Rupiah Tembus Rp 17.000 saat Libur Lebaran, akibat Perang Dagang?
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS anjlok saat momen libur lebaran Idulfitri 1446 H/2025 M. Per Jumat (4/4/2025) malam, mata uang rupiah yang diperdagangkan di pasar luar negeri atau non-deliverable forward (NDF) menembus level Rp 17.006 per dolar AS.
Anjloknya nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar AS, seperti dilansir dari Bloomberg, terjadi usai Presiden AS, Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif impor terbaru yang menyasar sejumlah negara mitra dagang, termasuk Indonesia, Rabu (2/4/2025). Kebijakan Trump ini sekaligus menandai babak baru dimensi perang dagang secara global.
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi memberikan pandangan terkait kebijakan tarif impor terbaru oleh Trump. Dia menyoroti negara-negara seperti China, Uni Eropa, Kanada hingga Meksiko yang memberikan sinyal akan melakukan perlawanan terhadap kebijakan tarif yang disasar Trump.
Baca Juga
Respons Kebijakan Tarif Impor Trump, BI Siaga Jaga Stabilitas Rupiah
"Indonesia sendiri, kita lihat, melakukan negosiasi, bukan melakukan perlawanan terhadap perang dagang tersebut," katam Ibrahim kepada Investortrust, Sabtu (5/4/2025).
Meski demikian, menurut Ibrahim Assuaibi, perang dagang yang tengah berkecamuk bukan pemicu utama anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Ibrahim mengungkapkan, rilis data tenaga kerja AS pada Jumat (4/4/2025) waktu setempat telah menimbulkan tekanan besar terhadap pergerakan rupiah di pasar NDF.
Selain itu, komentar para pejabat bank sentral AS, The Fed, terkait arah kebijakan suku bunga acuan Fed Funds Rate (FFR) membuat mata uang NKRI makin tertekan.
"Ini yang sebenarnya membuat rupiah melemah cukup tajam, Mungkin kalau seandainya data tenaga kerja AS tidak bagus, kemudian testimoni The Fed tidak menurunkan suku bunga mungkin lain ceritanya," ujar Ibrahim.
Berdasarkan data Departemen Tenaga Kerja AS yang dirilis, Jumat (05/04/2025), pertumbuhan lapangan kerja AS Maret lebih kuat dari yang diperkirakan, tapi tingkat pengangguran meningkat. Hal ini setidaknya memberikan sedikit ketenangan sementara bahwa pasar tenaga kerja tetap stabil.
Biro Statistik Tenaga Kerja AS menyebutkan, penggajian nonpertanian (nonfarm payrolls) naik menjadi 228 ribu pada Maret, dari 117 ribu yang direvisi pada Februari, melampaui perkiraan Dow Jones sebanyak 140 ribu. Namun, tingkat pengangguran naik menjadi 4,2%, lebih tinggi dari perkiraan 4,1% seiring meningkatnya tingkat partisipasi angkatan kerja.
"Kondisi global akibat perang dagang begitu kuat. Nah, dampak dari eksternal ini membuat mata uang rupiah di pasar DNDF tembus Rp 17.006. Pada Senin mendatang saat pembukaan, rupiah bisa di atas Rp 17.000," tutur Ibrahim.
Ibrahim menjelaskan, cuti panjang libur Lebaran semestinya tidak membuat pemerintah, terutama Bank Indonesia (BI), lepas memantau pergerakan nilai tukar rupiah di pasar NDF.
Dia memuji langkah BI yang baru saja mengumumkan akan melakukan triple intervention guna menjaga stabilitas mata uang Garuda. "Apa yang dilakukan BI kemungkinan besar akan ada hasilnya, mungkin saat nanti rupiah tembus level 17.000," tandas dia.
BI memberikan respons atas kebijakan tarif impor yang diberlakukan Donald Trump. Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso mengatakan, BI terus memonitor perkembangan pasar keuangan global dan domsetik setelah kebijakan tarif Trump terbaru pada Rabu (2/4/2025) lalu.
"Pascapengumuman Trump yang disusul pengumuman retaliasi tarif oleh Tiongkok pada 4 April 2025, pasar bergerak dinamis. Pasar saham global mengalami pelemahan dan yield US Treasury jatuh ke level terendah sejak Oktober 2024," kata dia dalam keterangan tertulis, Sabtu (5/4/2025).
BI, menurut Ramdan, juga terus siaga menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sebagai respons atas kebijakan tarif impor Trump tersebut.
Baca Juga
Bahana: Tarif Trump Akan Pengaruhi Rupiah dan Fundamental Neraca Pembayaran
Menurut Ramdan Denny, langkah BI itu akan ditempuh melalui instrumen triple intervention, yakni intervensi pasar valas pada transaksi spot dan domestic non deliverable forward (DNDF) serta pembelian SBN di pasar sekunder.
"Langkah tersebut diambil BI dalam rangka memastikan kecukupan likuiditas valas untuk kebutuhan perbankan dan dunia usaha serta menjaga keyakinan pelaku pasar," ujar Ramdan Denny.

