Dirjen PPR Jamin Pengelolaan Utang Dilakukan Secara Hati-hati
JAKARTA, investortrust.id - Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (PPR) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Suminto menjelaskan pengelolaan utang pemerintah yang mengemuka pasca anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok pada Selasa (18/3/2025).
“Utang pemerintah terus dikelola dengan hati-hati dan sustainable,” kata Suminto, kepada investortrust.id, dikutip Jumat (21/3/2025).
Suminto menjelaskan portofolio utang pemerintah pada level aman dengan indikator risiko yang terkendali. Salah satunya melalui pembiayaan APBN yang terus dikelola dengan baik.
“Pengadaan utang yang dilakukan on track sejalan dengan kebutuhan pembiayaan APBN,” ucap dia.
Baca Juga
Utang Pemerintah Jatuh Tempo Rp 800 Triliun, Pasokan Surat Utang Meningkat
Selain itu, Suminto menyebut pengadaan utang dilakukan secara oportunistik dan fleksibel. Ini dilakukan dalam rangka memperoleh biaya utang (cost of fund) yang efisien dengan risiko yang terkelola.
Suminto menjelaskan pasar Surat Berharga Negara (SBN) cukup stabil. SUN tenor 10 tahun pada Kamis (21/3/2025) ditutup pada level 7,07%. “Memang mengalami sedikit kenaikan, tetapi pada level yang cukup moderat. Secara year to date, yield SUN tenor 10 tahun hanya mengalami kenaikan 4 bps,” ucap dia.
Dari sisi lelang, Suminto menjelaskan SBN baik Surat Utang Negara (SUN) maupun Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dari Januari hingga Maret ini sangat baik. Ini terlihat dari penawaran masuk (incoming bid) yang kuat, termasuk dari asing. Dengan incoming bid yang kuat, target lelang dapat tercapai dengan imbal hasil yang wajar.
“Pemenuhan pembiayaan APBN 2025 on track, didukung lelang SBN yang kuat, penerbitan SBN ritel yang kuat, dan penerbitan SBN valas yang juga bagus,” ujar dia.
Suminto mengatakan kepercayaan investor yang meningkat ditandai oleh incoming bid yang tinggi serta capital inflow yang positif di pasar SBN. “Hingga 18 Maret, asing mencatatkan inflow sebesar Rp 16,65 triliun,” kata dia.

