Rupiah Menguat Signifikan saat AS-China Saling Serang Tarif
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar (kurs) rupiah ditutup menguat signifikan dalam perdagangan Kamis (10/4/2025) hari ini. Data Jisdor Bank Indonesia (BI) mencatat kurs rupiah menguat tajam 164 poin (0,96%) ke level Rp16.779 per dolar Amerika Serikat (AS). Sebelumnya Jisdor BI merilis rupiah sempat anjlok ke level Rp16.943 per dolar AS, Rabu (9/4/2025) kemarin.
Kemudian pada perdagangan pasar spot, Yahoo Finance merilis mata uang rupiah bergerak menguat 65 poin (0,39%) hingga pukul 15.45 WIB ke level Rp16.794 per dolar AS. Diketahui Yahoo Finance sebelumnya mencatat mata uang rupiah melemah di posisi Rp16.859 per dolar AS.
Menurut pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi, kini pasar tengah mengurangi beberapa ekspektasi untuk resesi AS. Namun, prospek ekonomi jangka pendek tetap tidak pasti, dengan risalah rapat Federal Reserve bulan Maret menunjukkan para pembuat kebijakan gelisah atas inflasi yang lebih tinggi dan pertumbuhan yang lebih lambat.
Sementara kekhawatiran akan resesi mereda setelah Trump mengumumkan perpanjangan 90 hari untuk memberlakukan putaran tarif timbal balik terbarunya, pasar masih tetap waspada terhadap agenda kebijakannya, terutama mengingat perubahan sikapnya baru-baru ini terkait tarif. Perang dagang yang meningkat dengan China juga menghadirkan hambatan ekonomi yang berkelanjutan bagi AS, mengingat negara tersebut masih menjadi mitra dagang utama.
Baca Juga
Trump Tunda Kenaikan Tarif dan FFR Bisa Turun 75 Bps, Rupiah Rebound
Di satu sisi, kata Ibrahim, perang dagang AS dan China makin memanas, setelah Trump menaikkan tarif AS terhadap negara tersebut hingga 125% yang belum pernah terjadi sebelumnya. Beijing telah membalas tarif Trump pada hari Rabu dengan mengenakan tarif balasan sebesar 84% pada barang-barang Amerika. Baik Washington maupun Beijing tidak menunjukkan niat untuk meredakan ketegangan, dengan pejabat Tiongkok bersumpah untuk "berjuang sampai akhir."
"Sedangkan dampak tarif AS yang tinggi, membuat ekspor Tiongkok lebih murah. Namun, ekonomi Tiongkok menghadapi peningkatan hambatan dari tarif AS," kata Ibrahim dalam laporan tertulis, Kamis (10/4/2025).
Data yang dirilis sebelumnya pada hari Kamis menunjukkan inflasi konsumen dan produsen Tiongkok menyusut lebih dari yang diharapkan pada bulan Maret, yang mencerminkan beberapa dampak dari agresi perdagangan China-AS.

