Airlangga Kasih Bocoran Pembahasan Sawit dengan Uni Eropa Berlangsung Alot dan Panjang
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Pembahasan kerja sama perdagangan ekonomi Indonesia dan Uni Eropa atau Indonesia-European Union Comprehensive Partnership Agreement (IEU-CEPA) yang telah rampung menjadi bagian penting upaya Indonesia mendiversifikasi pasar. Salah satu yang menjadi pembahasan alot adalah minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO).
Menteri Koordinator (Menko) bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan, pasar Uni Eropa sebetulnya menyukai komoditas CPO. Oleh karena itu, dalam perundingan terakhir IEU-CEPA, persoalan komoditas ekspor unggulan Indonesia mendapat durasi pembahasan terpanjang.
“Mereka suka dengan sawit,” ujar dia di Paris, Perancis, dikutip Rabu (16/7/2025) waktu Indonesia.
Baca Juga
Hashim: Indonesia Diuntungkan dengan Rampungnya IEU-CEPA, Sawit Tak Kena Sanksi
Airlangga mengatakan, CPO yang menjadi salah satu unggulan ekspor Indonesia selama ini mendapat tantangan masuk ke pasar Eropa. “Andalan kita, CPO, hampir enggak bisa masuk Eropa, terutama yang biofuel,” kata Airlangga,
Airlangga menjelaskan Indonesia ngotot untuk menyelesaikan perundingan IEU-CEPA karena melihat pemberian tarif bea masuk produk dari Vietnam hanya 0%. Sementara itu, Indonesia dikenakan bea masuk sebesar 10% hingga 20%.
“Kita ingin selesaikan. Indonesia ekspor ke sini (Eropa) kan elektronik kemudian ikan, bluefin tuna, juga masuk ke sini, dan andalan kita CPO,” kata dia.
Selain komoditas, Indonesia juga ingin mendapat transfer pengetahuan dan modal. Menurut Airlangga, sains, teknologi, dan modal menjadi tiga hal utama yang dapat membuat Indonesia bersaing. “Kita akan berasaing kalau punya inovasi, teknologi, didukung sains, pendidikan, dan investasi,” ucap dia.
Sementara itu, dari sisi Uni Eropa, Airlangga bilang, 27 negara anggota ingin memberikan prioritas kepada ekspor utama Indonesia terutama yang berhubungan dengan industri padat karya. Merespons permintaan itu, pemerintah meminta tarif bea masuk sebesar 0%.
“Kita akan melakukan transformasi berupa non-tarriff barrier maksimal 5 tahun,” jelas dia.
Pemberian non-tarif barrier selama 5 tahun ini juga dibuat Indonesia dan negara ASEAN dengan Jepang melalui ASEAN-Japan Comprehensive Economic Partnership (AJCEP). Indonesia dengan Jepang memiliki durasi non-tarif barrier serupa dan in trade quota.
Selain itu, Uni Eropa juga akan diberikan akses ekspor pasar produk agrikultur. “Artinya, kalau mereka mau ekspor anggur, apel, dan sejenisnya, kalau importirnya mau ya silakan saja, karena itu tidak kompetitif dengan kita punya agrikultur,” ucap dia.
Ketua Dewan Penasihat Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Hashim Djojohadikusumo sebelumnya mengatakan, sawit Indonesia diuntungkan dengan rampungnya perundingan IEU‑CEPA setelah sebelumnya terkena hambatan karena isu lingkungan.
"Yang sangat diuntungkan eksportir Indonesia, termasuk eksportir kelapa sawit sangat-sangat diuntungkan," kata Hashim seusai agenda Breakfest Forum Kadin and Madef, di Gedung Madef, Paris, Prancis, Selasa (15/72025).
Hashim mengatakan, melalui perjanjian Indonesia dan 27 negara Uni Eropa, komoditas kelapa sawit Indonesia tidak dikenakan sanksi. "Tidak dikenakan penalti atau denda," kata Hashim.
Sebelumnya CPO dan produk turunannya dari Indonesia menghadapi tantangan di Eropa terkait isu deforestasi dan keberlanjutan. Uni Eropa mengeluarkan kebijakan, seperti EU Deforestation Regulation (EUDR) yang membatasi impor produk terkait deforestasi, termasuk minyak sawit.
Meski implementasi kebijakan EUDR saat ini masih ditunda, tetapi Indonesia dikategorikan sebagai negara risiko menengah (medium risk). Dampaknya, 3% dari produk ekspor wajib menjalani proses uji tuntas (due diligence), termasuk memiliki bukti ketelusuran (traceability) bahwa produk tersebut tidak berasal dari lahan hasil deforestasi setelah 31 Desember 2020.
Baca Juga
IEU-CEPA Rampung Jadi Titik Terang, Apindo: Industri Padat Karya Bersiap Tembus Pasar Eropa
"Kelapa sawit sangat dibutuhkan oleh industri Eropa, semua barang-barang misalnya sabun atau makanan, bahan-bahannya itu dari kelapa sawit," kata Hashim.
Selain sawit, Hashim menyebut nantinya juga terdapat produk hasil pertanian Indonesia yang akan dikenai bea masuk 0% dengan diimplementasikannya IEU-CEPA.

