The Fed Mau Turunin Suku Bunga, Rupiah Langsung Semringah
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Rupiah menguat tipis pada perdagangan Kamis (16/10/2025) pagi seiring pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) terhadap sejumlah mata uang utama dunia. Nilai tukar rupiah naik 4 poin atau 0,02% ke posisi Rp 16.572 per dolar AS setelah indeks dolar AS (DXY) turun 0,27% ke level 98,52.
Pelemahan DXY mendorong penguatan mata uang di kawasan Asia. Yen Jepang naik 0,18%, disusul yuan China dan baht Thailand masing-masing menguat 0,04% dan 0,30%. Won Korea Selatan juga menguat 0,18%, sementara ringgit Malaysia dan dolar Singapura naik masing-masing 0,15% dan 0,19%.
Di sisi lain, dolar AS juga tertekan terhadap dua mata uang utama di Eropa. Greenback melemah 0,15% terhadap euro Uni Eropa dan 0,20% terhadap poundsterling Inggris.
Baca Juga
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro menjelaskan bahwa penurunan DXY terjadi setelah munculnya usulan dari Menteri Keuangan AS Scott Bessent. Ia mengusulkan agar Washington memperpanjang jeda tarif tinggi terhadap produk-produk China, dengan imbalan agar Beijing menunda pembatasan ekspor elemen tanah jarang (rare earth elements).
“Langkah ini mengikuti eskalasi yang diperbarui, dengan Presiden AS Donald Trump pada akhirnya mengancam embargo minyak goreng sebagai respons atas boikot kedelai China,” kata Andry di Jakarta, Kamis.
Dari sisi kebijakan moneter, Ketua The Federal Reserve Jerome Powell pada Selasa (14/10/2025) memperingatkan meningkatnya risiko terhadap lapangan kerja, memperkuat ekspektasi pasar atas pelonggaran kebijakan suku bunga. Saat ini, probabilitas penurunan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada bulan ini mencapai sekitar 97%.
Sentimen Domestik
Dari dalam negeri, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Rabu (15/10/2025) ditutup melemah 0,19% ke level 8.051,17. Investor asing mencatatkan arus keluar modal sebesar Rp 1,4 triliun.
Baca Juga
Sementara itu, yield obligasi Pemerintah Indonesia tenor 10 tahun turun 5,3 basis poin ke 6,02%, sejalan dengan penurunan yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sebesar 2,2 basis poin ke 4,93%.
Menurut Andry, kombinasi faktor eksternal dan arus keluar asing masih menjadi tantangan bagi rupiah dalam jangka pendek. “Pandangan kami, USD/IDR hari ini akan bergerak di kisaran Rp 16.532 hingga Rp 16.620 per dolar AS,” ujarnya.

