BI Catat Rupiah Melemah ke Rp 16.805/US$
JAKARTA, investortrust.id - Kurs rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat dalam perdagangan valas antarbank Jumat (11/04/2025), sore ini. Data Jisdor Bank Indonesia (BI) mencatat nilai tukar mata uang Garuda kembali terdepresiasi 26 poin atau 0,15%, ke Rp 16.805 per dolar AS. Padahal, kemarin sempat menguat tajam 164 poin (0,97%) ke level Rp 16.779 per dolar.
Sementara itu, berdasarkan data perdagangan valas di pasar spot yang dilansir Yahoo Finance, mata uang Garuda tercatat menguat tipis 5 poin atau 0,03%, ke level Rp 16.790 per dolar AS. Sedangkan secara year to date, rupiah terdepresiasi 4,38% terhadap greenback.
"Dari faktor eksternal, indeks dolar AS melemah pada Jumat ini. Dolar AS terpukul oleh meningkatnya kekhawatiran atas resesi AS, terutama karena Washington dan Beijing saling mengenakan tarif impor yang sangat besar. Presiden Donald Trump pada hari Kamis menaikkan tarif terhadap Tiongkok hingga 145% yang belum pernah terjadi sebelumnya, sementara tarif Tiongkok sebesar 84% terhadap AS juga mulai berlaku," kata pengamat mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuabi dalam keterangan di Jakarta, Jumat sore.
Baca Juga
Para pedagang khawatir atas dampak dari serentetan penaikan tarif impor, mengingat AS masih mengimpor beberapa bahan yang sulit digantikan dari Tiongkok. Meski Trump menunda rencana tarif perdagangan timbal balik terhadap negara lain selama 90 hari, perang dagang dengan Tiongkok masih berpotensi menimbulkan implikasi yang mengerikan bagi importir dan eksportir Amerika.
Potensi The Fed Turunkan Bunga
Dolar juga terpukul oleh data inflasi konsumen yang lebih rendah dari perkiraan untuk bulan Maret, yang mendorong beberapa taruhan bahwa Federal Reserve akan memangkas suku bunga lebih cepat, terutama di tengah meningkatnya tekanan ekonomi dari perang dagang.
Bank Sentral AS telah mengambil sikap yang sangat hati-hati atas kebijakan Trump. Penurunan harga Treasury AS yang berkelanjutan, di tengah keraguan atas ekonomi AS di bawah Trump, juga menambah tekanan pada dolar.
Selain itu, Tiongkok secara luas diperkirakan akan membiarkan mata uangnya melemah lebih jauh dalam beberapa minggu mendatang, mengingat yuan yang lebih murah membuat ekspor Tiongkok lebih menarik. Langkah ini diharapkan dapat membantu mengimbangi beberapa hambatan dari perang dagang yang sengit dengan Amerika.
Faktor Internal
Ibrahim juga menjelaskan sejumlah faktor internal. "Pemerintah menyoroti penundaan tarif resiprositas yang diperintahkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Hal ini menjadi momentum tepat bagi Indonesia dan negara lain untuk melanjutkan negosiasi atas kenaikan tarif impor tersebut," ujarnya.
Kebijakan Trump, lanjut dia, juga menjadi tantangan nyata yang harus dihadapi Indonesia. Pasalnya, kebijakan baru ini akan mengancam stabilitas dagang Indonesia dan ASEAN, yang telah lama menjunjung tinggi prinsip perdagangan bebas dan terbuka.
ASEAN ini merupakan pasar ekspor terbesar kelima bagi produk pertanian Amerika Serikat. Total nilai perdagangan barang mencapai US$ 306 miliar pada tahun 2024.
"Indonesia sendiri menyumbang US$ 14,34 miliar terhadap defisit perdagangan Amerika Serikat," imbuhnya.
Kendati demikian, kata Ibrahim Indonesia juga memiliki mitra dagang yang strategis dengan beberapa negara. Terdapat enam perjanjian perdagangan yang sedang diupayakan untuk selesai. Ini di antaranya, Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA), Indonesia-Peru CEPA, Indonesia-EU CEPA, Iran PTA, protokol amandemen Indonesia-Jepang (IJEPA) dan Trade & Investment Framework Agreement (TIFA) antara Indonesia dengan AS.
Diharapkan, mitra ini akan bisa meningkatkan pasar ekspor Indonesia melalui penyelesaian beberapa perjanjian perdagangan bebas (FTA). Hal ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang Indonesia untuk memperluas akses pasar, meningkatkan ketahanan dagang, dan membuka lapangan kerja baru.
Baca Juga

