Menko Airlangga: Indonesia di Atas Investment Grade, Pasar Domestik Kuat
JAKARTA, investortrust.id – Menteri Koordinator (Menko) bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut Moody’s Investors Service dalam tinjauan berkalanya menegaskan Sovereign Credit Rating (SCR) Indonesia pada level Baa2 dengan outlook stabil, atau berada satu tingkat di atas investment grade. Hal ini mencerminkan keyakinan global terhadap ketahanan ekonomi Indonesia yang dinilai bagus, didukung pasar domestik yang kuat.
"Dari sisi sentimen pelaku pasar dan pelaku ekonomi dunia terhadap Indonesia, juga tetap terjaga positif. Di antaranya, credit rating dari berbagai pemeringkat utang terus berada setingkat di atas investment grade, baik itu dilakukan oleh S&P, Moody's, Fitch, maupun JCR," kata Airlangga saat memberikan paparan dalam Sarasehan Bersama Presiden Prabowo Subianto di Jakarta, Selasa (08/04/2025).
Peringkat Daya Saing Indonesia yang dirilis IMD per 2024 juga dijadikan Airlangga sebagai ukuran penilaian positif lembaga asing terhadap iklim ekonomi yang kondusif di Indonesia. Daya saing Indonesia naik signifikan dari posisi 34 pada tahun 2023 ke posisi 27, dari 67 negara yang dinilai dalam World Competitiveness Ranking 2024.
Menko Airlangga mengatakan, dengan memiliki pasar domestik kuat, Indonesia tidak terlampau mengkhawatirkan imbas kebijakan tarif impor resiprositas dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Meski tidak membantah akan adanya dampak tertentu, dia menyebut kondisi Indonesia berbeda dengan negara lain seperti Vietnam, yang ekonominya lebih banyak mengandalkan ekspor ke AS.
"Kondisi Indonesia dalam menghadapi tarif impor Trump akan berbeda dengan Vietnam, karena misalnya, nilai ekspor Indonesia ke AS hanya berada di 2,2% dari total produk domestik bruto (PDB). Ini berbeda dengan Vietnam yang memiliki nilai ekspor ke AS sebesar 33% dari total PDB negaranya. Sehingga, kita bisa menahan akibat tarif resiprositas AS terhadap perekonomian kita. Jadi, Amerika bukan satu-satunya market, sehingga membuat kita susah (kalau tarif impornya naik). Kita bisa antisipasi ini," kata Airlangga.
Baca JugaEmas Lolos BM Tinggi, Tarif Impor TPT dan Alas Kaki Dinegosiasi
Tujuan Ekspor Terbesar Cina
Menko Perekonomian melanjutkan, negara tujuan ekspor terbesar Indonesia adalah Cina dengan nilai sekitar US$ 60,22 miliar tahun 2024. Kemudian, Amerika Serikat dengan nilai ekspor US$ 26,31 miliar dan India US$ 20.32 miliar, berdasarkan data BPS.
"Nah, tentu kita bisa membuka market lain di luar Amerika," sebut dia.
Baca Juga
BI Intervensi, Rupiah Rekor Lagi Terburuk Rp 16.859/US$, IHSG Jatuh Trading Halt
Mantan Ketua Umum Partai Golkar itu membeberkan tidak menutup kemungkinan bagi pemerintah Indonesia untuk melakukan ekspansi, mencari pasar tujuan ekspor selain AS. Namun demikian, langkah tersebut adalah rencana jangka panjang. Sedangkan dalam jangka pendek, dia menyebut pemerintah telah menyiapkan sejumlah jurus ekonomi.
Dia mengatakan sejumlah upaya jangka pendek pemerintah yang telah dilakukan dalam menopang daya beli masyarakat adalah penyaluran bantuan sosial (bansos) hingga pemberian tunjangan hari raya (THR). Pemerintah, kata Airlangga, juga telah memberikan sejumlah stimulan yang mendorong daya beli masyarakat selama bulan Ramadan 1446 H.
"Kemudian juga terkait dengan stabilisasi harga pangan dan stimulasi ekonomi. Ini (seperti) diskon tarif (listrik) Januari-Februari," ujarnya.
