Rupiah Masih Potensi Menguat hingga Akhir 2024
Oleh Sunarsip,
Chief Economist The Indonesia Economic Intelligence (IEI)
INVESTORTRUST.ID - Gubernur The Fed Jerome Powell di acara Dallas Regional Chamber (14 November) menyatakan The Fed tidak terburu-buru menurunkan suku bunga acuannya, seiring dengan penguatan kinerja ekonomi Amerika Serikat saat ini. Pascapernyataan Powell tersebut, ekspektasi pelaku pasar terhadap penurunan suku bunga acuan the Fed semakin berkurang.
Terlebih, inflasi di AS mengalami kenaikan dari 2,44% year-on-year pada September 2024 menjadi 2,60% yoy Oktober 2024. Kenaikan inflasi AS tersebut terutama disebabkan oleh mengecilnya deflasi energi.
Per Oktober 2024, energi masih mengalami deflasi 1,06% (month-to-month), namun lebih rendah dibandingkan deflasi pada September 2024 sebesar 2,43% (mtm). Sementara, komponen pembentuk inflasi tercatat masih mengalami inflasi secara month-to-month, namun dengan tingkat inflasi semakin rendah.
Baca Juga
Kurs Rupiah Ditutup 'Rebound' Senin (25 November 2024), Simak Analisisnya
Trump Effect Berlanjut
Pascakemenangan Donald Trump pada pemilihan presiden Amerika Serikat (5 November 2024), indeks dolar AS cenderung menguat terhadap mata uang global. Trump effect masih berlanjut mendorong penguatan USD, di mana per 19 November 2024, indeks USD menyentuh 108,97.
Penguatan dolar AS tersebut, antara lain, dipengaruhi oleh ekspektasi bahwa terpilihnya Trump akan mendorong penguatan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat. Hal itu mendorong pelaku pasar membeli aset-aset keuangan di pasar keuangan AS.
Baca Juga
Per 25 November 2024, keyakinan pelaku pasar bahwa The Fed akan menurunkan suku bunga acuannya pada FOMC 18 Desember 2024 semakin kecil, dengan probabilitas 50,9%. Namun, ekspektasi penurunan FFR kembali terbuka pada Januari 2025.
Penurunan BI Rate Tertahan
Sementara itu, perkembangan ekonomi domestik ditandai dengan defisit transaksi berjalan membaik. Namun demikian, penurunan BI Rate tertahan.
Jika pada September The Fed sudah menurunkan Fed Funds Rate 50 bps dan berlanjut 25 bps pada 7 November, menjadi kini 4,50-4,75%, Bank Indonesia baru menurunkan BI Rate 25 bps pada September ke 6,00%. Berdasarkan rapat Dewan Gubernur BI 20 November 2024, BI Rate masih ditahan pada 6,00%.
Dengan tertahannya penurunan BI Rate tersebut, selisih (spread) dengan FFR melebar menjadi 1,25%. Kebijakan ini dilatarbelakangi oleh penguatan USD yang masih terjadi secara global.
Namun, mengingat bahwa cadangan devisa tercatat mencapai USD 151,2 miliar dan surplus neraca perdagangan terjadi selama 54 tahun berturut-turut, potensi penurunan suku bunga masih menjadi pertimbangan BI pada rapat berikutnya. Ini terutama jika The Fed akan menurunkan suku bunga kebijakannya pada Desember 2024.
Penurunan suku bunga diperkirakan akan dilakukan melalui penilaian yang cermat saat Indonesia memasuki tahun 2025, mengingat defisit ganda Indonesia berpotensi melebar, karena peningkatan belanja pemerintah dan penurunan ekspor, tertekan oleh potensi penurunan ekonomi di AS dan Tiongkok. Namun, baik BI maupun The Fed dapat saja mempertahankan status quo mereka sepanjang tahun depan, dengan asumsi risiko geopolitik dan geoekonomi lebih panas.
Per kuartal III-2024, transaksi berjalan Indonesia masih mengalami defisit USD 2,15 miliar, atau 0,6% dari produks domestik bruto (PDB). Ini lebih rendah dibandingkan dengan defisit sebesar USD 3,25 miliar (0,95% dari PDB) pada kuartal II-2024.
