Dampak Stimulus Kebijakan Tiongkok, Siapa Diuntungkan?
Oleh Tri Winarno,
mantan Ekonom Senior Bank Indonesai
INVESTORTRUST.ID – Pemilihan waktu paket stimulus baru Tiongkok bukanlah suatu kebetulan. Pengumuman tersebut tiba tepat sebelum peringatan 75 tahun Republik Rakyat Tiongkok, dan diterima dengan baik oleh investor ekuitas, sehingga menyebabkan lonjakan lebih dari 15% pada indeks saham utama negeri komunis terbesar tersebut.
Paket baru ini mengingatkan kita pada stimulus sebesar CN¥ 4 triliun (US$ 568 miliar) yang diperkenalkan Tiongkok pada akhir tahun 2008, untuk melindungi perekonomiannya dari krisis keuangan global tahun 2008-2010. Paket awal tersebut berhasil menjadikan Tiongkok sebagai satu-satunya negara dengan perekonomian besar yang tidak mengalami resesi parah, bahkan mampu meningkatkan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) riil Tiongkok menjadi 10% pada tahun 2010. Hal ini juga memberikan dorongan yang sangat dibutuhkan terhadap permintaan global bagi negara-negara lain.
Saat ini, dampak global dari paket stimulus Tiongkok akan bergantung pada beberapa faktor utama. Ini termasuk ukuran dan jangkauannya, keberhasilannya dalam meningkatkan pertumbuhan domestik, serta kekuatan hubungan ekonomi Tiongkok dengan negara lain.
Turunkan GWM
Paket stimulus saat ini terdiri dari tiga komponen utama. Pertama, meningkatkan likuiditas dengan menurunkan suku bunga dasar sebesar 20 basis poin, suku bunga hipotek sebesar 50 basis poin, dan rasio cadangan wajib bank umum (Giro Wajib Minimum/GWM) sebesar 50 basis poin.
Baca Juga
Kedua, berupaya menghidupkan kembali sektor real estat dengan menurunkkan uang muka minimum untuk pembelian rumah baru. Hal ini dilengkapi dengan langkah-langkah tambahan dari pemerintah daerah, untuk meningkatkan permintaan pembelian rumah.
Ketiga, langkah-langkah fiskal baru yang akan segera diluncurkan. Stimulus yang dinanti ini kemungkinan besar akan mencakup bantuan tunai kepada rumah tangga berpendapatan rendah dan keluarga yang memiliki anak kecil.
Lonjakan Harga Saham Tiongkok
Dampaknya, lonjakan harga saham Tiongkok tercatat sangat signifikan baru-baru ini. Hal itu juga mencerminkan ekspektasi inflasi yang lebih rendah, yang akan meningkatkan keuntungan nominal, dan antisipasi fundamental perusahaan dan perekonomian yang lebih kuat. Kedua komponen ini mempunyai implikasi yang berbeda terhadap perekonomian Tiongkok dan negara-negara lain di dunia.
Pada titik ini, perekonomian Tiongkok bisa mendapatkan keuntungan dari sedikit inflasi. Pada bulan September 2023, menurut beberapa ekonom, Tiongkok seharusnya menerapkan paket stimulus skala besar untuk menarik diri dari jurang spiral deflasi utang.
Dengan kata lain, stimulus saat ini seharusnya diberikan satu tahun lebih awal. Tapi, tentu, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.
Baca Juga
Kurs Rupiah Kian Terpuruk ke Rp 15.709/USD, BI Sebut Keyakinan Konsumen Terjaga IKK 123,5
Dilihat dari reaksi pasar keuangan, paket stimulus tersebut diyakini telah meredakan kekhawatiran mengenai kemauan dan kemampuan pemerintah Cina untuk mengambil langkah berani, guna merangsang pertumbuhan ekonomi. Investor pasar saham kini tampak lebih yakin, negara dengan perekonomian dan penduduk terbesar kedua di dunia itu dapat mengubah nasib perekonomiannya.
Negeri Tirai Bambu itu diyakini dapat mencapai pertumbuhan yang lebih kuat pada kuartal terakhir tahun ini. Momontum tersebut diproyeksikan bergulir hingga tahun 2025.