Baca Juga
Potensi Resesi Rendah
Perang dagang yang diluncurkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap seluruh negara melalui pengenaan tarif yang tinggi, membuat dunia berdiri di jurang resesi. Namun, pemerintah Indonesia menganggap kondisi ekonomi dalam negeri tetap baik, dengan potensi resesi rendah.
Menteri Airlangga mengatakan, probabilitas resesi yang dihadapi Indonesia dengan makin tidak kondusifnya ekonomi global itu hanya sebesar 5%, sama dengan Malaysia. Ini jauh lebih rendah dari potensi resesi Amerika Serikat dan Jepang yang mencapai 30%, Meksiko 54%, Jerman 50%, Kanada 48%, dan Rusia 25%.
"Probability risk recession meningkat, namun Indonesia masih relatif rendah di 5%. Rendahnya potensi resesi ekonomi Indonesia karena terjaganya kesehatan fundamental ekonomi Indonesia. Ini mulai dari pertumbuhan ekonomi yang terus terjaga di kisaran 5%. Pada 2024, pertumbuhan ekonomi RI 5,03% secara kumulatif.," kata Airlangga.
Airlangga menjelaskan, inflasi juga terkendali terkendali. Per Maret 2025, atau pada periode Ramadan hingga Lebaran, tekanan inflasi hanya sebesar 1,65% secara bulanan dan 1,03% secara tahunan. Ini masih terjaga di dalam sasaran target inflasi pemerintah di kisaran 1,5-3,5% tahun ini.
Selain itu, optimisme konsumen Indonesia tinggi terhadap stabilitas ekonomi di dalam negeri. Optimisme konsumen itu tergambar dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) per Februari di atas 100, yakni sebesar 126,4. Dari sisi Indeks Penjualan Riil (IPR) yang menggambarkan sentimen penjualan eceran terhadap kondisi ekonomi domestik, secara bulanan masih tumbuh 0,8% ke level 213,2, berdasarkan survei penjualan eceran Bank Indonesia per Februari 2025.
Kredit Februari Tumbuh 2 Digit
Terjaganya indikator itu, kata dia, juga didukung sektor keuangan Indonesia yang tetap kuat. Neraca pembayaran Indonesia misalnya, masih surplus US$ 7,2 miliar.
Di sektor perbankan, pertumbuhan kredit per Februari masih dua digit di level 10,4% dan dana pihak ketiga (DPK) 5,75%. Likuiditas perbankan juga dinilai masih kuat, terlihat dari ukuran loan to deposit ratio (LDR) di level 88,92% per Februari 2025, dengan rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) 26,32%. Sementara itu, rasio permodalan atau capital adequacy ratio (CAR) bank juga masih tinggi di atas ambang batas 8%, yaitu 27,05%.
Dari sisi daya beli masyarakat, pemerintah menilai juga masih terus terjaga. Hal ini terlihat dari belanja pada musim Hari Besar Keagamaan Nasional seperti Nataru 2024 dan Ramadan 2025. Mengutip data Mandiri Spending Index (MSI), belanja masyarakat terus meningkat dengan level indeks naik ke 248,1 dari kondisi Ramadan 2024 yang indeksnya di bawah 200.
Cadangan devisa hingga akhir Februari 2025 Airlangga nilai juga masih tetap tinggi di level US$ 154,5 miliar, setara pembiayaan 6,4 bulan impor plus pembayaran utang luar negeri pemerintah. Neraca perdagangan juga masih surplus selama 58 bulan berturut-turut, yang tahun ini hingga Februari surplus US$ 3,12 miliar.
Dari sisi stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, dia mengakui memang terus terdepresiasi hingga ke level Rp 16.849 per dolar AS pada 8 April 2025. Namun, depresiasinya hanya sekitar 4,43% secara year to date. Ia menganggap masih kecil dibanding mata uang negara lain, seperti yen Jepang yang mencapai 50%.
"Dunia sedang tidak baik-baik saja. Kita lihat indikator pasar keuangan masih berfluktuasi, IHSG (indeks harga saham gabungan) masih negatif. Sedangkan nilai tukar rupiah relatif terjaga," ungkap Airlangga.

