Investasi Naik tapi Serapan Tenaga Kerja Kecil, Petinggi DEN Soroti Dominasi Sektor Informal
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Muhammad Chatib Basri, menyebut peningkatan investasi tidak selalu sejalan dengan pertumbuhan lapangan kerja berkualitas. Ia menyoroti dominasi sektor informal dalam penyerapan tenaga kerja Indonesia belakangan ini.
Chatib merujuk data BPS yang menunjukkan tren positif sektor formal pada 2009-2014. Namun, pada periode 2019–2023, mayoritas pekerjaan baru justru tercipta di sektor informal.
“Yang agak mengkhawatirkan adalah pertumbuhan penyerapan tenaga kerja di 2019-2023, di mana sebagian besar lapangan kerja yang diciptakan itu adalah informal,” ujarnya dalam panel diskusi Prasasti Center for Policy Studies di Jakarta, Senin (30/6/2025),
Ia menjelaskan, sektor informal identik dengan upah rendah dan minim perlindungan kerja. Kondisi ini mencerminkan menurunnya kualitas pasar tenaga kerja nasional.
Chatib juga menilai angka pengangguran terbuka belum mencerminkan kondisi ekonomi yang sebenarnya. Ketiadaan sistem unemployment insurance membuat masyarakat harus bekerja apa pun untuk bertahan hidup.
“Pengangguran itu adalah barang mewah. Hanya orang kaya di Indonesia yang bisa menganggur,” ucapnya.
Baca Juga
Tinggal 4,76% di Februari 2025, Pengangguran Terbuka Indonesia Terendah Sejak 1998
Menurut dia, bahkan lulusan perguruan tinggi pun terpaksa masuk ke sektor informal jika tak memiliki dukungan ekonomi. Fenomena ini disebutnya sebagai too poor to be unemployed.
Ia menambahkan, lonjakan FDI (investasi asing langsung/foreign direct investment) dalam beberapa tahun terakhir tidak berdampak signifikan pada penciptaan lapangan kerja. Sebagian besar investasi mengalir ke sektor padat modal, bukan padat karya. “Sebagian besar investasi yang masuk itu masuk kepada padat modal,” katanya.
Sektor manufaktur seperti tekstil, garmen, dan alas kaki disebut sulit bersaing karena menjadi price taker dalam rantai pasok global. Kenaikan biaya produksi tidak bisa langsung dibebankan ke konsumen.
Akibatnya, margin keuntungan sektor ini terus menurun dan tidak lagi menarik bagi investor. Hal ini menjelaskan penurunan investasi di sektor padat karya dalam beberapa tahun terakhir.
Sebaliknya, sektor batu bara dan nikel tetap diminati karena Indonesia memiliki posisi kuat dalam penentuan harga global. Investor bisa tetap menjaga margin meski ada lonjakan biaya.
Chatib menegaskan, solusi utama ada pada penyederhanaan regulasi dan perbaikan iklim usaha. Reformasi birokrasi diyakini bisa meningkatkan kembali daya saing sektor padat karya.
“Kalau aturan dipermudah dan beban dari bureaucratic hurdles-nya dihilangkan, maka sektor yang padat karya ini bisa bertahan,” pungkasnya.

