Asing Berbalik Masuk SBN, Indonesia Sudah Negosiasi Apa ke AS?
JAKARTA, investortrust.id - Meski masih terjadi net sell asing di pasar keuangan RI, namun mulai mereda pekan ini berdasarkan data Bank Indonesia. Hal itu seiring pemerintah Indonesia mulai bernegosiasi dengan langsung menemui Menlu Amerika Serikat guna menurunkan tarif impor resiprositas atas produk Indonesia 32%. Kendati pemberlakuan tarif resiprositas yang diumumkan Presiden AS Donald Trump sudah ditunda 90 hari sejak 9 April 2025, belum ada kepastian berapa besar Indonesia akan mendapat keringanan.
"Pada minggu III April 2025, kami laporkan aliran modal asing berdasarkan data transaksi 14-16 April 2025. Non-resident tercatat jual neto sebesar Rp 11,96 triliun, yang terdiri dari beli neto Rp 3,28 triliun di pasar Surat Berharga Negara (SBN), jual neto Rp 13,01 triliun di pasar saham, dan jual neto Rp 2,24 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI)," kata Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan di Jakarta, 17 April 2025 malam.
Pekan lalu, dana asing keluar masif dari berbagai instrumen keuangan di pasar Indonesia menembus Rp 24,04 triliun. Berdasarkan data transaksi minggu II April pada tanggal 8-10, non-resident tercatat jual neto di instrumen operasi moneter Bank Indonesia SRBI, SBN pemerintah RI, maupun saham, masing-masing menembus Rp 10,47 triliun, Rp 7,84 triliun, dan Rp 5,73 triliun.
Baca JugaMenkeu Bertemu Dubes AS, Mirae Proyeksikan IHSG Rebound 6.600
DXY, Rupiah, IHSG Rebound?
Bank Indonesia menyampaikan perkembangan lebih lanjut indikator stabilitas nilai rupiah, berdasarkan kondisi perekonomian global dan domestik terkini. "Kami sampaikan perkembangan nilai tukar 14-17 April 2025. Pada akhir hari Rabu, 16 April, rupiah ditutup pada level (bid) Rp 16.820 per dolar AS dan yield SBN 10 tahun turun ke 6,93%, sedangkan DXY(indeks dolar) melemah ke level 99,38 dan yield UST (US Treasury) Note 10 tahun turun ke 4,277%. Pada pagi hari Kamis, 17 April, rupiah dibuka pada level (bid) Rp 16.810 per dolar AS dan yield SBN 10 tahun stabil di 6,93%," ujar Denny.
Indeks dolar menunjukkan pergerakan dolar terhadap 6 mata uang negara utama lainnya, yakni euro (EUR), yen Jepang (JPY), pound sterling Inggris (GBP), dolar Kanada (CAD), krona Swedia (SEK), dan franc Swiss (CHF). Sedangkan UST Note merupakan surat utang negara yang dikeluarkan pemerintah AS dengan tenor 1-10 tahun.
Baca Juga
"Premi CDS (credit default swap) Indonesia 5 tahun per 16 April 2025 tercatat sebesar 106,39 bps, turun dibanding dengan 11 April 2025 sebesar 111,73 bps. Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait serta mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk mendukung ketahanan eksternal ekonomi Indonesia," imbuh Denny.
CDS adalah suatu jenis perlindungan atau proteksi atas credit event (resiko kredit).
Sementara itu pada Kamis (17/04/2025) ini, seiring penguatan rupiah di tengah rebound indeks dolar AS, indeks harga saham gabungan (IHSG) bergerak menguat. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, indeks bertengger di 6.438,27 atau naik 38,22 poin (0,6%).
Pada penutupan perdagangan valas Kamis (17/4/2025) sore ini, Jisdor BI mencatat kurs rupiah menguat terhadap dolar AS. Nilai tukar mata uang Garuda menguat 12 poin (0,07%) ke level Rp 16.833 per dolar AS, berbalik dari posisi kurs penutupan hari sebelumnya yang melemah di Rp 16.845 per dolar AS.
Menguatnya kurs rupiah bertepatan dengan BI mengumumkan utang luar negeri (ULN) Indonesia menurun. Posisi Utang Luar Negeri Indonesia pada Februari 2025 menurun.
Pada Februari 2025, ULN Indonesia tercatat sebesar US$ 427,2 miliar, menurun dibandingkan pada Januari 2025 sebesar US$ 427,9 miliar. "Sedangkan secara tahunan, ULN Indonesia tumbuh 4,7% (yoy), melambat dibandingkan pertumbuhan 5,3% pada Januari 2025," papar Denny.
