Kurs Rupiah Dibuka Melemah ke Rp 16.227,7/USD
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah dibuka melemahterhadap dolar Amerika Serikat pada Senin (22/4/2024) pagi. Sebagaimana dilansir Xe, mata uang Garuda bergerak terkoreksi ke posisi Rp 16.227,7 terhadap greenback.
Hingga pukul 9.00 WIB, rupiah melemah 0,14% dibanding perdagangan di pasar spot pada hari sebelumnya. Kurs ini diambil dari posisi rata-rata.
“Ketidakpastian kebijakan (suku bunga acuan) The Fed Amerika Serikat dan konflik geopolitik (di Timur Tengah) menjadi sentimen negatif yang membebani nilai tukar rupiah dan laju IHSG. Hari ini, pelaku pasar domestik mencermati rilis neraca perdagangan (Indonesia) periode Maret 2024,” kata analis Cheril Tanuwijaya membeberkan hasil analisis Tim Riset InvestasiKu, Jakarta, Senin (22/4/2024).
| Perkembangan transaksi neto asing di SBN rupiah yang dapat diperdagangkan hingga 18 April 2024. Infografis: Riset Investortrust.id. |
Sementara itu, dana asing mengalir keluar masif dari pasar keuangan RI sepekan terakhir setelah libur panjang Lebaran, dengan mencatatkan net sell sekitar Rp 22,3 triliun berdasarkan data Bursa Efek Indonesia dan Bank Indonesia. Nonresiden mencatatkan penjualan neto di bursa saham Rp 4,51 triliun hingga 19 April 2024, sedangkan di pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) hingga 18 April masing-masing sebanyak Rp 9,79 triliun dan Rp 8,00 triliun.
“Pada Jumat (19/4/2024), asing mencatatkan net sell sekitar Rp 0,84 triliun. Sedangkan secara year to date, asing masih mengakumulasi pembelian bersih saham di BEI senilai Rp 12,12 triliun,” papar keterangan Bursa Efek Indonesia, Jumat (19/4/2024) sore.
Sentimen Global
Dari sentimen pasar global, para pelaku pasar keuangan mencermati dampak serangan Israel ke Iran pada Jumat 19 April 2024 pagi hari WIB. Pihak Iran mengklaim bahwa dampak serangan ini relatif minim dan semua rudal Israel berhasil ditangkis turun.
“Pelaku pasar juga mencermati pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) AS oleh Senat AS pekan depan, terkait kebijakan larangan Tiktok di AS, sehingga Bytedance harus menjual sahamnya dalam waktu 1 tahun. Selain itu, mengenai paket bantuan AS untuk Taiwan, Ukraina, dan Israel,” kata Cheril.
Di hari ini, pelaku pasar juga akan mencermati keputusan kebijakan suku bunga Bank Sentral Tiongkok (PBOC) beserta proyeksi yang disampaikannya. Selain itu, komentar Gubernur Bank Sentral Eropa (ECB).
Baca Juga
Harga Emas Antam Turun Jadi Rp 1.343.000 di Awal Pekan, Saatnya Beli?
Yen cs Menguat
Sementara itu, nilai tukar hard currency yang lain bergerak bervariasi terhadap dolar AS Jumat pagi ini. British pound menguat 0,01% ke level 0,87/USD. Euro juga menguat 0,07% ke level 0,93/USD.
Kurs yen Jepang menguat 0,02% ke level 154,62/USD. Demikian pula nilai tukar dolar Kanada menguat 0,50% ke level 1,372/USD dan krona Swedia menguat 0,22% ke level 10,89/USD.
Baca Juga
Dana Asing Keluar Rp 22,3 Triliun dari Pasar Keuangan RI Sepekan, Yield SBN Nyaris 7%
Namun, kurs franc Swiss melemah 0,01% ke level 0,91/USD.
Yield SBN Mendekati 7%
Sementara itu, Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Erwin Haryono mengatakan, sepanjang tahun 2024 berdasarkan data setelmen hingga 18 April 2024 yang dicatat Bank Sentral RI, nonresiden jual neto Rp 38,66 triliun di pasar SBN. “Namun masih beli neto Rp 15,12 triliun di pasar saham, dan beli neto Rp 12,90 triliun di SRBI hingga 18 April,” katanya dalam keterangan di Jakarta, 19 April 2024.
Erwin menjelaskan nilai tukar mata uang Garuda tercatat melemah terhadap greenback pada Jumat pekan lalu. "Pada akhir hari Kamis, 18 April 2024, rupiah ditutup pada level (bid) Rp 16.170 per dolar AS, sedangkan yield SBN 10 tahun naik ke 6,93%. Sementara itu, DXY menguat ke level 106,15, demikian pula imbal hasil US Treasury Note 10 tahun naik ke level 4,633%. Namun, pada pagi hari Jumat, 19 April 2024, yield SBN 10 tahun turun di 6,91%," paparnya.
DXY atau Indeks Dolar adalah indeks yang menunjukkan pergerakan dolar AS terhadap 6 mata uang utama (hard currencies) lainnya, yakni euro (EUR), yen Jepang (JPY), pound sterling Inggris (GBP), dolar Kanada (CAD), krona Swedia (SEK), dan franc Swiss (CHF). Sedangkan UST merupakan surat utang yang dikeluarkan pemerintah AS dengan tenor 1-10 tahun. (Disclaimer on)

