Melemah Lagi, Rupiah Ditutup di Posisi Rp16.453 per Dolar AS
JAKARTA, investortrust.id - Kurs rupiah lagi-lagi melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam perdagangan Rabu (12/3/2025). Jisdor Bank Indonesia (BI) mencatat kirs rupiah ditutup melemah 23 poin (0,13%) ke level Rp16.453 per dolar AS. Sebelumnya Jisdor mencatat kurs rupiah melemah ke posisi Rp16.430 per dolar AS.
Kemudian pada perdagangan pasar spot valas berdasarkan data Yahoo Finance, kurs rupiah bergerak lesu hingga melemah 41 poin (0,25%) ke level Rp16.440 per dolar AS. Adapun sebelumnya Yahoo Finance menunjukkan mata uang rupiah berada pada posisi Rp16.339 per dolar AS.
Menurut pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi, para pedagang bersiap untuk data indeks harga konsumen utama, yang akan memberikan lebih banyak petunjuk tentang ekonomi dan dapat memberikan wawasan tentang keputusan suku bunga Federal Reserve di masa mendatang.
"Pasar khawatir agenda tarif Trump akan mendukung inflasi dan mencegah Federal Reserve memangkas suku bunga segera, dengan pembacaan hari Rabu diharapkan akan memperkuat gagasan ini," tulis Ibrahim dalam laporannya, Rabu (12/3/2025).
Pejabat Fed telah mengindikasikan bahwa pemotongan suku bunga jangka pendek tidak mungkin terjadi, menekankan kewaspadaan atas risiko inflasi, terutama mengingat kebijakan tarif baru-baru ini.
Diketahui Fed dijadwalkan bertemu pada 18-19 Maret untuk memutuskan suku bunga.
Pasar khawatir agenda tarif Trump akan mendukung inflasi setelah tarif baja dan aluminium Trump sebesar 25% mulai berlaku Tarif 25% Presiden Donald Trump untuk semua impor baja dan aluminium AS mulai berlaku pada hari Rabu, yang meningkatkan ketegangan perdagangan global.
"Langkah ini memengaruhi berbagai macam produk, mulai dari komponen mesin industri hingga barang sehari-hari seperti kaleng soda," ungkap Ibrahim.
Sebelum pemberlakuan, Trump sempat mengusulkan peningkatan tarif impor baja dan aluminium Kanada menjadi 50%. Eskalasi ini merupakan reaksi terhadap pembatasan perdagangan baru Ontario.
Namun, setelah diskusi antara Perdana Menteri Ontario Doug Ford dan Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick, Ontario setuju untuk menangguhkan biaya tambahan sebesar 25% atas ekspor listrik ke AS. Akibatnya, pemerintahan Trump membatalkan usulan kenaikan tarif sebesar 50%, dan mempertahankan tarif yang berlaku saat ini sebesar 25%.