Bank Sentral RI mengeklaim struktur ULN Indonesia tetap sehat, didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. Hal ini tecermin dari penurunan rasio ULN Indonesia terhadap produk domestik bruto (PDB) menjadi 30,2% pada Februari 2025, dari 30,3% pada Januari 2025, serta dominasi ULN jangka panjang dengan pangsa 84,7% dari total ULN.
Sementara itu, hingga Kamis larut malam, DXY masih menguat ke 99,48, naik 0,20 poin atau 0,20%. Namun, secara year to date, indeks dolar AS masih melemah 8,32%.
Undang Investasi Mineral Kritis
Sementara itu pemerintah Indonesia memberi kabar terbaru terkait negosiasi tarif dagang timbal balik (resiprositas) 32% yang ditetapkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang kini masih ditunda 90 hari per 9 April. Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono mengatakan, pihaknya mendorong penguatan kerja sama ekonomi Indonesia dan AS, termasuk dalam konteks membangun rantai pasok global, dengan mengundang investor AS berinvestasi di sektor mineral kritis, seperti nikel, dan sektor-sektor penting lain.
"Pemerintah Indonesia juga banyak melakukan langkah-langkah deregulasi untuk mempermudah dan menciptakan situasi kondusif bagi investor asing," ujar Menlu Sugiono dalam pernyataan pada Kamis (17/04/2025).
Baca JugaTingkatkan Pembelian Barang dari AS, Airlangga: Salah Satunya Komponen 'Refinery'
Komitmen tersebut disampaikan dalam pertemuan bilateral Menlu Sugiono dengan Menlu AS Marco Rubio, di Kementerian Luar Negeri AS, Washington DC, pada Rabu (16/4/2025). Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari komunikasi telepon kedua Menlu pada Januari 2025 lalu.
Iran Disanksi, Cina Buka Pintu Damai
Sementara itu, pengamat pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, dari sentimen global, pemerintahan Presiden AS Donald Trump mengeluarkan sanksi baru yang menargetkan ekspor minyak Iran pada Rabu. Ini termasuk terhadap kilang minyak "teapot" yang berbasis di Cina. Hal itu meningkatkan tekanan terhadap Teheran di tengah pembicaraan mengenai meningkatnya program nuklir negara di kawasan Timur Tengah tersebut.
Baca Juga
Secara bersamaan, Presiden AS Donald Trump mengatakan kemajuan besar telah dicapai selama pertemuan dengan delegasi perdagangan Jepang di Washington pada Rabu. Kedua negara mitra lama ini membuka pembicaraan, yang bertujuan untuk menyelesaikan ketegangan atas gelombang penaikan tarif impor yang tinggi secara sepihak oleh AS.
Pembicaraan tersebut menandai dimulainya negosiasi formal untuk mencapai kesepakatan perdagangan bilateral, di tengah meningkatnya kekhawatiran atas dampak kerusakan ekonomi dari tarif baru AS yang luar biasa tinggi ini. Selain itu, laporan Bloomberg pada Rabu menunjukkan bahwa Tiongkok terbuka untuk memulai pembicaraan perdagangan dengan pemerintahan Trump, tetapi menuntut agar Gedung Putih menunjukkan lebih banyak rasa hormat.
"Perkembangan ini meredakan beberapa kekhawatiran, meski investor masih tetap waspada," kata Ibrahim dalam keterangan tertulis pada Kamis (17/04/2025).
Tarif impor hingga 245% terhadap produk-produk asal Cina secara umum itu merupakan komponen dari kebijakan tarif yang lebih luas, yang diterapkan oleh pemerintahan Presiden Trump. Rincian tarif tersebut meliputi: 125% tarif resprositas sebagai respons terhadap kebijakan perdagangan Tiongkok yang dianggap tidak adil, 20% tarif penalti terkait isu penyelundupan fentanil yang termasuk narkoba berbahaya dari Cina ke AS, serta tarif tambahan dari Section 301 berkisar antara 7,5% hingga 100% yang dikenakan untuk mengatasi praktik perdagangan yang tidak adil.
Pemerintah AS mengklaim bahwa tarif ini diperlukan untuk mengatasi ketidakseimbangan perdagangan dan masalah keamanan nasional terkait ketergantungan pada mineral langka yang sebagian besar dikendalikan oleh Cina. RRT menanggapi kebijakan ini dengan kritik keras, menyebutnya sebagai tindakan yang tidak rasional dan berjanji untuk mengabaikan penaikan tarif lebih lanjut, karena menurut mereka, impor dari AS sudah tidak lagi layak secara ekonomi di tingkat tarif saat ini.
Sebagai respons, Cina telah meningkatkan tarif atas barang-barang AS menjadi 125%. Secara keseluruhan, perang tarif ini menyebabkan ketegangan yang meningkat antara kedua ekonomi terbesar di dunia itu dan memicu kekhawatiran akan banjir barang impor ke Indonesia yang menekan industri dalam negeri.

