Gabung BRICS Jadi Pembuktian Daya Tawar Indonesia yang Tinggi
JAKARTA, investortrust.id - Bergabungnya Indonesia dalam blok ekonomi BRICS menjadi salah satu kebijakan luar negeri yang terjadi dalam 100 hari pemerintahan Prabowo. Bahkan masuknya Indonesia dalam keanggotaan BRICS dipercaya dapat menjadi pembuktian dari daya tawar yang tinggi kepada negara lain.
Direktur Eksekutif Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) Fahmi Wibawa mengatakan bahwa dalam 100 hari pertama Presiden Prabowo sangat aktif pada lawatan ke luar negeri. Langkah ini pun dianggap sebagai gerakan yang cukup baik untuk memperluas potensi kerja sama dari negara lain.
Dalam acara diskusi publik 'Evaluasi Kritis 100 Hari Pemerintahan Prabowo Bidang Politik dan Pemberantasan Korupsi', Kamis (23/1/2025), Fahmi turut membandingkan keputusan politik tersebut dengan 10 tahun pemerintahan Jokowi, di mana hanya Menteri Luar Negeri lah yang punya kemewahan membawa nama Indonesia di forum-forum internasional.
"Saat ini kan, sekarang dilakukan langsung oleh Presiden, jadi Presidential Diplomacy," sebut Fahmi secara virtual.
Dosen Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta itu menilai, langkah politik ini juga menegaskan posisi Indonesia yang menganut asas bebas aktif dan tidak terikat dengan perseteruan geo-politik anggota lain.
"Bisa dibilang ketergantungan dengan barat perlu dikurangi, lalu dikuatkan dengan penyimbangnya, jadi dia mengambil apa yang pernah dilakukan oleh Bung Karno dulu, bersimpati dengan semua kekuatan besar, namun ingin mengambil keuntungan dari kompetisi di antara mereka," jelasnya.
Di sisi lain, bergabungnya BRICS dianggap membuka keran ekonomi Indonesia di negara-negara anggota lainnya. Secara pribadi, Fahmi menilai langkah politik tersebut lebih banyak memberikan manfaat bagi Indonesia.
"Karena angka ekspor kita lebih banyak kepada negara-negara yang bersimpati pada BRICS, mungkin bukan anggota atau mungkin tidak langsung di dalamnya, tapi yang punya pendulumnya itu di BRICS," jelasnya.
"Jadi saya kira rasanya kita lebih banyak merasakan manfaatnya daripada mudarat-nya, sehingga kita tinggal mengoptimalkannya saja, jadi tinggal bagaimana nilai tambah sesungguhnya bisa kita dapatkan, bukan karena geo-politik yang berpihak, tapi lebih kepada bagaimana kemampuan daya tawar kita itu tinggi. Dan itu dapat kita optimalkan di BRICS," harap Fahmi. (C-13)

