BPS Ajak Kepala Daerah Waspadai Inflasi 5 Komoditas Ini
JAKARTA, investotrust.id - Plt Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti mengajak kepala daerah untuk mewaspadai lima komoditas yang memicu inflasi saat Ramadan dan Idul Fitri. Lima komoditas tersebut antara lain, beras, cabai merah, daging ayam ras, telur ayam ras, dan minyak goreng.
“Ini lima komoditas yang perlu kita waspadai,” kata Amalia di acara Rakornas Pengamanan Pasokan dan Harga Pangan Jelang Puasa dan Idulfitri 2024, di Jakarta, Senin (04/03/2024).
Amalia mengatakan dari inflasi Februari 2024 secara bulanan, lima komoditas tersebut telah menunjukkan pergerakan harga yang perlu diwaspadai. Beras misalnya, memberi andil inflasi sebesar 0,21% dengan inflasi mencapai 5,32%.
“Kalau kita lihat bagaimana inflasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau dan transportasi ini sudah kita sampaikan inflasi kedua kelompok ini selalu meningkat periode Ramadan dan Idulfitri,” ujar dia.
Amalia mengatakan inflasi Idul FItri didominasi volatile food dan administered price. Dia menyebut saat Ramadan, harga daging ayam ras minyak goreng menyumbang inflasi. Tetapi, kemudian saat terjadi Hari Raya Idul Fitri yang menyumbang utama inflasi adalah tarif angkutan udara.
Baca Juga
Mendagri Imbau Kepala Daerah Antisipasi Inflasi Menjelang Ramadan
“Kalau kita perhatikan terjadi di setiap bulan saat Hari Raya Idul Fitri penyumbang utama atau beri andil inflasi besar selalu transportasi terutama tarif angkutan udara,” kata dia.
Berdasar data BPS, kata Amalia, inflasi saat Ramadan dan Idulfitri memiliki pola. Pada 2019, misalnya, puncak inflasi terjadi pada awal Mei. Kemudian, pada awal 2020 saat pandemi Covid-19 sedang melanda, inflasi tercatat tidak terjadi tekanan karena daya beli masyarakat tidak terlalu tinggi.
“Pada 2021 inflasi mulai terasa di April dan kemudian naik memuncak di Mei saat Hari Raya Idul Fitri, tetapi catatan di sini puncak inflasi biasanya terjadi saat hari raya dan akhir tahun,” kata dia.
Pada 2022, tekanan inflasi sudah terasa sejak Maret. Di mana awal Ramadan terjadi pada April. Pada tahun ini, puncak inflasi terjadi pada awal Ramadan. “Begitu Idul FItri ada pengendalian bahan komoditas cukup baik, inflasi mulai mereda,” kata dia.
Sementara itu, pada 2023, inflasi mulai terasa di Maret, namun puncaknya Hari Raya Idul FItri. Untuk itu, melihat pola ini, Amalia mengajak para pemimpin daerah dan pemangku kepentingan yang ada untuk mengantisipasi harga komoditas lebih awal. Sehingga, tekanan inflasi saat Ramadan dan Hari Raya tidak terlalu besar.
“Kalai kita bisa antisipasi lebih awal, tekanan inflasi di Ramadan dan Hari Raya Tahun ini mudah-mudahan-mudahan tidak terlalu besar tekanannya dibanding tahun lalu,” ujar dia.
Baca Juga

