Bagikan

Investasi Naik tapi Serapan Tenaga Kerja Kecil, Petinggi DEN Soroti Dominasi Sektor Informal

Poin Penting

Chatib Basri menyoroti sebagian besar lapangan kerja baru pada 2019–2023 tercipta di sektor informal, yang identik dengan upah rendah dan minim perlindungan. Fenomena ini mencerminkan menurunnya kualitas pasar tenaga kerja, meskipun investasi terus tumbuh.
Mayoritas investasi asing langsung mengalir ke sektor padat modal seperti batu bara dan nikel—bukan ke sektor padat karya seperti tekstil dan garmen, yang menghadapi margin tipis dan daya saing rendah.
Untuk menghidupkan kembali sektor padat karya dan menciptakan lapangan kerja formal berkualitas, butuh penyederhanaan regulasi dan penghapusan hambatan birokrasi, agar sektor-sektor tersebut menarik bagi investor.

JAKARTA, investortrust.id - Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Muhammad Chatib Basri, menyebut peningkatan investasi tidak selalu sejalan dengan pertumbuhan lapangan kerja berkualitas. Ia menyoroti dominasi sektor informal dalam penyerapan tenaga kerja Indonesia belakangan ini.

Chatib merujuk data BPS yang menunjukkan tren positif sektor formal pada 2009-2014. Namun, pada periode 2019–2023, mayoritas pekerjaan baru justru tercipta di sektor informal.

“Yang agak mengkhawatirkan adalah pertumbuhan penyerapan tenaga kerja di 2019-2023, di mana sebagian besar lapangan kerja yang diciptakan itu adalah informal,” ujarnya dalam panel diskusi Prasasti Center for Policy Studies di Jakarta, Senin (30/6/2025), 

Ia menjelaskan, sektor informal identik dengan upah rendah dan minim perlindungan kerja. Kondisi ini mencerminkan menurunnya kualitas pasar tenaga kerja nasional.

Policy and Program Director Prasasti Center for Policy Study Piter Abdullah (dari kiri) Board of Experts Prasasti Center for Policy Study Chatib Basri, Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Infrastruktur & Pembangunan Kewilayahan Kadin Indonesia Carmelita Hartoto, dan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti seusai panel diskusi bertema "Deep dive into key economic and policy challenges shaping Indonesia's future" disela peluncuran Prasasti Center for Policy Studies: Pijakan Masa Depan di Jakarta, Senin (30/6/2025). Foto: Investortrust/Dicki Antariksa.  

Chatib juga menilai angka pengangguran terbuka belum mencerminkan kondisi ekonomi yang sebenarnya. Ketiadaan sistem unemployment insurance membuat masyarakat harus bekerja apa pun untuk bertahan hidup.

“Pengangguran itu adalah barang mewah. Hanya orang kaya di Indonesia yang bisa menganggur,” ucapnya.

Baca Juga

Tinggal 4,76% di Februari 2025, Pengangguran Terbuka Indonesia Terendah Sejak 1998

Menurut dia, bahkan lulusan perguruan tinggi pun terpaksa masuk ke sektor informal jika tak memiliki dukungan ekonomi. Fenomena ini disebutnya sebagai too poor to be unemployed.

Ia menambahkan, lonjakan FDI (investasi asing langsung/foreign direct investment) dalam beberapa tahun terakhir tidak berdampak signifikan pada penciptaan lapangan kerja. Sebagian besar investasi mengalir ke sektor padat modal, bukan padat karya.  “Sebagian besar investasi yang masuk itu masuk kepada padat modal,” katanya.

Sektor manufaktur seperti tekstil, garmen, dan alas kaki disebut sulit bersaing karena menjadi price taker dalam rantai pasok global. Kenaikan biaya produksi tidak bisa langsung dibebankan ke konsumen.

Akibatnya, margin keuntungan sektor ini terus menurun dan tidak lagi menarik bagi investor. Hal ini menjelaskan penurunan investasi di sektor padat karya dalam beberapa tahun terakhir.

Board of Experts Prasasti Center for Policy Study Chatib Basri dalam panel diskusi bertema "Deep dive into key economic and policy challenges shaping Indonesia's future" disela peluncuran Prasasti Center for Policy Studies: Pijakan Masa Depan di Jakarta, Senin (30/6/2025). Foto: Investortrust/Dicki Antariksa.  

Sebaliknya, sektor batu bara dan nikel tetap diminati karena Indonesia memiliki posisi kuat dalam penentuan harga global. Investor bisa tetap menjaga margin meski ada lonjakan biaya.

Chatib menegaskan, solusi utama ada pada penyederhanaan regulasi dan perbaikan iklim usaha. Reformasi birokrasi diyakini bisa meningkatkan kembali daya saing sektor padat karya.

“Kalau aturan dipermudah dan beban dari bureaucratic hurdles-nya dihilangkan, maka sektor yang padat karya ini bisa bertahan,” pungkasnya.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024