Menkeu Nilai Indikator Ekonomi Indonesia Terjaga, Akademisi: Hati-hati Membaca Data
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyebut surplus neraca perdagangan Indonesia sebesar US$ 3,21 miliar menjadi indikator perekonomian yang baik. Sebab, surplus neraca perdagangan terjadi di tengah perang tarif impor antara Amerika Serikat dan China.
“Di tengah hal tersebut, naiknya tarif yang tinggi, proyeksi perlemahan (ekonomi), Indonesia masih menjaga trade surplus 58 bulan secara berturut-turut,” kata Sri Mulyani, saat konferensi pers Hasil Lelang Surat Utang Negara (SUN), yang digelar di Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta, dikutip Rabu (19/3/2025).
Indikator ketahanan perekonomian lain yang dibaca Sri Mulyani yaitu PMI Manufaktur Indonesia yang masih berada di level ekspansif sebesar 53,6. Angka ini menjadi bentuk rebound atas kondisi PMI Manufaktur Indonesia yang mengalami kontraksi selama lima bulan menjelang akhir 2024.
“Ini memberikan kita optimisme bahwa kuartal I-2025, kita masih terjaga,” ujar dia.
Salah satu pendorongnya, kata Bendahara Negara, yaitu konsumsi rumah tangga yang terjaga dengan inflasi yang rendah. Sri Mulyani enggan menyebut deflasi yang terjadi pada dua bulan awal 2025 merupakan bentuk pelemahan daya beli.
Deflasi tersebut muncul karena desain pemerintah yang memberikan insentif pada komponen harga yang diatur pemerintah (administered price inflation). Insentif yang muncul untuk komoditas makanan, tiket pesawat, dan tarif tol, serta listrik rumah tangga.
Baca Juga
“Itu bukan karena daya beli, itu karena intervensi kebijakan pemerintah,” kata dia.
Dengan begitu, Sri Mulyani berharap daya beli masyarakat dapat terjaga dengan harga yang relatif stabil.
Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan indikator fundamental Indonesia lainnya, di antaranya, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) mencapai 107,1 menunjukkan sisi ekspansif. Ini juga didukung dengan pertumbuhan kredit di Januari 2025 yang mencapai 10,3% dan Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai 5%.
“Jadi dari berbagai kondisi tersebut kami melaporkan bahwa perekonomian Indonesia secara fundamental masih baik,” kata Airlangga, saat di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, kemarin.
Meski demikian, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Telisa Falianty melihat perlunya pemerintah dan masyarakat secara luas berhati-hati melihat angka-angka indikator ekonomi makro. Permintaan ini muncul karena ada terputusnya (disconnect) data makro dan mikro ekonomi Indonesia.
Secara agregat, Telisa mengatakan, data ekonomi makro masih tampak bagus karena kelompok atas mendominasi kinerja yang baik. Kondisi ini membuat kelompok menengah dan bawah jadi tertutupi
Baca Juga
Survei CNBC Fed: Pertumbuhan Ekonomi AS Melambat, Kekhawatiran Resesi Meningkat
“Jadi kita harus cukup kritis melihat keterkaitan antara data makro dan mikro. Data mikro menggambarkan realitas di lapangan,” kata Telisa.
Untuk membuktikan kondisi fundamental perekonomian yang solid, Telisa menyarankan kelengkapan data secara menyeluruh dari survei di lapangan. Sebab, fundamental ekonomi yang kuat harus dilihat secara struktural.
“Harus kita lihat kekuatan strukturnya, bagaimana keseimbangan antara kelompok atas, menengah, dan bawah,” jelas dia.
Sejarah krisis yang pernah dialami Indonesia membuktikan ketangguhan fundamental ekonomi saja tidak cukup. Dia mengatakan rasa panik dan penyebarannya (self fulfilling panics and contagion) dapat datang dengan cepat dan mengikis kondisi fundamental ekonomi itu sedikit demi sedikit.
“Kita harus memastikan fundamental itu seimbang dari sisi kekuatan dan daya tahannya di setiap lapisan ekonomi,” kata dia.

