'Catenaccio Formation’ Pemerintah Hadapi Tekanan Perekonomian Global
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rembesan dari tensi geopolitik global, konflik di Timur Tengah, dan perang dagang yang terjadi antara Amerika Serikat (AS) dengan China menjadi perhatian pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Di hadapan parlemen, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan kondisi global saat ini mengalami banyak perubahan sehingga mendorong pemerintah mengeluarkan jurus 'Catenaccio formation' untuk menghadapinya.
Tatanan dunia yang tak pasti muncul karena kebijakan tiap negara yang bersifat personalized. Artinya, kata Sri Mulyani, kebijakan yang dibuat negara-negara maju tidak mengikuti aturan main internasional yang berlaku.
“Sehingga menciptakan geopolitic tension yang sangat tinggi,” kata Sri Mulyani saat dihadapan Komisi XI DPR, Jakarta, Kamis (4/7/2025) malam.
Rantai pasok terancam. Kinerja perekonomian terdampak. Investasi, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi terpengaruh.
Pemerintah mewaspadai kondisi ini, termasuk prospek perekonomian dunia yang akan tumbuh terbatas. Indikatornya, lanjut Bendahara Negara, lagi-lagi, mengarah ke fragmentasi negara-negara dan zona ekonomi besar yang semakin nasionalistik, inward looking, dan meningkatnya proteksionisme.
“Pertumbuhan ekonomi global direvisi turun oleh IMF dan Bank Dunia,” ujar dia.
Tahun 2025 ini, dua lembaga perekonomian dunia itu punya proyeksi pertumbuhan global terkoreksi. IMF memprediksi ekonomi global hanya tumbuh 2,8%. Bank Dunia meramal pertumbuhan ekonomi global 2,3%. Meski beda 0,5 persen poin, dua-dua melihat kinerja perekonomian global melemah dibandingkan 2024.
Kondisi ini tecermin dalam episode tiga bulan pertama 2025. Kuartal I, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat 4,87% secara tahunan. Mengalami perlambatan dibanding kuartal yang sama tahun sebelumnya sebesar 5,02% secara tahunan.
Baca Juga
Sri Mulyani menyebut perlambatan pertumbuhan ekonomi kuartal I-2025 ini terjadi karena tensi geopolitik meningkat, perekonomian Eropa yang stagnan, dan mulai ditabuhnya genderang perang tarif AS dan China.
PMI Manufaktur global juga mengalami perlemahan, meski angka indeks berada di atas 50. Global Uncertainty Index menunjukkan peningkatan dari Oktober 2024 sebesar 208 menjadi 472 pada Maret 2025. Indikator lainnya, Baltic Dry Index, juga melesat dari 1.391 pada Oktober 2024 menjadi 1.605 pada Maret 2025.
Pemerintah memainkan strategi bertahan, yang dalam istilah sepakbola Italia disebut catenaccio. Paket stimulus ekonomi ditebar selama dua kuartal awal 2025.
Total, pemerintah telah mengeluarkan stimulus sebesar Rp 57,4 triliun selama semester I-2025. Stimulus diberikan untuk menjaga daya beli masyarakat dan mendongkrak sektor padat karya tetap tumbuh.
Tak hanya itu, pemerintah juga memberikan bantuan sosial (bansos), perlindungan sosial (perlinsos), dan subsidi kompensasi.
“Dengan stimulus ini kita harapkan memitigasi kecenderungan pertumbuhan ekonomi yang memang terus menerus didera tekanan global,” jelas dia.
Stimulus yang diberikan diharapkan dapat mengkompensasi dampak tarif resiprokal yang dibuat Presiden AS Donald Trump. Dengan begitu, pemerintah dapat mengejar target pertumbuhan 5% pada kuartal II-2025.
Dari sisi kebijakan makroekonomi, Sri Mulyani menjelaskan kebijakan fiskal-moneter akan terus sejalan dengan prioritas Prabowo Subianto. Misalnya, efisiensi untuk mengurangi belanja kementerian/lembaga dan merealokasikannya kepada program prioritas baru untuk memperkuat pertahanan dan ketahanan ekonomi Indonesia.
“Untuk meningkatkan kemampuan Indonesia menghadapi ketidakpastian dan eskalasi konflik global, kita melanjutkan dengan beberapa paket kebijakan ekonomi,” jelas dia.