Namun, defisit transaksi berjalan meningkat dibandingkan posisi kuartal III-2023 sebesar US$ 1,16 miliar (0,33% dari PDB). Salah satu pendorong utama pelebaran defisit transaksi berjalan adalah surplus perdagangan yang menyempit, yang menurun menjadi USD 6,53 miliar pada kuartal III-2024, dari sebesar USD 7,81 miliar.
Ketegangan Geopolitik Tekan Rupiah
Rupiah belakangan tercatat kembali melemah. Hal ini dipengaruhi oleh Trump effect lanjutan dan meningkatnya ketegangan geopolitik.
Selama minggu ketiga November 2024, nilai tukar rupiah kembali kembali melemah. Secara point to point, pada minggu ketiga 2024, rupiah ditutup melemah sebesar 0,14% dibandingkan posisi akhir minggu kedua November 2024. Sedangkan secara rata-rata mingguan, rupiah melemah sebesar 0,49% dibandingkan rata-rata selama minggu kedua November 2024.
Pelemahan nilai tukar rupiah tersebut terutama dipengaruhi oleh sentimen faktor eksternal. Ini antara lain kemenangan Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat terpilih periode kedua, sehingga berdampak pada penguatan USD secara global. Faktor lain adalah meningkatnya ketegangan geopolitik di Rusia-Ukraina dan Timur Tengah.
Sampai dengan 22 November 2024, secara year-to-date (ytd), nilai tukar rupiah melemah sebesar 1,90% dibandingkan Desember 2023.
Kinerja Pasar Keuangan Domestik
Pada minggu ketiga November 2024, pasar keuangan domestik diwarnai dengan aksi jual (neto) oleh investor asing. Ini baik pada instrumen saham, Surat Berharga Negara (SBN), maupun Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), yang berdampak pada pelemahan nilai tukar rupiah.
Berdasarkan data transaksi 18-21 November 2024, non-resident (di pasar keuangan domestik) tercatat jual neto Rp 7,50 triliun. Ini terdiri dari jual neto sebesar Rp 3,30 triliun di pasar saham, Rp 3,59 triliun di pasar SBN, dan Rp 0,61 triliun di SRBI.
Pada semester II-2024, non-resident tercatat masih beli neto sebesar Rp 26,81 triliun di pasar saham. Selain itu, beli neto Rp 67,13 triliun di pasar SBN dan Rp 57,33 triliun di SRBI.
Selama tahun 2024, berdasarkan data setelmen hingga 21 November 2024, non-resident tercatat beli neto sebesar Rp 27,15 triliun di pasar saham dan Rp 33,17 triliun di pasar SBN. Selain itu, Rp 187,68 triliun di SRBI.
Sementara itu, premi credit default swap (CDS) Indonesia 5 tahun per 21 November 2024 sebesar 72,65 bps. Ini meningkat dibanding pada 15 November 2024 sebesar 72,61 bps. CDS ini merupakan indikator yang sering digunakan dalam mengukur risiko suatu negara.
Pada akhir hari Kamis, 21 November 2024, rupiah ditutup pada level (bid) Rp 15.920 per dolar AS dan yield SBN 10 tahun turun ke 6,90%. Sedangkan DXY (indeks dolar Amerika Serikat) menguat ke level 106,97, dan yield US Treasury (UST) Note 10 tahun turun ke level 4,422%.
Berikutnya, pada Jumat 22 November 2024, rupiah dibuka pada level (bid) Rp 15.920 per dolar AS. Sedangkan yield SBN 10 tahun turun ke 6,88%.
DXY ini menunjukkan pergerakan dolar terhadap 6 mata uang utama lainnya, yakni euro (EUR), yen Jepang (JPY), pound sterling Inggris (GBP), dolar Kanada (CAD), krona Swedia (SEK), dan franc Swiss (CHF). UST merupakan surat utang negara yang dikeluarkan pemerintah Amerika Serikat dengan tenor 1-10 tahun.
Dari perkembangan semua tersebut di atas, dapat disimpulkan nilai tukar rupiah masih memiliki potensi menguat sampai dengan akhir 2024. Potensi ini antara lain dipengaruhi tetap terjaganya BI Rate, terjaganya tingkat inflasi Indonesia di level yang relatif rendah, serta berlanjutnya penurunan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat pada Desember 2024. (pd)
(Disclaimer on)

