Rupiah Terkapar ke Rp 16.622 Per Dolar AS, BI: Global Penuh Ketidakpastian
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar rupiah terhadap terhadap dolar Amerika Serikat (AS) anjlok sepanjang perdagangan Selasa (25/3/2025). Mengacu data Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah ditutup merosot 61 poin (0,36%) hingga tembus level Rp 16.622 per dolar AS.
Dalam perdagangan pasar spot valas, berdasarkan data Yahoo Finance, kurs rupiah melemah 41 poin (0,25%) ke level Rp 16.590 per dolar AS. Sebelumnya mata uang Garuda ditutup pada level Rp 16.549 berdasarkan Yahoo Finance.
Baca Juga
Tolak Intervensi Pemerintah di Pasar Modal, Rupiah Anjlok Terendah Rp 16.622/USD
Direktur Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Fitra Jusdiman menilai, terkaparnya nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini lantaran faktor global yang masih penuh ketidakpastian.
Kebijakan tarif dagang Presiden AS Donald Trump berdampak terhadap negara-negara lain. Selain itu, arah kebijakan The Fed berpotensi lebih hawkish atau agresif. Lalu ada faktor gejolak politik yang masih terus memanas. "Hal ini membuat dolar AS kembali menguat terhadap sebagian besar mata uang lain, termasuk rupiah dan yield UST kembali meningkat," ungkap Fitra kepada Investortrust, Selasa (25/3/2025).
Selain itu, lanjut Fitra, ada lonjakan kebutuhan valas dari korporasi serta kebutuhan pembayaran atau repatriasi dividen menjelang libur Lebaran 2025/Idulfitri 1446 H.
Fitra memastikan, BI bakal terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dengan terus melakukan intervensi pasar, antara lain kehadiran di pasar spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), serta pembelian surat berharga negara (SBN) lewat pasar sekunder.
"Triple intervention oleh BI secara terukur untuk memastikan stabilitas nilai tukar dan keseimbangan demand/supply valas, sehingga dapat menjaga market confidence," jelas dia.
Kekhawatiran Fiskal
Presiden Komisaris HFX International Berjangka Sutopo Widodo mengungkapkan, merosotnya nilai tukar rupiah pada hari ini tidak lepas dari sentimen dalam negeri. Sutopo menyebut ada kekhawatiran yang berkembang tentang kesehatan fiskal Indonesia, terutama potensi peningkatan defisit anggaran.
Baca Juga
Cek Breaking News, Analis Paparkan Penyebab Rupiah Anjlok Terdalam Tahun Ini
Meski fundamental ekonomi Indonesia kuat, kekhawatiran defisit transaksi berjalan atau inflasi dapat memengaruhi sentimen investor. "Fluktuasi sentimen pasar, seperti kekhawatiran stabilitas politik atau kebijakan ekonomi, masih menjadi pemicu pelemahan rupiah," kata dia kepada Investortrust.
Dia menjelaskan, stabilitas rupiah kemungkinan akan terus menghadapi tantangan dalam waktu dekat. Terutama jika risiko ekonomi global terus berlanjut dan suku bunga AS tetap tinggi. "Namun, kebijakan strategis Indonesia, seperti mengendalikan inflasi dan menjaga stabilitas ekonomi, dapat membantu meredakan tekanan ini dari waktu ke waktu," ujar dia.

