Mau Ekonomi Tumbuh 8%? Lingkungan Jangan Dikorbankan
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Indonesia membutuhkan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi untuk memperluas lapangan kerja dan menekan pengangguran. Namun, agenda tersebut dinilai harus dicapai tanpa mengorbankan keberlanjutan lingkungan dan aspek sosial. Tantangan ini menjadi krusial di tengah ambisi pemerintah mendorong laju ekonomi ke level yang lebih agresif atau 8% dalam beberapa tahun ke depan.
Ekonom Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia Akhmad Akbar Susamto mengatakan pertumbuhan ekonomi yang tinggi hanya akan berkualitas jika memperhatikan keseimbangan antara ekonomi, lingkungan, dan sosial. Pengalaman global dan domestik menunjukkan bahwa ekspansi ekonomi yang mengabaikan keberlanjutan justru menciptakan masalah baru di kemudian hari.
“Saya kita yang menjadi pelajaran bagi kita hari-hari ini (adalah) aspek lingkungan, aspek sustainabilitas, dan juga aspek sosial,” kata Akbar saat diskusi yang digelar Kafegama dan dipantau secara daring, Minggu (21/12/2025).
Akbar menegaskan, pertumbuhan ekonomi tidak boleh meminggirkan kelompok masyarakat marjinal dan rentan. Menurutnya, pembangunan yang hanya mengejar angka pertumbuhan berisiko memperlebar kesenjangan jika tidak disertai kebijakan inklusif yang melibatkan kelompok berpenghasilan rendah.
Baca Juga
BI Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2025 dalam Rentang 4,7%-5,5%
Terkait target pertumbuhan ekonomi sebesar 8%, Akbar menilai sasaran tersebut masih sangat menantang. Berdasarkan data historis sejak 1961 hingga 2024, Indonesia hanya mencatatkan pertumbuhan ekonomi 8% atau lebih dalam empat kesempatan. “Hanya empat kali dalam empat tahun, dari 70 tahun lebih sejarah kita,” kata dia.
Ia mengingatkan bahwa terakhir kali Indonesia menikmati pertumbuhan ekonomi tinggi mendekati 7% terjadi pada 1996. Dalam satu dekade terakhir, capaian tersebut hampir tidak pernah terulang, kecuali pada periode tertentu yang dipengaruhi faktor khusus. “Kita pernah mencapai sedikit di atas 7% karena (pandemi) Covid-19. Gara-gara nilai baseline itu rendah pada waktu itu. Kita masih ingat pada triwulan II-2021,” ujar Akbar.
Untuk 2026, Akbar memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia masih bertahan di sekitar 5%. Ia menyebut level tersebut sebagai kondisi normal, mengingat selama bertahun-tahun perekonomian nasional cenderung bergerak di kisaran yang sama tanpa lompatan signifikan.
Proyeksi sejumlah lembaga ekonomi juga menguatkan pandangan tersebut. Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan berada pada kisaran 4,9% hingga 5,1%. Bank Dunia dalam laporan Indonesia Economic Prospects yang terbit Desember 2025 memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 5% pada 2025 dan 2026, sebelum meningkat terbatas ke 5,2% pada 2027.
Menurut Bank Dunia, tekanan terhadap daya beli masyarakat, terutama konsumen kelas menengah, menjadi faktor utama yang menahan akselerasi pertumbuhan. Meski inflasi masih berada dalam sasaran Bank Indonesia (BI) di level 2,5% plus minus 1%, volatilitas harga pangan dan energi dinilai tetap menjadi tantangan struktural.
Baca Juga
Apindo Dukung Kebijakan WFA untuk ASN, Tapi Jangan Ganggu Jalannya Perekonomian
Lembaga tersebut juga menyoroti sejumlah risiko sisi bawah terhadap perekonomian. Risiko tersebut mencakup penurunan lanjutan upah riil yang menekan konsumsi rumah tangga, meningkatnya ketegangan perdagangan global, serta potensi pembalikan kondisi keuangan eksternal. “Di dalam negeri, pendapatan lebih rendah dari ayng direncanakan dapat menguji kepatuhan terhadap aturan fiskal dan membatasi belanja negara,” bunyi laporan Bank Dunia.
Di sisi lain, Bank Dunia melihat adanya peluang dari risiko sisi atas yang dapat mendorong pertumbuhan lebih tinggi. Faktor pendorong tersebut, antara lain peningkatan permintaan dari mitra dagang utama, percepatan implementasi reformasi deregulasi bisnis, serta penguatan kebijakan perdagangan dan investasi yang tengah berjalan.

