Transformasi AI Pacu Akselerator Ekonomi, tetapi...
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Kecerdasan buatan (AI) dipandang sebagai akselerator baru untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia menuju target negara maju pada 2045. Namun, di balik optimisme tersebut, Indonesia disebut memiliki banyak tantangan besar.
Direktur Inovasi Bisnis KORIKA, Arief Kusuma, menyebut AI sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas sehari-hari. Namun ia menegaskan, AI bukan solusi otomatis yang bisa dilepas begitu saja.
Hal itu disampaikan dalam diskusi publik “The AI Transformation: Catalyzing Indonesia’s Next Stage in Growth” yang digelar INDEF di Jakarta, Kamis (31/7/2025).
“Kita perlu kesiapan regulasi, etika, dan governance sebelum AI diterapkan secara luas. AI itu seperti pisau: bisa produktif, tapi juga bisa liar,” ujarnya.
Meski begitu, kesiapan ekosistem AI Indonesia dinilai masih belum ideal. Salah satu tantangan utama adalah keterbatasan infrastruktur digital dan ketersediaan tenaga kerja terampil.
“Digital talent kita baru sekitar 100 ribuan. Kapasitas listrik kita juga belum cukup untuk mendukung pusat data yang intensif energi,” tegas Arief.
Hal senada disampaikan Direktur Eksekutif INDEF, Esther Sri Astuti. Menurutnya, AI memang mampu meningkatkan produktivitas dan stabilitas ekonomi, tetapi juga membawa risiko subtitusi tenaga kerja manusia.
Meski begitu, kesiapan ekosistem AI Indonesia dinilai masih belum ideal. Salah satu tantangan utama adalah keterbatasan infrastruktur digital dan ketersediaan tenaga kerja terampil.
“Digital talent kita baru sekitar 100 ribuan. Kapasitas listrik kita juga belum cukup untuk mendukung pusat data yang intensif energi,” tegas Arief.
Hal senada disampaikan Direktur Eksekutif INDEF, Esther Sri Astuti. Menurutnya, AI memang mampu meningkatkan produktivitas dan stabilitas ekonomi, tetapi juga membawa risiko subtitusi tenaga kerja manusia.
“Kalau mahasiswa terlalu bergantung pada AI, tanpa kemampuan berpikir kritis, SDM kita akan rentan,” ujar ekonom senior tersebut.
Sementara itu, External Affairs Lead Digital Prosperity for Asia, Alva Lazuardi Putra menilai bahwa adopsi AI di kalangan startup dan UMKM menunjukkan tren positif. Bahkan sudah banyak UMKM yang menggunakan AI untuk membuat musik meditasi , mengatur stok, sampai curhat ke chatbot.
"Imajinasi mereka sudah tinggi. Tapi tanpa dukungan infrastruktur dan edukasi, potensi ini bisa stagnan,” jelasnya.
Dalam diskusi tersebut, para narasumber pun sepakat bahwa AI harus dimanfaatkan secara inklusif dan bertanggung jawab. Selain penguatan literasi digital dan etika penggunaan AI, pemerintah juga didorong untuk menyusun payung hukum yang jelas dan mendukung interoperabilitas data antar lembaga.
“Kalau kita mau AI jadi penggerak ekonomi digital dan sosial, kita butuh roadmap, regulasi yang agile, serta investasi serius di talenta dan infrastruktur,” pungkas Arief.
KORIKA sendiri sudah menyusun peta jalan AI nasional 2025–2030 bersama Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkomdigi). Aturan tersebut rencananya akan segera ditandatangani oleh Menkomidigi Meutya Hafid dalam waktu dekat.
Nantinya aturan tersebut akan dilakukan uji publik pada Agustus 2025 dan akan dituangkan dalam bentuk Peraturan Presiden (Perpres) pada September 2025.

