BI Tutup Peluang Turunkan Suku Bunga Acuan, Ini Alasannya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Bank Indonesia (BI) masih menghitung mengenai dampak perang yang terjadi di Teluk Persia. Salah satu yang menjadi acuan perhitungan yaitu harga minyak dunia dan rambatannya terhadap pertumbuhan ekonomi dunia dan inflasi global. Selain itu, dampaknya terhadap pasar keuangan global.
Gubernur BI, Perry Warjiyo menjelaskan, dengan mempertimbangkan kondisi geopolitik global, maka terlalu awal bagi Bank Indonesia untuk menempuh langkah-langkah kebijakan. Bahkan, BI menghilangkan kemungkinan penurunan suku bunga acuan.
“Oleh karena itu, memang dampak perang Timur Tengah ini, kenapa kami dalam pernyataan ini tidak lagi menyampaikan kemungkinan penurunan suku bunga,” kata Perry saat paparan Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Maret, yang digelar daring, Selasa (17/3/2026).
Perry mengatakan upaya menahan suku bunga acuan atau BI Rate untuk memperkuat intervensi dan kecukupan cadangan devisa.
Baca Juga
Perry melihat perang di Teluk Persia menyebabkan aliran modal portofolio asing keluar dari negara-negara emerging market, termasuk Indonesia. Selain itu, menguatnya dolar Amerika Serikat (AS) menyebabkan tekanan terhadap nilai tukar mata uang di emerging market.
“Dan demikian juga terhadap tingginya yield US Treasury di AS yang berdampak tingginya suku bunga dan yield obligasi pemerintah di berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia,” kata dia.
Perry menjelaskan skenario-skenario ini menjadi instrumen bagi BI untuk mengkalibrasi kebijakan intervensi untuk stabilisasi nilai tukar rupiah, kecukupan cadangan devisa, dan juga respons suku bunga.
“Kalibrasi optimalisasi antara ketiganya ini tergantung pada seberapa jauh eskalasi perang Timur Tengah akan berlanjut dan dampaknya terhadap harga minyak, pertumbuhan ekonomi, dan inflasi global, dampaknya dolar Amerika, aliran portofolio keluar dari emerging market, dan tingginya [imbal hasil] US Treasury,” kata dia.

