Menkeu: Era Suku Bunga Tinggi Belum Berakhir
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebutkan era suku bunga tinggi masih belum berakhir, meskipun bank sentral Amerika Serikat (AS) the Fed telah memangkas suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 4,75% hingga 5%.
“Tadi Pak Royke (Direktur Utama BNI) mengatakan era suku bunga tinggi sudah berakhir, padahal suku bunga di AS masih level 4,75-5% belum turun dan bahkan hari ini bertahan tinggi,” kata Sri Mulyani, di BNI Investor Daily Summit 2024, di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Selasa (8/10/2024).
Baca Juga
Lelang SRBI Rp 20,29 Triliun, Asing Lanjut Net Sell Saham Rp 0,17 Triliun Selasa
Sri Mulyani mengatakan, the Fed sebetulnya menaikkan suku bunganya 500 bps sejak Maret 2022. Sejak saat itu, hingga Juli 2023, kenaikan Fed Fund Rate (FFR) telah menyentuh angka 5,25% hingga 5,5%.
“Indonesia sejak 2022-2024 ini tidak taper tantrum, bukan pengumuman, tapi pelaksanaan kenaikan suku bunga, kita tetap bisa terjaga dengan pertumbuhan yang baik,” tutur dia.
Dengan gambaran semacam itu, Sri Mulyani ingin menjelaskan bahwa perekonomian Indonesia terjaga dengan baik dan ini didukung berbagai faktor, salah satunya hilirisasi.
Baca Juga
Suku Bunga Acuan AS dan RI Turun, Ekonom Mandiri: Peluang untuk Penggiat Investasi
Bendahara Negara melihat dalam 10 tahun banyak tantangan yang dihadapi perekonomian Indonesia. Dia menyebut Indonesia berada dalam pusaran pandemi, geopolitik, harga komoditas, kenaikan suku bunga, dan inflasi global yang terburuk dalam 40 tahun terakhir.
“Indonesia tetap bisa menjaga growth-nya bagus dan APBN-nya tetap terjaga sehat, itu sesuatu banget,” kata dia.

