Trump Tunda Tarif Impor, Indonesia Miliki Banyak Waktu Atur Strategi Perdagangan
JAKARTA, investortrust.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menunda 90 hari pemberlakuan tarif impor resiprokal yang awalnya ditetapkan pada 9 April 2025 guna membuka negosiasi perdagangan dengan negara mitra.
Pengamat ekonomi dan kebijakan publik Universitas Paramadina Wijayanto Samirin menilai, keputusan Trump yang menunda pemberlakuan tarif impor ini berdampak positif bagi Indonesia. "Penundaan tarif ini membuat Pemerintah Indonesia memiliki waktu lebih banyak untuk mengatur ulang strategi diplomasi perdagangan dengan AS," kata dia saat dihubungi Investortrust, Kamis (10/4/2025).
Lebih jauh, Wijayanto menilai, keputusan Trump ini sekaligus memberikan pesan bahwa AS tidak memiliki kekuatan dan keberanian sebesar yang dibayangkan sebelumnya. "Kita (Indonesia) perlu lebih yakin, tetapi segala langkah harus terukur," kata dia.
Baca Juga
ESDM Klaim Sektor Minerba Tak Kena Dampak Signifikan Tarif Trump
Selain menyusun ulang strategi diplomasi, ekonom Universitas Paramadina itu mengimbau agar pemerintah segera melakukan kalibrasi fiskal. Dia mengatakan, program-program pemerintah yang menyerap alokasi anggaran besar dengan dampak jangka panjang perlu untuk dikalibrasi ulang. "Alokasi lebih banyak perlu diberikan kepada program pemerintah yang berdampak langsung pada penciptaan lapangan kerja dan penguatan daya beli masyarakat," sebutnya.
Wijayanto melanjutkan, dalam situasi seperti ini kebijakan penyimpanan devisa hasil ekspor (DHE) perlu dilakukan sebaik-baiknya. Kebijakan DHE dapat berperan untuk memperkuat cadangan devisa Indonesia. Di satu sisi, dia menyebut pemerintah perlu segera membatasi aliran impor, utamanya yang bersifat ilegal.
"Aliran impor perlu dibatasi, impor ilegal diberantas. Ini untuk memberi ruang gerak bagi produsen dalam negeri dan mencegah kehilangan pendapatan negara," ungkap dia.
Mengapa Trump tunda tarif impor?
Sementara itu, Wijayanto Samirin turut memberikan analisis dibalik keputusan Trump untuk menunda pemberlakuan tarif impor. Dia menduga, kebijakan yang hendak dilaksanakan Trump mendapatkan protes dari kelompok pengusaha yang menjadi pendonor utamanya. "(Para pengusaha protes) karena nilai saham mereka turun drastis," kata dia.
Baca Juga
Imbas Tarif Trump, Apple Pilih India Gantikan China untuk Produksi iPhone?
Dia menuturkan, kebijakan tarif impor oleh Trump diketahui dapat meningkatkan risiko global sehingga yield obligasi Pemerintah AS melejit. Padahal, kata Wijayanto, Pemerintah AS semestinya melakukan refinancing utang yang nilainya sebesar US$ 9,2 triliun. "Terakhir, Trump memberi kesempatan negosiasi untuk mendapatkan deal terbaik. Artinya, ancaman pertama berfungsi sebagai gertakan semata," pungkas Wijayanto.
Respons Sri Mulyani
Di kesempatan terpisah, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indawati mengatakan akan memanfaatkan waktu jeda 90 hari yang dibuat Presiden AS Donald Trump mengenai pelaksanaan tarif impor. Pemerintah Indonesia akan memanfaatkan jeda waktu ini untuk menghindari risiko negatif dari tarif impor terhadap pertumbuhan ekonomi.
“Perkiraan situasi ini, sebelum jeda, bisa mengurangi pertumbuhan (ekonomi) potensial kami antara 0,3% hingga 0,5% dari PDB,” kata Sri Mulyani, dikutip dari Reuters, Kamis (10/4/2025).
Sri Mulyani menjelaskan waktu 90 hari ini akan digunakan untuk menghasilkan kerangka kerja sama yang saling menghormati negara-negara lain. Selain itu, langkah ini akan digunakan untuk mempererat kerja sama dengan negara-negara tetangga untuk meningkatkan ketahanan di kawasan Asia Tenggara. “Kita harus terus bersikap sangat hati-hati. Pengeluaran harus dibuat lebih efisien, tepat sasaran, dan efektif dalam mendukung pertumbuhan di sisi moneter,” ujar dia.
Diberitakan, Trump mengumumkan penangguhan tersebut beberapa jam setelah barang dari hampir 90 negara menjadi subjek tarif balasan yang diberlakukan oleh Amerika Serikat.
Baca Juga
Awal Pemerintahan Donald Trump Tunjukkan Pergeseran Besar dalam Regulasi Kripto AS
Presiden AS itu juga menyatakan dalam sebuah postingan di media sosial bahwa AS menaikkan tarif atas impor dari China menjadi 145% setelah sebelumnya 125% karena kurangnya rasa hormat China terhadap pasar dunia.
China, yang merupakan mitra dagang ketiga terbesar AS pada Rabu (8/4/2025) mengatakan akan meningkatkan tarif impor dari AS menjadi 84%. Trump mengatakan lebih dari 75 negara telah menghubungi pejabat AS untuk bernegosiasi setelah mengumumkan tarif baru minggu lalu.
Soal alasan keputusannya, Trump mengatakan kepada wartawan bahwa orang-orang mulai bereaksi berlebihan. “Mereka menjadi terlalu bersemangat, Anda tahu, mereka mulai sedikit panik, sedikit takut,” kata Trump di Gedung Putih, seperti dikutip CNBC.

