OJK: RI Bisa Rebut Pasar Negara Lain di AS, Kuncinya Iklim Investasi yang Friendly
Poin Penting
|
BANDUNG, investortrust.id – Ada lima kelompok komoditas ekspor unggulan ke Amerika Serikat yang masih bisa dioptimalkan. Bahkan Indonesia berpotensi bisa merebut pasar negara lain ke AS yang tarifnya lebih tinggi. Kuncinya adalah menarik investasi ke sektor-sektor potensial. Dalam konteks itu, iklim investasi yang ramah (friendly investment environment) menjadi mutlak.
Hal itu diungkapkan Wakil Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, Mirza Adityaswara dalam Focus Group Discussion (FGD) dengan editor di Bandung, Sabtu (2/8/2025).
Mirza menyebut bahwa penurunan tarif yang ditetapkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap Indonesia dari 32% menjadi 19% akan menaikkan daya saing nasional. Bahkan Indonesia berpotensi merebut pasar negara lain yang tarifnya lebih tinggi.
Mirza menguraikan lima sektor unggulan kelompok produk Indonesia ke AS. Pertama adalah kode HS 85, yakni permesinan dan peranti elektronik, dengan nilai ekspor sebesar US$ 4,83 miliar atau 16,4% dari total ekspor Indonesia ke AS.
Kedua adalah kode HS 64, kelompok alas kaki dengan nilai ekspor US$ 2,64 miliar dengan pangsa 8,9% dari total ekspor RI ke AS. Ketiga, kode HS 62 yakni aparel dan asesori pakaian senilai US$ 2,14 miliar. Keempat, kode HS 15 (minyak nabati dan lemak hewan) senilai US$ 2,19 miliar dan produk karet (HS 40) dengan nilai ekspor US$ 1,96 miliar.
Mirza menekankan bahwa Indonesia berpeluang merebut sebagian pasar negara pesaing yang masuk AS, yang tarifnya relatif lebih tinggi. Di antaranya adalah Thailand, Vietnam, dan China.
“Untuk bisa merebut itu, kuncinya adalah investasi. Maka harus diciptakan friendly investment environment. Perusahaan yang belum kapasitas penuh, harus dinaikkan. Intinya adalah kemudahan investasi. Itulah yang selama ini sudah dilakukan oleh Vietnam,” kata Mirza.
Terkait dengan hal itu, langkah Presiden memberikan amnesti terhadap mantan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto dan abolisi terhadap Tom Lembong akan berdampak positif terhadap stabilitas politik karena adanya rekonsiliasi politik. “Stabilitas politik itu amat penting untuk emerging market, dan penting untuk menarik investasi,” tegas Mirza.
Baca Juga
AS Akan Turunkan Lagi Tarif
Mirza juga menilai bahwa kesepakatan perdagangan antara Amerika Serikat dan para mitra dagang mendorong optimisme global. Itulah sebabnya, Dana Moneter Internasional (IMF) merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi global, masing-masing menjadi 3% untuk tahun 2025 dan 3,1% untuk tahun depan.
Sedangkan untuk Indonesia, IMF memprediksi pertumbuhan ekonomi tahun ini dan tahun depan di level yang sama sebesar 4,8%.
“Meskipun demikian, ketidakpastian global masih berada dalam level yang tinggi. World uncertainty index masih naik terus,“ tutur Mirza.
Mirza yakin bahwa Amerika Serikat akan menurunkan tarif impor lanjutan, termasuk kepada Indonesia. Sebab, tarif yang terlalu tinggi akan membebani penduduknya karena harga barang impor menjadi mahal. Terlebih lagi dolar saat ini cenderung melemah, sehingga berujung pada kenaikan inflasi yang dipicu mahalnya impor (imported inflation).
“Masak sih rakyatnya disuruh bayar mahal akibat tarif tinggi. Apalagi dolar lemah, impor jadi mahal. Maka tarif pasti akan turun lagi,” kata Mirza.
Sementara itu, ihwal suku bunga Bank Sentral AS (Fed Fund rate/FFR), dalam FOMC akhir Juli lalu tetap bertahan di level 4,5%. Menurut Mirza, alasan The Fed menahan bunga karena inflasi AS belum cukup jinak untuk mendukung pemangkasan suku bunga acuan tersebut.
“Hingga akhir tahun, pasar mempersepsikan bakal ada dua kali penurunan FFR hingga akhir tahun, yakni pada FOMC September, Oktober, atau Desember,” kata Mirza.
Baca Juga
Ini Jurus Jitu Mendag Hadapi Tarif Trump 19% yang Berlaku 7 Agustus
Ketahanan Ekonomi
Mirza juga menguraikan bahwa indikator ekonomi terkini menunjukkan ketahanan ekonomi Indonesia. Defisit APBN tahun ini diprediksi sebesar 2,78% PDB serta defisit transaksi berjalan 0,1% PDB (kuartal I-2025). Cadang devisa per Juni 2025 mencapai US$ 152,6 miliar, setara 6,4 bulan impor dan surplus perdagangan berlanjut, senilai US$ 13,06 miliar periode Januari-Mei 2025.
“Realisasi investasi semester I-2025 mencapai Rp 942,9 triliun, dengan sepertiganya mengalir ke sektor hilirisasi,” ujar Mirza.
Namun Mirza mengingatkan tentang indikator demand dan supply domestik yang bergerak sideways sehingga perlu dicermati. Di antaranya penjualan kendaraan bermotor yang terkontraksi 1,13% pada Juni, bahkan untuk mobil LCGC susut 32,43%. Indeks manufaktur (PMI) terus menurun, ke level 46,9 atau berada di zona kontraksi.
Selain itu, pada Juni lowongan pekerjaan juga menunjukkan kontraksi 6,65%. Indeks Keyakinan Konsumen terkontraksi 4,49% (yoy) ke 117,8.
Indikator berbagai konsumsi juga menunjukkan pelemahan. Penarikan uang melemah, transaksi kartu kredit maupun debit berada dalam tren menurun, serta transaksi lewat uang elektronik juga dalam tren menurun.

