Suku Bunga Acuan Sudah Turun 125 Bps, BI Buka Opsi Pelonggaran Lanjutan pada 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Bank Indonesia (BI) memberi sinyal masih memiliki ruang melonggarkan suku bunga acuan pada 2026, meski tekanan global dan transmisi kebijakan ke sektor perbankan belum sepenuhnya berjalan mulus.
Setelah memangkas BI rate secara agresif sebesar 125 basis poin sepanjang 2025, fokus otoritas moneter kini bergeser pada efektivitas transmisi dan stabilitas di tengah ketidakpastian global.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menegaskan bahwa kebijakan suku bunga tidak bisa dilepaskan dari dinamika global, terutama arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Pergantian Gubernur The Fed di bawah pemerintahan Donald Trump dinilai berpotensi mengubah lanskap kebijakan global, meski realisasinya masih sangat data dependent.
Baca Juga
“Kalau di global suku bunga globalnya tetap berada pada posisi tinggi, tentu itu akan mengurangi keluasaan negara lain ya. Bukan hanya Indonesia. Terganggu stabilitasnya,” kata Destry dalam acara Economic Outlook 2026 di Jakarta, Selasa (10/2/2026).
Dari sisi domestik, BI menilai likuiditas di sistem keuangan sebenarnya sudah sangat memadai. Base money (M0) tumbuh dua digit di atas 11%, sementara uang beredar luas (M2) juga mencatat pertumbuhan tinggi. Perbankan pun dinilai memiliki likuiditas yang cukup untuk mendorong ekspansi kredit.
Tak hanya mengandalkan suku bunga, BI sejak 2025 juga mengoptimalkan instrumen makroprudensial untuk memperlonggar likuiditas. Rasio giro wajib minimum (GWM) perbankan secara aturan berada di level 9%, tetapi secara efektif hanya sekitar 3,5%. Artinya, sekitar 5,5% dana yang seharusnya disimpan di BI dikembalikan ke perbankan.
“Sehingga bank itu seolah punya tambahan dana sampai Rp 388 triliun. Nah itu adalah untuk bank supaya dia punya likuditas sehingga dia bisa menyalurkan. Nah jadi itu kami lakukan untuk menambah likuditas,” ungkapnya.
Kendati demikian, meski BI rate telah turun signifikan, transmisi kebijakan moneter dinilai belum sepenuhnya merata. Penurunan suku bunga relatif cepat terasa di pasar uang dan pasar obligasi, dengan yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun sempat turun hingga mendekati 6% dari level 7%.
Di pasar uang, suku bunga kini bergerak di kisaran 4,75%, mendekati BI rate. Namun, penurunan suku bunga kredit perbankan masih berjalan lambat. “Jadi, kalau lending rate belum turun, berarti ada bottleneck di perbankan yang perlu dicermati,” ujar Destry.
Baca Juga
BI Pertahankan BI Rate di 4,75% pada Januari 2026, Fokus Stabilkan Rupiah
Meski demikian, BI mulai melihat titik balik (turning point) pada penyaluran kredit. Pada Desember 2025, pertumbuhan kredit tercatat kembali menguat di atas 9%. Tantangan berikutnya adalah menjaga kesinambungan pertumbuhan kredit tersebut agar benar-benar menopang aktivitas ekonomi.
Soal ruang penurunan suku bunga ke depan, BI menegaskan masih ada peluang, tetapi sepenuhnya bergantung pada data. Mandat BI dalam UU P2SK menempatkan stabilitas—nilai tukar, sistem keuangan, dan sistem pembayaran—sebagai prioritas utama, dengan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

