Kadin Rekomendasikan Pemerintah Belajar dari Pengalaman Ini untuk Kejar Pertumbuhan Ekonomi 8%
JAKARTA, investortrust.id - Kakompat Kajian Sektoral dan Pelaku Industri Kamar Dagang dan Industri (Kadin) David E. Sumual mengungkap, di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto ke depan Indonesia memiliki potensi untuk mengejar pertumbuhan ekonomi hingga 8%. Untuk mengejar target pertumbuhan tersebut, ia meminta Presiden Prabowo Subianto untuk dapat belajar dari sejumlah pengalaman kesalahan di masa lalu.
Pertama David mengemukakan kesalahan penerapan kebijakan anggaran oleh Pemerintah Yunani. Ia mengimbau agar Prabowo dapat belajar dari kesalahan Yunani pada medio tahun 2010 lalu, ketika pemerintah Yunani menerapkan kebijakan anggaran yang lebih besar pasak daripada tiang, dengan terus menerbitkan surat utang.
Sekadara informasi, pada periode tersebut Yunani memang telah lama memiliki tingkat utang publik yang tinggi, jauh melampaui batas yang ditetapkan oleh Uni Eropa sebesar maksimal 60% dari PDB. Pada tahun 2009 saja, utang publik Yunani mencapai sekitar 130% dari PDB, yang menciptakan kekhawatiran di pasar internasional tentang kemampuan Yunani untuk membayar kembali utangnya.
Dengan menghindari penerapan kebijakan seperti yang dilakukan Yunani, pemerintah pun pada akhirnya akan dapat menjaga sentimen investor, salah satunya di pasar obligasi.
Baca Juga
Pemerintah Klaim Program MBG Akan Tingkatkan Pertumbuhan Ekonomi Hampir 1%
"Ini contoh yang perlu kita lihat, jadi kita kalau nafsu spend, spend, spend terus, tapi tidak ada liquidity-nya, tidak ada resources-nya juga bahaya," katanya dalam Kadin Global & Domestic Economic Outlook 2025 di Jakarta, Senin (30/12/2024).
Kemudian pengalaman lain yang dapat diambil oleh Prabowo ialah belajar dari yang dialami oleh China pascatahun 2019. Dalam hal ini, Ekonom Kadin itu menekankan agar Prabowo perlu meningkatkan return on investment. Menurutnya pemerintah mesti mengalokasikan investasi secara efisien dan terintegrasi dengan ekosistem ekonomi di dalam negeri.
"Salah satunya tadi ICOR-nya kalau bisa kita turunkan ke 4 seperti India dan Vietnam," ungkapnya. ICOR atau Incremental Capital Output Ratio adalah indikator yang digunakan dalam ekonomi untuk mengukur efisiensi investasi dalam menghasilkan output atau pertumbuhan ekonomi. ICOR mengukur berapa banyak investasi tambahan yang dibutuhkan untuk menghasilkan tambahan satu unit output atau pertumbuhan PDB.
Kepala Ekonom PT Bank Central Asia (BCA) Tbk itu menyebut, hal lain yang harus diperhatikan oleh Prabowo adalah melakukan inovasi dan modernisasi di setiap sektor untuk mendorong peningkatan kapasitas produksi. Langkah ini ia sebut telah dilakukan oleh Jepang dalam dekade terakhir, dengan memfasilitasi perusahaan yang kalah dalam persaingan usaha.
"Misalnya sektor tekstil, kalau pakai alat konvensional, lama, mungkin 1 unit input dapatnya hanya 3. Tapi kalau kita modernisasi alat-alatnya kita bisa dapat 5 unit output dari 1 unit input," sebutnya.
Baca Juga
Prabowo Subianto Harap e-Katalog Jadi Ikhtiar Turunkan Skor ICOR
Dan contoh pengalaman berikutnya yang dapat ditiru oleh Prabowo adalah melihat cara Singapura, yang melakukan industrialisasi berbasis ekspor. Selain Singapura, kata David, China juga dapat dijadikan contoh di mana pemerintahnya menguasasi suatu industri dari hulu hungga ke hilir. Ia mencontohkan bagaimana sektor properti di China yang kini berkontribusi 22% terhadap PDB.
"Pernah 30% dari ekonomi China itu adalah sektor properti dan konstruksinya. Tapi sebelum dia dorong sektor konstruksi dan propertinya itu, ekosistemnya dia betulkan dulu. Jadi mulai dari lampu, sanitarinya, keramik, semua dari dalam negeri. Kelebihan produksinya baru dia ekspor," tandasnya.

