertumbuhan stagnan seperti itu tanpa menimbulkan keraguan terhadap kredibilitas datanya,” ucap Halim.
Halim Alamsyah mengingatkan, jika tidak ditangani dengan tepat, kombinasi capital outflow, tekanan energi, dan ketidakpastian global berpotensi mendorong inflasi, melemahkan daya beli, hingga mengganggu keberlanjutan fiskal.
Baca Juga
Wall Street Menguat, Harapan Deeskalasi Konflik Timur Tengah Dorong Sentimen Pasar
Halim Alamsyah dan Ariyo Irhamna mendorong pemerintah segera mengambil langkah strategis yang tidak reaktif, melainkan struktural. Pertama, mempercepat transisi energi dan diversifikasi sumber energi untuk mengurangi ketergantungan pada impor minyak. Kedua, memperkuat kebijakan industri dalam negeri agar mampu menghadapi serbuan produk impor.
Ketiga, menjaga stabilitas sistem keuangan dengan memperkuat koordinasi kebijakan moneter dan fiskal guna menahan capital outflow.
Tak kalah penting, pemerintah harus membangun kembali kepercayaan pasar. “Pertanyaannya bukan lagi apakah kita terdampak, tapi seberapa siap kita merespons. Pemerintah harus mampu menjaga ekspektasi publik dan pelaku pasar,” papar Ariyo.
Dengan tekanan global yang kian kompleks, ketahanan ekonomi Indonesia kini bergantung pada ketepatan strategi dan kecepatan respons. “Tanpa itu, gejolak global berpotensi berubah menjadi krisis domestik yang lebih dalam,” tegas Halim.

