DBS Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi 5,1%, BI Potensi Turunkan Bunga
JAKARTA, investortrust.id - Deflasi yang terjadi pada Januari dan Februari 2025 menjadi salah satu sorotan DBS Group Research dalam analisis mengenai perekonomian Indonesia. Meski demikian, DBS Group Research masih optimistis proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,1% tercapai pada 2025. Proyeksi ini lebih tinggi dari realisasi pertumbuhan ekonomi pada 2024 yang mencapai 5,03%.
Deflasi antara lain terjadi karena kebijakan diskon tarif listrik bagi pelanggan dengan daya di bawah 2.200 VA. Selain itu, daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih.
"Selain itu, disinflasi dari sisi penawaran tercermin dari penurunan rata-rata 7,7% secara tahunan pada inflasi yang diatur pemerintah di bulan Januari-Februari. Tecermin juga dari inflasi energi yang mengalami kontraksi rata-rata 16% secara tahunan pada periode yang sama. Harga bahan makanan pokok dan bahan makanan tidak tahan lama juga turun, meski kenaikan harga pada segmen makanan tertentu (seperti cabai) sudah terlihat pada minggu lalu,” tulis DBS, diakses Rabu (05/03/2025).
Baca Juga
Pertumbuhan Ekonomi Turun, Industri Tolak Cukai Minuman Berpemanis
Inflasi Inti Naik
Sementara itu, inflasi inti melampaui inflasi umum yang naik 2,5% secara tahunan. Hal ini, lanjut DBS, menandakan kekuatan dari sisi permintaan yang stabil.
Seiring dengan berlalunya dampak subsidi listrik, DBS Group Research memperkirakan inflasi umum akan kembali menuju ke target Bank Indonesia (BI) sebesar 1,5%-3,5%. Deflasi yang terjadi di awal tahun dan asumsi bahwa inflasi akan kembali ke target membuat DBS Group Research merevisi ke bawah perkiraan inflasi menjadi 1,2% secara tahunan. Sebelumnya, DBS memperkirakan inflasi Indonesia mencapai 2,2% secara tahunan.
Baca JugaTrumponomics Dorong Dolar Terdepresiasi, Siapkan Kebijakan Ekonomi Plan B
Peluang Turunkan Bunga
DBS menduga deflasi selama dua bulan di awal 2025 bakal membuat Bank Indonesia (BI) menurunkan suku bunga acuan. Meski begitu, langkah menurunkan BI Rate itu masih dihantui kondisi kurs rupiah yang rentan dan sempat terjatuh paling dalam sejak pandemi Covid-19.
“Rupiah mempertahankan posisinya sebagai mata uang regional berkinerja buruk,” papar laporan tersebut.
DBS juga memproyeksikan laju pertumbuhan mengalami tekanan karena tiga gebrakan yang dibuat Presiden Prabowo Subianto. Tiga program ini adalah program quick wins, efisiensi belanja, dan pembentukan Danantara yang dinilainya akan memunculkan risiko baru.
Di sisi lain, daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih akan menghambat ruang pemerintah dalam meningkatkan penerimaan pajak. “Para pejabat terkait harus menyeimbangkan antara kebutuhan untuk meningkatkan pengumpulan pajak dan juga memperhatikan kebutuhan untuk mempertahankan daya beli rumah tangga berpenghasilan rendah,” tandasnya.

