Harga Tembaga Melambung Balapan dengan Emas, Siapa Konglomerat Diuntungkan?
Oleh Hazan Zein Mahmud,
direktur utama PT Bursa Efek Jakarta (BEJ) Periode 1991-1996
INVESTORTRUST.ID - Sahabat investor, harga tembaga melambung, balapan dengan harga emas. Penerawangan tentang peluang kenaikan harga tembaga, sudah saya celotehi sejak lebih setahun lalu. Tragisnya, 'mengintip rusa tanpa amunisi', saya belum mampu meraih cuan dari penerawangan, ha, ha, ha.
Di Comex, pada Jumat (17/5/2024), harga kontrak penyerahan Juli 2025 ditutup pada USD 5.0825 (size 25,000 lbs ekuivalen 12,5 ton). Bandingkan dengan harga terrendahnya 52 minggu terakhir, USD 3.519.
Baca Juga
Dorong Hilirisasi, Jokowi Perpanjang Izin Freeport untuk Ekspor Konsentrat Tembaga
Sementara di London Metal Exchange (LME), pada saat yang sama, harga tembaga ditutup pada USD 10.724 (lot size 25 ton). Ini merupakan harga tertinggi tahun 2024. Catatan selama 52 minggu paling akhir, harga terentang dari USD 7.888 - 10.724.
Faktor Pengerek
Hipotetis, ada lima faktor pendorong yang mengerek harga tembaga. [1] Pasokan yang menurun. [2] Permintaan Cina yang meningkat. [3] pemakaian di industri artificial intelligence (AI). [4] Bahan mentah di green energy. [5] Kendala transportasi karena geopolitik yang memanas. [6] Dan seperti biasa, spekulasi para hedge funds.
Lalu, bagaimana peluang di Bursa Efek Indonesia (BEI)? Belum banyak!
Smelter paling besar dan paling siap ya PT Freeport Indonesia (saham mayoritas milik pemerintah Indonesia). Tapi, perusahaan tambang ini belum go public.
Sementara itu, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) masih harus menunggu sebentar lagi. (Merujuk data BEI, saham emiten tembaga ini terbesar 32,18% dipegang PT Sumber Gemilang Persada milik konglomerat Anthoni Salim, sedangkan keluarga Panigoro lewat PT Medco Energi Internasional Tbk memiliki 20,92% - Red).
Semoga harga tembaga bertahan sampai smelternya produktif. Ini kesempatan bagi keluarga Panigoro dan Salim menyusul Prajogo Pangestu, di jejeran orang terkaya Asia Tenggara. ***

