Ekonomi Indonesia Diperkirakan Tumbuh 5,2% pada 2026, Ini Faktor Pendukungnya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - DBS Group Research memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai sekitar 5,2% pada tahun 2026. Senior Economist DBS Bank Radhika Rao mengungkapkan, hal ini didukung kebijakan fiskal yang lebih ekspansif, koordinasi kebijakan moneter yang akomodatif, serta perbaikan iklim investasi melalui pendekatan “Sumitronomics.”
"Untuk 2026, kami memperkirakan pertumbuhan rata-rata 5,2% yoy, didukung oleh kebijakan fiskal yang ekspansif. Pergantian kepemimpinan di Kementerian Keuangan dipercepat dengan langkah-langkah pro-pertumbuhan, termasuk paket stimulus ekonomi “8+4+5” senilai Rp 16,2 triliun, penyaluran Rp 200 miliar dari BI ke bank-bank BUMN untuk menurunkan biaya dana, serta pemanfaatan ruang fiskal yang tersedia," ujar Radhika dalam keterangan yang diterima, Selasa (23/12/2025).
Secara keseluruhan, Radhika menjelaskan bahwa pergeseran dari ortodoksi fiskal, sentimen yang lebih solid, dukungan stimulus yang lebih tinggi, serta kondisi moneter yang lebih longgar menjadi faktor yang kondusif bagi pemulihan. PDB nominal diperkirakan tumbuh rata-rata 7,2%–7,4% seiring deflator yang lebih tinggi, sehingga rasio-rasio makro tetap terjaga.
Baca Juga
BI Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2025 dalam Rentang 4,7%-5,5%
"Di tingkat yang lebih luas, kami memperkirakan pemerintah akan berusaha untuk mengubah tren pertumbuhan dari tingkat stabil 5% yang tercatat dalam dekade terakhir (kecuali tahun-tahun pandemi Covid-19). Perpindahan menuju model yang lebih adil akan menjadi kunci untuk kohesi sosial," ungkap Radhika.
Lebih lanjut, Radhika menyebut, rencana untuk secara berkelanjutan meningkatkan pertumbuhan menuju 6% dan 8% selanjutnya akan memerlukan reformasi yang tegas dan pergeseran orientasi pertumbuhan menuju investasi manufaktur, selain meningkatkan modal manusia untuk memanfaatkan dividen demografis. Dalam catatan outlook tahun lalu, DBS telah menguraikan kerangka kerja tiga ‘C’ yang akan membantu dalam proyeksi jangka menengah, memanfaatkan ekspor dan konfigurasi ulang China +1, investasi modal dan rasionalisasi fiskal, konsumsi dan peningkatan sumber daya manusia.
"Aliran diversifikasi perdagangan yang sedang berlangsung menyediakan latar belakang yang ideal bagi otoritas Indonesia untuk menarik aliran investasi," jelas Radhika.
Baca Juga
Perbanas Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Capai 5,06% di Tahun 2026
Di sisi lain, Radhika membeberkan bahwa prospek ke depan bergantung pada kemampuan ekonomi untuk beralih dari tahap perencanaan ke tahap implementasi operasional, memastikan bahwa reformasi strategis menghasilkan manfaat nyata dalam pertumbuhan, produktivitas, dan investasi. Hal ini memerlukan implementasi yang terkoordinasi di seluruh sektor industri dan lembaga, serta dukungan kebijakan yang tepat.
Menurut Radhika, perubahan yang akan datang harus dilihat melalui kerangka kerja ‘Sumitronomics’. Kerangka kerja ini dinamai berdasarkan Sumitro Djojohadikusumo, seorang mantan pejabat senior, ekonom terkemuka, dan almarhum ayah Presiden Prabowo.
"Kerangka kerja ini mendukung peran yang lebih besar bagi industrialisasi dan kegiatan manufaktur, selain penggunaan kebijakan fiskal untuk mendorong pertumbuhan," terang Radhika.
Radhika menambahkan, seiring dengan memasuki tahun kedua pemerintahan Prabowo-Gibran, DBS mengharapkan orientasi yang jelas untuk meningkatkan pertumbuhan, dengan perpaduan kebijakan yang terus berkembang untuk memperkuat koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter. Dikatakan Radhika, pasar keuangan telah memberikan kepercayaan kepada pasar valuta asing dan obligasi, meskipun investor tetap sensitif terhadap perkembangan ekonomi politik.
Sementara itu, dari sisi nilai tukar, DBS memperkirakan USD/IDR berada di kisaran 16.000–16.900 pada 2026, dengan stabilitas makroekonomi tetap terjaga meskipun dipengaruhi dinamika dan risiko global.
"Skenario terburuk kami memperkirakan USD/IDR akan diperdagangkan di atas 17.000 akibat guncangan pertumbuhan global dan memburuknya risiko perdagangan," pungkas Radhika.

