Trump Tunda Tarif Dagang, Rupiah Rebound
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar berhasil rebound atau balik menguat terhadap dolar Amerika Serikat, Selasa (4/2/2025) ini. Jisdor Bank Indonesia (BI) mencatat mata uang rupiah menguat 88 poin (0,53%) ke level Rp 16.365 per dolar AS, dibanding penutupan perdagangan sebelumnya ambruk di posisi Rp 16.453 per dolar AS.
Sementara pada perdagangan di pasar spot valas yang dipantau Yahoo Finance, mata uang Garuda bergerak menguat signifikan 90 poin (0,55%) ke level Rp 16.339 per dolar AS. Sebelumnya, rupiah merosot ke level Rp 16.429 per dolar AS.
"Ini dipengaruhi, antara lain, sentimen keputusan Presiden AS Donald Trump menunda rencana untuk mengenakan tarif perdagangan (sebesar 25%) terhadap Kanada dan Meksiko. Namun, kenaikan mata uang regional terbatas, mengingat tarif tambahan 10% Trump terhadap Cina masih akan berlaku di kemudian hari," kata Ibrahim dalam keterangan di Jakarta, Selasa (04/02/2025).
Meksiko Janjikan Penegakan Hukum
Sementara itu, baik Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau maupun Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum mengatakan mereka telah sepakat untuk memperkuat upaya penegakan hukum perbatasan, sebagai tanggapan atas tuntutan Trump untuk menindak tegas imigrasi dan penyelundupan narkoba. Hal ini akan menghentikan sementara pengenaan tarif sebesar 25% selama 30 hari atas barang dari kedua negara, dengan tarif 10% untuk impor energi dari Kanada yang telah ditetapkan mulai berlaku pada hari Selasa di AS.
"Penundaan tarif 25% untuk Meksiko dan Kanada telah memberi ruang bagi sentimen instrumen berisiko untuk membaik, dan berkontribusi pada pelemahan dolar AS. Trump juga berencana untuk berbicara dengan Presiden Cina Xi Jinping secepatnya minggu ini, dan Gedung Putih mengatakan (tambahan) bea masuk 10% untuk semua barang Cina akan mulai berlaku pada hari Selasa," paparnya.
Di sisi lain, ada kekhawatiran terus-menerus atas suku bunga AS yang tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama, terutama setelah data inflasi indeks harga PCE yang kuat dari minggu lalu. Federal Reserve telah mengisyaratkan bahwa inflasi yang kuat akan mengurangi dorongan untuk terus memangkas suku bunga.
"Pejabat The Fed juga menandai keengganan untuk melonggarkan kebijakan, di tengah ketidakpastian atas kebijakan Trump," tutur Ibrahim.

