BI Mau Bikin Standarisasi UMKM Hijau, Buat Apa?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Bank Indonesia (BI) mengungkap keinginan untuk menciptakan standarisasi sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terkait kesadaran terhadap ekonomi hijau.
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti mengatakan, standarisasi tersebut nantinya akan digunakan sebagai acuan bagi UMKM untuk mendapatkan fasilitas pembiayaan dari perbankan. Ia pun mengajak pemangku kepentingan, seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan perbankan untuk bersama merumuskan standarisasi tersebut.
"Jadi kita pakai satu standar sama-sama, tinggal nanti kita harus diskusi untuk mengerucut pada satu metodologi, indikator, instrumen, atau apapun ya yang sama, itu cita-cita kami. Dan kami berharap nanti tentunya dari akademisi juga bisa membantu untuk itu," kata Destry dalam rangkaian agenda Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2025 di Jakarta, Jumat (8/8/2025).
Secara umum, Destry menilai ada permasalahan mendasar yang dialami UMKM untuk menggerakkan sektor ekonomi hijau. Pertama, adalah minimnya pemahaman para pengusaha UMKM terhadap proses binsis untuk menciptakan ekonomi hijau. Dan kedua, kata dia, adalah terkait dengan pembiayaan.
"Tapi dengan adanya insetif yang kami berikan dalam bentuk kebijakan instentif likuiditas makroprudensial kepada bank-bank dan juga adanya willingness dari bank Untuk juga membiayai. Kami berharap masalah pembiayaan ini akan bisa teratasi kedepannya," ujarnya.
Perilaku Pengusaha UMKM terhadap Ekonomi Hijau
Pada kesempatan itu, Destry juga mengungkap hasil asesmen yang dilakukan oleh BI bersama akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM). Adapun asesmen tersebut dilakukan BI terhadap 600 UMKM binaan, untuk mengetahui perilaku dan kesadaran yang berkaitan dengan ekonomi hijau.
Baca Juga
BI Guyur Rp 33,7 Triliun Buat Bank yang Rajin Beri Modal Ekonomi Hijau
Berdasarkan hasil asesmen itu, UMKM dikelompokkan ke dalam empat kategori sifat. Pertama, adalah pre-adapter. Menurut Destry, pre-adapter sendiri adalah sifat dimana kelompok UMKM belum memanfaatkan bahkan sadar terhadap urgensi ekonomi hijau.
Ia menyebut kelompok pre-adapter ini ke depan akan banyak mendapatkan perhatian khusus dari BI.
"Ini yang tentu akan mendapat bimbingan dari kita, tapi mindset bahwa hijau itu mahal, ini harus kita kikis dulu. Justru dia akan jadi murah Kalau dia bisa mengkaryakan sisa-sisa kainnya (atau bahan baku lain)," ungkapnya.
Kemudian secara berturut-turut berdasarkan tingkat kesadaran, ia menyebut sifat dan perilaku UMKM yang terkait dengan ekonomi hijau adalah eco-adapter, eco-entrepreneur, serta eco-innovator.
"Dalam penelitian itu juga kami melihat, kita me-review regulasi yang ada. Apakah sudah memadai? Kalau belum, ayo kita bikin bersama-sama," tandas Destry.

