Rupiah Ditutup Melemah, Terdampak Tarif Impor Trump
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat dalam perdagangan Senin (10/02/2025). Hal ini lantaran terdampak kebijakan kenaikan tarif impor oleh Presiden AS Donald Trump.
Jisdor Bank Indonesia (BI) mencatat mata uang Garuda melemah 25 poin (0,15%) ke level Rp 16.350 per dolar AS. Sementara dari perdagangan di pasar spot valas yang dilansir Yahoo Finance, kurs rupiah merosot terhadap greenback hingga 77 poin (0,44%) ke level Rp 16.340 per dolar AS.
Tarif Balasan Cina, Prospek Perang Ukraina
Sementara itu, tarif balasan Cina atas barang-barang AS akan mulai berlaku hari in. Hal itu semakin berkontribusi pada sentimen negatif.
Washington juga meningkatkan tekanan terhadap Iran minggu lalu. Departemen Keuangan AS menjatuhkan sanksi baru terhadap beberapa individu dan kapal tanker, yang membantu mengirimkan jutaan barel minyak mentah Iran per tahun ke Tiongkok.
Menurut pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi, menguatnya indeks dolar AS tidak lepas dari kebijakan tarif impor terbaru yang diberlakukan oleh Presiden Donald Trump. Trump mengumumkan tarif baru sebesar 25% untuk semua impor baja dan aluminium. "Langkah ini telah meningkatkan kekhawatiran atas meningkatnya ketegangan perdagangan, dan dampak potensialnya terhadap ekonomi global," katanya dalam keterangan di Jakarta, Senin (10/02/2025).
Tarif Balasan Cina, Prospek Perang Ukraina
Sementara itu, tarif balasan Cina atas barang-barang AS akan mulai berlaku hari in. Hal itu semakin berkontribusi pada sentimen negatif.
Trump mengatakan pada hari Minggu waktu setempat-AS, ia membuat kemajuan dengan Rusia untuk mengakhiri perang Ukraina. Tetapi, pengusaha terkenal papan atas ini menolak memberikan rincian tentang komunikasi apa pun yang ia lakukan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.
"Sanksi yang dijatuhkan pada perdagangan minyak Rusia pada tanggal 10 Januari mengganggu pasokan Moskow ke klien utamanya, Cina dan India," lanjutnya.
Washington juga meningkatkan tekanan terhadap Iran minggu lalu. Departemen Keuangan AS menjatuhkan sanksi baru terhadap beberapa individu dan kapal tanker, yang membantu mengirimkan jutaan barel minyak mentah Iran per tahun ke Tiongkok.
Dari pasar Asia, investor menyoroti laporan inflasi Januari dari Cina. Indeks harga konsumen (IHK) naik moderat pada Januari, sementara indeks harga produsen (PPI) mengalami penurunan yang konsisten.
"Data ini menyoroti pelemahan berkelanjutan dalam belanja rumah tangga dan aktivitas industri, yang menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi. Kini pasar akan mencermati respons kebijakan Cina. Inflasi yang lemah dapat mendorong Beijing untuk meluncurkan lebih banyak langkah stimulus, seperti pemotongan suku bunga atau belanja infrastruktur, untuk meningkatkan ekonominya yang lesu," ujar Ibrahim.
"Data ini menyoroti pelemahan berkelanjutan dalam belanja rumah tangga dan aktivitas industri, yang menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi. Kini pasar akan mencermati respons kebijakan Cina. Inflasi yang lemah dapat mendorong Beijing untuk meluncurkan lebih banyak langkah stimulus, seperti pemotongan suku bunga atau belanja infrastruktur, untuk meningkatkan ekonominya yang lesu," ujar Ibrahim.

