Bos BRI Harap Era Suku Bunga Tinggi Berakhir di Semester II 2024
JAKARTA, investortrust.id - Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) Sunarso mengatakan, kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang naik 25 basis poin (bps) menjadi tantangan baru. Apalagi secara global terdapat ketidakpastian penurunan suku bunga acuan Federal Reserve (The Fed) yang menyebabkan ekonomi global terombang-ambing.
Sementara itu, terdapat masalah ketersediaan pangan dampak dari el-nino yang membuat musim tanam dan panen mundur. Volatilitas harga pangan pun terjadi dan berdampak terhadap inflasi.
Sedangkan di dalam negeri, Pemilu tahun 2024 nyatanya tidak berdampak sıgnifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Hal itu beda dengan Pemilu 2019 maupun Pemilu-Pemilu sebelumnya yang mengkontribusi sekitar 0,3%-0,4% terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Alhasil inflasi yang tinggi menyebabkan rencana penurunan suku bunga pada awal kuartal III atau semester II 2024 menjadi tidak lagi jelas. Sebaliknya, ada kemungkinan The Fed dan bank sentral negara lain menaikkan suku bunga acuan.
Meski demikian, bank pelat merah dengan kode saham BBRI tersebut berharap era suku bunga tinggi dapat berakhir di semester II 2024.
“Kita berharap seperti prediksi semula ya, tapi sepertinya berat apabila melihat potensi,” ucap Sunarso pada kesempatan Halal Bihalal bersama Pemimpin Redaksi, Jumat (26/4/2024).
Baca Juga
Walaupun demikian, BRI masih optimistis bahwa suku bunga tinggi nanti akan mereda. “Tapi saya masih tetap optimistis, biasanya inflasi kan didorong oleh harga pangan,” tambahnya.
Sebelumnya Sunarso menilai, langkah BI dalam menaikkan suku bunga adalah keputusan yang logis dan rasional. Dengan situasi global yang dibayangi ketidakpastian, dan juga tantangan di dalam negeri, BI harus menggunakan instrumen yang dimilikinya untuk mengelola inflasi dan nilai tukar.
“Pasti nanti ujung-ujungnya yang harus dikelola adalah dua hal. Ini merupakan KPI-nya bank sentral. Pertama inflasi. Kedua, nilai tukar,” ujarnya dalam paparan kinerja BRI, Kamis (25/4/2024).
Pasar sendiri, termasuk perbankan akan mengikuti rasionalitas yang dilakukan bank sentral. Sunarso menilai, pasar juga didorong untuk turut berperan mengendalikan inflasi dan nilai tukar. Bank juga akan mempunyai tantangan menjaga likuiditasnya di tengah kenaikan suku bunga.
“Dampaknya, kita memikul beban dari gejolak ini. Ya dipikul rame-rame. Bank harus bersusah payah untuk mempertahankan likuditasnya,” kata Sunarso.
Namun, Sunarso menegaskan bagi BRI, likuiditas tidak menjadi persoalan. Dengan rasio loan to deposit (LDR) di posisi 83,28% dan capital adequacy ratio (CAR) 23,97% per Maret 2024, BRI masih mempunyai ruang untuk terus melakukan ekspansi kredit.
“Jadi kenaikan suku bunga adalah keputsan logis dan rasional. Tapi menyebabkan tantangan di likuiditas. Tapi bagi BRI dengan LDR 83,28%, kami biasanya aja. Kami pasti akan mempertahankan rasio likuiditas dengan sehat, tapi bukan berarti ngerem kredit,” paparnya.
Sunarso menegaskan, BRI harus mempertahankan pertumbuhan kredit di level double digit, meskipun BI Rate naik 25 bps.
Baca Juga
Sebagai informasi, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 23-24 April 2024 memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 bps menjadi 6,25%. Suku bunga Deposit Facility juga naik sebesar 25 bps menjadi 5,50% dan suku bunga Lending Facility naik sebesar 25 bps ke 7,00%. Padahal BI Rate sebelumnya tertahan cukup lama di level 6% sejak Oktober 2023.
“BI Rate dinaikkan 25 bps menjadi 6,25% untuk memperkuat stabilitas dan menjaga pertumbuhan nasional dari dampak rambatan global. Ini untuk memperkuat stabilitas rupiah dari kemungkinan memburuknya risiko global,” kata Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo.
Tambah Perry, kenaikan BI Rate juga sebagai langkah pre emptive dan forward looking. Hal itu untuk memastikan inflasi tetap dalam sasaran 2,5% plus minus 1%, pada tahun 2024 dan 2025. Hai ini sejalan dengan arah kebijakan moneter yang pro stability.

