Duit Cekak, Diduga Jadi Alasan Turunnya Pemudik Lebaran 2025
JAKARTA, investortrust.id - Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menyoroti proyeksi jumlah pemudik pada Lebaran 2025 yang turun akibat pelemahan daya beli masyarakat. Direktur Pengembangan Big Data Indef Eko Listiyanto melihat penurunan daya beli ini terefleksi dari penerimaan negara di sektor Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang merosot pada Januari 2025.
“Itu menggambarkan bukan tidak inggin mudik, tapi nggak bisa mudik karena duitnya cekak,” kata Eko dalam diskusi “Ekonomi Lebaran Saat Cekak Anggaran” yang digelar daring, Rabu (19/3/2025).
Eko menilai strategi penghematan anggaran yang termuat dalam Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2025 terlalu berlebihan dilakukan di awal tahun. Seharusnya, pemerintah terus menggenjot belanja seiring melambatnya daya beli.
“Harusnya menumbuhkan ekonomi dulu, tapi sayangnya kita efisiensi dulu, baik di pusat dan daerah,” kata dia.
Pada Januari 2025, dilaporkan dalam buku APBN KiTa edisi Februari menunjukkan PPN impor tercatat Rp 20,21 triliun dan PPN dalam negeri sebesar Rp 2,58 triliun. Jika digabung dengan PPN & PPnBM realisasi neto hingga Januari 2025 mencatatkan Rp 24,62 triliun.
Bandingkan dengan penerimaan pada Januari 2024. Pada tahun tersebut PPN impor tercatat sebesar Rp 19,6 triliun dan PPN dalam negeri sebesar Rp 35,6 triliun. Sementara realisasi neto PPN & PPnBM mencapai Rp 57,75 triliun.
Penurunan PPN impor dan PPN dalam negeri mencerminkan adanya perlambatan ekonomi, danpelemahan permintaan domestik. Jika konsumsi dalam negeri turun, maka permintaan barang impor juga ikut berkurang yang berujung pada pelamahan pada aktivitas ekonomi industri, yang bisa berujung pada tekanan daya beli publik.
Baca Juga
Menhub: Ada Pergerakan 12,1 Juta Orang pada Puncak Arus Mudik Lebaran 28 Maret
Sementara itu peneliti Pusat Ekonomi Digital dan UMKM Indef Fadhila Maulida mengatakan, pergerakan masyarakat selama mudik sebetulnya akan menciptakan efek berantai yang dapat mengerek pertumbuhan ekonomi. Ini karena peluang ekonomi saat mudik akan berimbas ke sektor pariwisata, UMKM, dan ekonomi regional.
“Mudik akan mendorong sektor pariwisata, banyak pemudik yang mengkombinasikan pulang kampung dengan wisata keluarga,” kata Fadhila.
Fadhila menyebut mudik akan berdampak positif bagi sektor perhotelan, restoran, dan jasa transportasi lokal. Dari sektor UMKM lokal, kunjungan wisatawan selama mudik akan meningkatkan permintaan produk lokal makanan khas daerah dan suvenir, sehingga menjadikan tambahan bagi UMKM.
“Ekonomi regional, dengan adanya mudik ini, ini akan meningkatkan PDRB untuk sektor transportasi lokal dan retribusi ekonomi regional,” kata dia.
Seperti diketahui, berdasarkan riset Kementerian Perhubungan (Kemenhub) pemudik Lebaran 2025 diperkirakan mencapai 146,48 juta orang atau 52% penduduk Indonesia. Angka ini turun 24% dibandingkan tahun lalu yang mencapai 193,6 juta orang.

