Ini Nilai Perdagangan Indonesia dan AS Selama 10 Tahun Terakhir
JAKARTA, investortrust.id - Indonesia dan Amerika Serikat (AS) telah menjadi mitra dagang sejak lama. Keputusan Presiden AS Donald Trump mengeluarkan tarif resiprokal memunculkan wacana untuk mengkaji upaya peningkatan perdagangan Indonesia dengan AS.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan total nilai perdagangan Indonesia dengan AS secara rata-rata mengalami tren yang meningkat sejak 2015 hingga 2025. Tren peningkatan neraca perdagangan Indonesia dengan AS terlihat didorong oleh neraca perdagangan nonmigas.
“Untuk perdagangan migas, Indonesia mengalami defisit dari AS,” kata Amalia saat laporan Neraca Perdagangan Indonesia untuk Maret 2025, di kantor pusat BPS, Senin (21/4/2025).
Berdasarkan data yang dipaparkan, pada 2015, total neraca perdagangan Indonesia terhadap AS mengalami surplus US$ 8,65 miliar. Angka ini ditopang nilai surplus ekspor migas Indonesia sebesar US$ 93 juta dan nilai surplus ekspor nonmigas sebesar US$ 7,76 miliar.
Baca Juga
Neraca Perdagangan Indonesia Surplus 59 Bulan Berturut-turut
Nilai surplus ekspor migas Indonesia terus rontok sejak tahun tersebut. Terakhir, Indonesia masih mengalami surplus perdagangan migas hingga 2017. Pada tahun tersebut nilai surplus ekspor migas tercatat US$ 24 juta.
Setelah tahun itu, pada 2018, Indonesia mengalami defisit ekspor migas dengan AS. Nilai defisit ekspor migas berlanjut hingga 2024. Pada 2018, nilai defisit ekspor migas Indonesia tercatat sebesar US$ -30 juta. Setahun setelahnya sebesar US$ -1,12 miliar.
Pada masa Covid-19, 2020 hingga 2022, nilai defisit ekspor migas Indonesia sebesar US$ -1,09 miliar pada 2020, US$ -2,57 miliar pada 2021, dan US$ -2,04 miliar.
Nilai defisit ekspor migas Indonesia masih tercatat pada 2023 dan 2024 yang masing-masing sebesar US$ -2,04 miliar dan US$ 2,5 miliar.
Sebagai penopang perdagangan, Indonesia mencatatkan nilai surplus pada ekspor komoditas nonmigas. Sejak 2019 hingga 2022, nilai surplus ekspor nonmigas Indonesia terus mengalami kenaikan. Mulanya, nilai surplus pada 2018 masih tercatat sebesar US$ 8,54 miliar. Angka ini naik menjadi US$ 9,7 miliar pada 2019, US$ 11,13 miliar pada 2020, US$ 17,12 miliar pada 2021, dan US$ 18,87 miliar pada 2022.
Baca Juga
Beruntun 59 Bulan, Surplus Perdagangan Naik ke US$ 4,33 Miliar Maret
Setelah periode itu, nilai ekspor nonmigas Indonesia terkonstraksi di US$ 14,01 miliar pada 2023 dan US$ 16,84 miliar pada 2024.
Sementara itu, nilai surplus neraca perdagangan Indonesia tertinggi terjadi pada 2022. Pada tahun tersebut, nilai surplus neraca perdagangan Indonesia sebesar US$ 16,57 miliar.
Perdagangan Indonesia - AS di Awal 2025
Pada tiga bulan pertama 2025, Januari hingga Maret, BPS mencatat total nilai perdagangan migas Indonesia dengan AS sebesar US$ 798,3 juta. Komoditas yang menjadi penopang impor Indonesia yaitu minyak mentah dan hasil minyak, utamanya bahan baku LPG.
Pada periode yang sama, total nilai perdagangan nonmigas Indonesia dengan AS tercatat sebesar US$ 9,49 miliar. Ekspor Indonesia ke AS ditopang oleh mesin dan perlengkapan elektrik, pakaian dan aksesorisnya (rajutan), alas kaki, pakaian dan aksesorisnya (bukan rajutan), lemak dan minyak hewan/nabati, perabot dan alat penerangan. Di sisi lain, Indonesia juga mengimpor produk mesin/perlengkapan mekanis dan bagiannya, biji dan buah mengandung minyak, mesin/perlengkapan elektrik dan bagiannya, ampas dan sisa industri makanan, instrumen optik, fotografi, sinematografi, dan medis.
Menurut Amalia, Indonesia mengalami surplus perdagangan US$ 4,32 miliar selama periode Januari-Maret 2025. “Angka ini lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun 2024 yang sebesar US$ 3,61 miliar,” jelas dia.
Terdapat dua negara lain yang konsisten menyumbang surplus untuk Indonesia selain AS. BPS mencatat dua negara tersebut yaitu India dan Filipina. Pada periode Januari-Maret 2025, Indonesia mencatatkan nilai surplus neraca perdagangan sebesar US$ 3,05 miliar dan Filipina sebesar US$ 2,2 miliar.

