Indeks Dolar dan Rupiah Melemah
JAKARTA, investortrust.id – Kurs rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan valas di pasar spot Senin (19/05/2025) pagi, di tengah indeks dolar melemah. Berdasarkan data Yahoo Finance, nilai tukar mata uang Garuda bergerak melemah 50 poin atau 0,30% ke Rp 16.469 per dolar AS, pada pukul 09.37 WIB.
Sementara itu, indeks dolar AS menurun 0,25 poin atau 0,25% ke level 100,84, berdasarkan data Yahoo Finance. Secara year to date, DXY sudah melemah 7,04%.
"Data terbaru menunjukkan Moody's Credit Ratings menurunkan peringkat kredit AS satu tingkat menjadi Aa1, dari Aaa, di tengah kekhawatiran atas meningkatnya utang dan pembayaran bunga. Moody's mengikuti Fitch Ratings dalam menurunkan peringkat negara tersebut menjadi AA+ dari AAA pada tahun 2023, dan Standard & Poor's pada tahun 2011," kata Chief Economist PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Andry Asmoro dalam keterangan di Jakarta, Senin (19/05/2025).
Baca Juga
Akselerasi Inklusi Keuangan di Pedesaan, Bank Mandiri Gandeng BUMDes dan UMKM Lokal
Utang AS Naik
Lembaga tersebut mengatakan pihaknya memperkirakan utang federal AS akan meningkat menjadi sekitar 134% dari produk domestik bruto (PDB) pada tahun 2035. Ini melonjak dari 98% terhadap PDB tahun lalu.
Andry menyebut , defisit federal diperkirakan akan melebar, mencapai hampir 9% dari PDB AS pada tahun 2035, naik dari 6,4% pada tahun 2024. Ini karena meningkatnya pembayaran bunga atas utang, peningkatan pengeluaran hak, dan berkurangnya pendapatan pemerintah melalui pemotongan pajak.
"Moody's membuat pengumuman tersebut pada hari Jumat. Peringkat kredit Standard & Poor untuk AS berada di AA+ dengan prospek stabil. Peringkat kredit DBRS untuk Amerika Serikat terakhir dilaporkan pada AAA dengan prospek stabil," kata Andry.
Baca Juga
Kemenekraf Gandeng Apindo dan Kadin Bangun Sinergi Tingkatkan Ekonomi Kreatif
Meningkat Ekspektasi Inflasi
Sentimen konsumen yang dirilis Universitas Michigan untuk AS turun tajam menjadi 50,8 pada Mei 2025, turun dari 52,2 pada April dan jauh di bawah ekspektasi pasar sebesar 53,4 menurut estimasi awal. Ini menandai penurunan bulanan kelima berturut-turut, pembacaan terendah sejak Juni 2022, dan terendah kedua yang pernah tercatat, karena meningkatnya ekspektasi inflasi dan kekhawatiran baru atas penaikan tarif impor terus membebani sentimen. Baik indeks kondisi saat ini (57,6 vs 59,8) dan pengukur ekspektasi (46,5 vs 47,3) memburuk.
"Minggu ini akan menjadi minggu yang relatif tenang di AS. Perhatian terfokus pada perkembangan seputar tarif, pidato beberapa pejabat Federal Reserve, dan rilis PMI manufaktur serta jasa S&P Global, bersama dengan data penjualan rumah lama dan baru," ujar Andry.
Melemah terhadap Yen
Kurs rupiah pada awal pekan ini masih lebih lemah ketimbang asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 sebesar Rp 16.000 per dolar AS. Secara year to date, rupiah terdepresiasi 2,38%.
Rupiah juga terdepresiasi terhadap yen Jepang. Kurs rupiah melemah 0,67 poin atau 0,59%, ke Rp 113,31 per yen pukul 10.41 WIB. Sedangkan secara ytd, sudah terdepresiasi 10,61%.
Rupiah juga terdepresiasi terhadap euro. Kurs rupiah melemah 69 poin atau 0,38% ke level Rp 18.392 per euro. Sedangkan secara ytd, sudah terdepresiasi 10,40%.

