BI Optimistis Ekspor RI Tetap Tumbuh meski Dihantam Tarif AS 19%
Poin Penting
|
YOGYAKARTA, investortrust.id - Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI) Juli Budi Winantya meyakini ekspor Indonesia akan semakin meningkat meski dihantam tarif impor atau resiprokal dari Amerika Serikat (AS) sebesar 19%.
Keyakinan tersebut diungkapkan lantaran Indonesia mendapatkan tarif impor dari Negara Paman Sam tersebut yang nilainya lebih rendah dibandingkan negara-negara lainnya, seperti China, Vietnam dan juga negara Eropa.
Baca Juga
Kadin: Dubai Jadi Hub Perdagangan yang Bisa Bikin Ekspor Melesat
"Kita yakini ke depan ekspornya masih akan tetap baik. Memang, secara umum karena tarifnya lebih rendah, confident-nya lebih tinggi, ya tentunya kita harapkan ekspornya ke depan akan juga meningkat," ucapnya di Yogyakarta, Jumat (22/8/2025).
Kendati demikian, Juli juga tidak menampik ada risiko penerapan tambahan tarif impor yang akan dikenakan pada negara yang terbukti melakukan transhipment. Hal ini telah dilayangkan AS terhadap Vietnam dengan besaran tarif 40%. "Memang masih ada risiko terkait dengan additional tarif untuk transhipment, tetapi memang secara umum tarifnya lebih rendah,” ungkap Juli.
Adapun berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor sepanjang Januari-Juni 2025 tercatat sebesar US$135,41 miliar, lebih tinggi dibandingkan impor yang mencapai US$115,94 miliar.
Baca Juga
Lesunya Harga Komoditas Andalan Ekspor Jadi Tantangan Ekonomi RI 2026
Hal ini berarti neraca perdagangan barang Indonesia mengalami surplus US$19,48 miliar sepanjang periode Januari hingga Juni 2025, atau naik US$ 3,90 miliar dibanding periode yang sama tahun lalu.
Sementara itu, BPS juga mencatat, nilai ekspor pada periode Januari-Juni 2025 melonjak sebesar 7,70% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. BPS menjelaskan, peningkatan ini terutama didorong oleh sektor industri pengolahan, yang mencatat nilai ekspor sebesar US$ 107,60 miliar, atau naik 16,57%.

