Desember, Dana Asing Masuk ke Saham dan SBN
JAKARTA, investortrust.id – Aliran dana asing mulai kembali masuk pasar saham domestik maupun Surat Berharga Negara (SBN) pada Desember ini. Asing mencatatkan net buy di saham Rp 1,24 triliun dan di SBN Rp 2,38 triliun. Sementara pada bulan November 2024, non-resident mencatatkan net sell saham maupun SBN.
Sementara pada Kamis (5/12/2024) ini, asing mencatatkan transaksi net sell Rp 0,3 triliun. Hal ini berbalik arah dengan pembelian bersih Rp 0,74 triliun kemarin di Bursa Efek Indonesia.
“Sedangkan secara year to date, asing masih mencatatkan net buy saham Rp 22,8 triliun. Ini setara US$ 1,4 triliun,” papar BEI dalam keterangan di Jakarta, Kamis (5/12./2024) sore.
Baca Juga
SBN Ytd
Sementara itu, di pasar Surat Berharga Negara (SBN), data terbaru yang dirilis Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) adalah transaksi kemarin (4/12/2024). Non-resident melakukan penjualan neto Rp 1,28 triliun di pasar SBN rupiah yang dapat diperdagangkan.
Namun, secara year to date asing masih mencatatkan penjualan bersih Rp 31,33 triliun hingga kemarin.
Baca Juga
UMP Naik 6,5%, Menperin Agus Rencanakan Insentif Mobil Hybrid dan Listrik
SBN Prospek Cerah 2025
“SBN sangat cocok untuk investor sibuk yang ingin diversifikasi portofolio dengan aset stabil. Sukuk ritel, obligasi ritel, dan seri fixed rate memberikan fleksibilitas tenor sesuai dengan kebutuhan, mulai dari 2 hingga 10 tahun,” kata Myrdal, di Jakarta, Kamis (5/12/2024).
Bagi investor yang mengutamakan prinsip syariah, lanjut dia, bisa memilih sukuk ritel atau surat berharga syariah negara (SBSN). Sukuk memberikan alternatif berbasis syariah yang tetap kompetitif, dibandingkan instrumen konvensional.
"Berbagai SBN itu tersedia di pasar sekunder, sehingga memudahkan aksesibilitas. Prospek investasi SBN di pasar sekunder tahun depan akan cerah,” ucapnya.
Menurut dia, prospek tersebut didorong beberapa faktor kunci. Ini seperti proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional yang diperkirakan mencapai 5,17% di 2025 karena terkerek kebijakan fiskal yang agresif, dan inflasi yang diperkirakan akan terkendali di bawah 2,6%.
Kedua, Bank Indonesia (BI) juga berpeluang menurunkan suku bunga acuan hingga 50 basis poin, yang akan mendukung penguatan harga obligasi. Secara global, The Fed juga diprediksi akan melonggarkan kebijakan moneter Amerika Serikat, yang memberikan sentimen positif tambahan.
“Dengan yield obligasi tenor 10 tahun saat ini di kisaran 6,9%-7%, masih ada peluang penurunan ke 6,65% tahun depan. Ini berarti harga obligasi dapat meningkat,” kata Myrdal.
Sementara dilansir Yahoo Finance, kurs rupiah bergerak menguat 69 poin (0,43%) ke level Rp 18.855/USD sore tadi. Dalam penutupan perdagangan sebelumnya, rupiah berada di posisi Rp 15.924/USD.
Menurut Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi, menguatnya kurs rupiah terhadap greenback tidak lepas dari sentimen investor regional yang merasa sedikit lega usai pidato Ketua Federal Reserve Jerome Powell di acara New York Times. Powell mengisyaratkan kekuatan ekonomi AS namun tidak meremehkan ekspektasi penurunan suku bunga Fed Funds Rate pada Desember 25 bps, dari saat ini 4,50-4,75%. FFR ini selisih 1,25% dengan Bank Indonesia Rate 6%.
"Meski, ia juga mengisyaratkan pendekatan yang lebih hati-hati terhadap pelonggaran di masa mendatang," kata Ibrahim dalam keterangan di Jakarta, Kamis (5/12/2024).

