Fokus Perkuat Ekonomi Domestik, Purbaya: Geopolitik di Luar Kendali Saya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Faktor geopolitik masih menjadi salah satu ancaman perekonomian Indonesia pada 2026. Belum berakhirnya perang Rusia-Ukraina, kondisi Timur Tengah, hingga ancaman China terhadap Taiwan menjadi pemicunya.
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa melihat kondisi geopolitik di luar kendalinya. Menurut analisisnya, China belum pasti menyerang Taiwan. Dugaan ini muncul karena banyak investor di Taiwan berasal dari China. “Masalah geopolitik di luar kendali saya,” kata Purbaya, dikutip Jumat (2/1/2026).
Purbaya lebih memilih menempatkan fokusnya untuk memperbaiki perekonomian domestik. “Saya akan fokus ke kebijakan dalam negeri saja dan kebijakan-kebijakan yang memperkuat daya saing kita di pasar luar negeri,” kata dia.
Fokus ini muncul karena pasar domestik memberikan kontribusi sebesar 90% ke perekonomian nasoonal. Dengan pasar domestik kuat, kata Purbaya, perekonomian dalam negeri tetap terjaga meski terjadi fragmentasi global.
Baca Juga
Membuka Tahun dengan Melemah, Rupiah dalam Ancaman Volatilitas Ekonomi Global
Ekonom Departemen Ekonomi Universitas Andalas, Syafruddin Karimi melihat stabilitas global hanya terlihat meyakinkan di permukaan pada 2026. Proyeksi pertumbuhan dunia berbasis paritas daya beli (purchasing power parity/PPP) bergerak sekitar 2,9% pada 2026 setelah 3,0% pada 2025, lalu kembali ke 3,0% pada 2027.
Menurut Syafruddin, dunia memang stabil, tetapi tidak merata. Di balik rata-rata global, mesin pertumbuhan bergeser ke Asia, sementara ekonomi maju tetap berjalan lambat. Pada titik ini Indonesia harus berhenti menunggu arus global dan mulai membangun kekuatan dari dalam dengan investasi produktif, nilai tambah ekspor, dan diversifikasi pasar yang disiplin.
Dari perspektif Indonesia, inti persoalannya bukan memilih ke blok asia atau barat, melainkan mengatur ulang cara Indonesia mengambil manfaat dari keduanya. Stabilitas global 2026 memberi ruang untuk membangun kekuatan, tetapi ruang itu hanya akan berguna jika Indonesia memanfaatkannya untuk memperbaiki mesin domestik.
“Proyeksi Indonesia yang stabil dari 4,9% pada 2025 ke 5,0% pada 2026 dan 5,1% pada 2027 menunjukkan jalur yang realistis, yakni pertumbuhan yang tidak meledak, tetapi konsisten,” ujar Syafruddin.
Menurut Syafruddin, kekuatan pertama yang harus dibangun Indonesia adalah investasi produktif yang benar-benar meningkatkan kapasitas. Indonesia perlu memperbesar kontribusi investasi yang memperdalam struktur industri, kawasan industri yang siap bangun, kepastian perizinan yang terukur, energi yang andal, serta logistik yang mengurangi waktu dan biaya. Investasi seperti ini bukan jargon.
“Investasi menentukan apakah Indonesia bisa masuk lebih dalam ke rantai pasok Asia atau hanya menjadi pemasok bahan baku,” kata dia.
Ketika Korea Selatan menunjukkan rebound pertumbuhan menuju 1,8–1,9% pada 2026–2027, sinyal siklus teknologi membaik. Indonesia bisa memanfaatkan momentum ini untuk menarik manufaktur menengah.
Kekuatan kedua adalah menaikkan kelas ekspor. Perdebatan lama tentang ekspor sering berhenti pada angka nilai total, padahal yang menentukan daya tahan pertumbuhan adalah komposisi dan kualitas.
Baca Juga
Ekonomi Indonesia 2025 Tetap Tangguh, Stabilitas Makro Terjaga
Dalam peta global 2026, blok barat tetap penting, tetapi lebih sebagai pasar premium yang menuntut standar dan traceability. Ini berarti Indonesia harus memenangkan pangsa pasar melalui kualitas, sertifikasi, dan konsistensi pasokan. Sementara itu, pasar negara berkembang Asia memberi peluang volume dan pertumbuhan kelas menengah, tetapi menuntut efisiensi dan daya saing harga.
“Menggabungkan dua arah ini hanya mungkin jika Indonesia menekan biaya logistik, memperkuat fasilitas pengujian mutu, mempercepat sertifikasi, dan memperluas pembiayaan ekspor,” kata dia.
Kekuatan ketiga Indonesia adalah diversifikasi pasar dan produk. Perlambatan China memberi pesan bahwa satu pasar bisa berubah dan mempengaruhi harga komoditas, kompetisi manufaktur, hingga sentimen investor. Di sisi lain, Amerika Latin tumbuh menengah tetapi volatil.

