OECD Pangkas Proyeksi Ekonomi RI 2026 Jadi 4,8% dari 5%
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) merevisi ke bawah pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk 2026 dan 2027. Revisi proyeksi ini tertuang dalam laporan OECD Interim Report, berjudul Testing Resilience, yang dirilis pekan lalu.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan menurun dari 5% menjadi 4,8% pada 2026 serta dari 5,1% ke 5% pada 2027. Angka proyeksi ini lebih rendah dari target yang tercantum dalam asumsi makro APBN 2026 sebesar 5,4% dan target Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa yang menyebut perekonomian Indonesia bisa tumbuh mencapai 6% pada tahun ini.
Baca Juga
Prabowo Pimpin Ratas Virtual, Seskab Teddy: Arah Baru Kebijakan Energi dan Ekonomi Disiapkan
OECD melaporkan bahwa konflik yang terus berkembang di Timur Tengah menimbulkan biaya kemanusiaan dan ekonomi bagi perekonomian seluruh negara. Kondisi ini menguji ketahanan perekonomian global.
“Kami memproyeksikan pertumbuhan global akan tetap kuat, tetapi lebih lambat dibandingkan sebelum adanya konflik, dengan inflasi yang jauh lebih tinggi,” kata Sekretaris Jenderal OECD, Mathias Cormann dikutip, Senin (30/3/2026).
Mathias mengatakan bahwa setiap kebijakan untuk meredam dampak lonjakan harga energi sebaiknya diarahkan ditargetkan kepada pihak yang membutuhkan dan bersifat sementara.
“Peningkatan pembangkit energi terbarukan dan efisiensi energi dapat memperkuat keamanan ekonomi sekaligus meningkatkan ketahanan terhadap guncangan harga di masa depan,” jelas dia.
OECD melihat pertumbuhan ekonomi global tetap solid pada 2026. Kondisi tersebut ditopang kinerja solid sektor jasa dan manufaktur. Selain itu, industri yang berhubungan dengan teknologi terus berkembang pesat, terutama di kawasan Asia dan Amerika Serikat.
“Belanja modal untuk 2026 dari perusahaan teknologi besar yang terdaftar di bursa Amerika Serikat dan China juga meningkat lebih lanjut,” bunyi laporan tersebut.
Perdagangan barang global juga terus berkembang dengan laju stabil sepanjang paruh kedua pada 2025. Ekspor terkait teknologi dari ekonomi Asia tumbuh signifikan, sejalan dengan kuatnya investasi teknologi di negara mitra dagang. Perdagangan barang global tetap kuat pada awal 2026, dengan ukuran survei PMI (purchasing manager index) terhadap pesanan ekspor manufaktur global pada Februari 2026 mencapai level tertinggi sejak November 2021.
Baca Juga
Purbaya Optimistis Pertumbuhan Ekonomi Tembus 5,5% di Kuartal I 2026
Perubahan tarif resiprokal yang ditetapkan AS pada pertengahan November 2025 menjadi salah satu langkah pengurangan hambatan bagi pertumbuhan global akibat tarif tinggi.
Sementara itu, dari sisi inflasi, OECD memproyeksikan negara-negara yang tergabung dalam G20 mengalami inflasi 1,2% lebih tinggi dari yang diproyeksikan yaitu 4% pada 2026. Angka ini kemudian diproyeksikan mengalami penurunan menjadi 2,7% pada 2027 dengan asumsi tekanan harga energi telah memudar.