Di sisi lain, baik Tiongkok maupun dunia masih perlu menunggu dan melihat apakah optimisme tersebut akan berdampak pada peningkatan kepercayaan konsumen, investasi riil baik oleh perusahaan swasta maupun perusahaan milik negara, plus kebangkitan investasi asing langsung dalam beberapa bulan dan tahun mendatang. Dampak positifnya terhadap perekonomian global akan lebih besar, jika didorong oleh fundamental perekonomian Tiongkok yang lebih kuat dibandingkan hanya sekadar kenaikan harga nominal.
Australia dan Korsel Paling Untung
Di antara negara-negara maju, Australia dan Korea Selatan merupakan pihak yang paling diuntungkan dari pemulihan ekonomi di Tiongkok. Ini terutama jika pemulihan tersebut mencakup sebagian di sektor real estat, yang akan mendorong permintaan bijih besi Australia dan bahan mentah lainnya.
Korea Selatan, yang merupakan rumah bagi pemasok utama dalam rantai nilai regional dan global Tiongkok, kemungkinan juga akan mengalami permintaan yang lebih tinggi untuk ekspor industrinya. Cina diketahui merupakan pasar utama bagi barang-barang Korea Selatan, terutama dalam chip semikonduktor.
Jika rumah tangga Tiongkok menjadi lebih bersedia untuk berbelanja, negara-negara yang memproduksi produk-produk mewah atau menarik wisatawan RRT -- seperti Perancis dan Italia -- dapat memperoleh manfaat yang signifikan, dalam beberapa bulan mendatang. Apalagi, menjelang Tahun Baru Imlek berikutnya pada akhir Januari tahun depan.
Sebaliknya, Amerika Serikat diperkirakan hanya akan memperoleh keuntungan yang lebih terbatas kali ini. Hal itu lantaran banyaknya pembatasan perdagangan dan larangan ekspor teknologi yang diberlakukan terhadap Tiongkok dalam beberapa tahun terakhir.
Baca Juga
Sebelumnya, Jepang adalah penerima manfaat terbesar dari paket stimulus Tiongkok pada tahun 2008. Banyak perusahaan Jepang --seperti rekan-rekan mereka di Korea Selatan -- berperan sebagai pemasok utama bagi perusahaan-perusahaan Tiongkok.
Jepang juga merupakan tujuan populer bagi wisatawan Tiongkok. Meski demikian, pengumuman stimulus Tiongkok hanya menimbulkan sedikit kegembiraan di pasar saham Tokyo. Laporan media menunjukkan bahwa kekhawatiran terhadap kebijakan ekonomi Perdana Menteri Jepang yang baru, Ishiba Shigeru, mungkin menutupi perkiraan kenaikan.
Di negara berkembang, negara-negara Asia Tenggara seperti Thailand, Malaysia, dan Indonesia, serta produsen komoditas utama seperti Chili dan Argentina, dapat memperoleh manfaat dari peningkatan permintaan komoditas dan input industri dari Tiongkok. Selama ini, Cina merupakan pembeli batu bara terbesar Indonesia dan komoditas ini merupakan penyumbang utama ekspor nonmigas RI.
Bisa dikatakan, paket stimulus itu merupakan langkah awal yang penting dalam menghidupkan kembali pertumbuhan Tiongkok. Namun, agar Tiongkok dapat mencapai potensi pertumbuhan jangka panjangnya, Negeri Panda itu juga harus menerapkan lebih banyak reformasi struktural. Hal ini mencakup perbaikan lebih lanjut dalam iklim usaha bagi semua perusahaan, terutama perusahaan non-BUMN dan asing.
Reformasi seperti itu akan mendorong pengusaha untuk berinvestasi dan berinovasi lebih banyak, serta memotivasi rumah tangga untuk membelanjakan lebih banyak. Pertumbuhan Tiongkok yang lebih kuat ini tidak hanya akan membuat masyarakatnya menjadi lebih baik, namun juga akan menghasilkan dampak positif yang lebih besar bagi seluruh dunia.
Banyuwangi, 7 Oktober 2024

