Dinamika Inflasi dan Harga Aset di Pasar Keuangan
Oleh Tri Winarno,
mantan Ekonom Senior Bank Indonesia
INVESTORTRUST.ID – Meningkatnya inflasi di Amerika Serikat dan seluruh dunia memaksa investor menilai kemungkinan dampak terhadap aset 'berisiko' (umumnya saham) dan aset 'aman' (seperti obligasi Treasury AS). Rumus investasi tradisional adalah mengalokasikan kekayaan sesuai aturan 60/40: yakni 60% portofolio harus dalam bentuk saham dengan imbal hasil lebih tinggi tetapi lebih mudah berubah, dan 40% dalam obligasi yang imbal hasil maupun volatilitasnya lebih rendah.
Alasannya adalah harga saham dan obligasi biasanya berkorelasi negatif, jika salah satu naik, yang lain turun. Dengan demikian, kombinasi ini akan menyeimbangkan nilai portofolio.
Baca Juga
Selama ‘periode risk-on’, ketika investor optimistis, harga saham dan imbal hasil obligasi akan naik, sebaliknya harga obligasi akan turun, yang mengakibatkan kerugian di pasar obligasi. Sedangkan selama ‘periode risk-off’, ketika investor pesimistis, harga dan imbal hasil akan mengikuti pola terbalik.
Demikian pula, ketika perekonomian sedang booming, harga saham dan imbal hasil obligasi cenderung naik, sementara harga obligasi turun. Sedangkan dalam resesi, yang terjadi sebaliknya.
Namun korelasi negatif antara harga saham dan obligasi ini mengandaikan inflasi yang rendah. Ketika inflasi naik, imbal hasil obligasi menjadi negatif, karena kenaikan imbal hasil, yang disebabkan oleh ekspektasi inflasi yang lebih tinggi, akan menurunkan harga pasarnya. Pertimbangkan bahwa setiap kenaikan imbal hasil obligasi jangka panjang sebesar 100 basis poin menyebabkan penurunan harga pasar sebesar 10%, suatu kerugian yang tajam.
Karena inflasi dan ekspektasi inflasi yang lebih tinggi, imbal hasil obligasi meningkat. Akibatnya, pada tahun 2021, pengembalian obligasi jangka panjang secara keseluruhan mencapai -5%.
Baca Juga
Selama tiga dekade terakhir, obligasi hanya beberapa kali menawarkan tingkat pengembalian tahunan yang negatif. Penurunan tingkat inflasi, dari dua digit menjadi satu digit yang sangat rendah, menghasilkan pasar obligasi bullish dalam jangka panjang. Imbal hasil turun dan pengembalian obligasi sangat positif karena harganya naik.
Oleh karena itu, periode 30 tahun terakhir sangat kontras dengan periode stagflasi pada tahun 1970-an. Saat stagflasi, imbal hasil (yield) obligasi meroket seiring dengan kenaikan inflasi, yang menyebabkan kerugian pasar obligasi secara besar-besaran.
Namun, inflasi juga berdampak buruk bagi saham. Ini karena memicu kenaikan suku bunga, baik secara nominal maupun riil.
Jadi, ketika inflasi meningkat, korelasi antara harga saham dan obligasi berubah dari negatif menjadi positif. Inflasi yang lebih tinggi menyebabkan kerugian baik pada saham maupun obligasi, seperti yang terjadi pada tahun 1970-an. Pada tahun 1982, rasio harga terhadap pendapatan S&P 500 adalah delapan, sedangkan saat ini sudah di atas 30.
Cara Lain Melindungi 40% Aset
Contoh yang lebih baru juga menunjukkan bahwa ekuitas terpuruk ketika imbal hasil obligasi naik, sebagai respons terhadap inflasi yang lebih tinggi atau ekspektasi bahwa inflasi yang lebih tinggi akan menyebabkan pengetatan kebijakan moneter. Bahkan sebagian besar saham-saham teknologi yang banyak digembar-gemborkan pun tidak kebal terhadap kenaikan suku bunga jangka panjang, karena ini adalah aset ‘durasi panjang’ yang dividennya lebih besar di masa depan, sehingga lebih sensitif terhadap faktor diskonto yang lebih tinggi (imbal hasil obligasi jangka panjang).
Pada September 2021, ketika imbal hasil Treasury bills tenor sepuluh tahun naik hanya 22 basis poin, saham turun 5-7%. Penurunan lebih besar terjadi di Nasdaq yang sarat teknologi, dibandingkan S&P 500.
Pola ini berlanjut hingga tahun 2022. Kenaikan imbal hasil obligasi sebesar 30 basis poin telah memicu koreksi (ketika total kapitalisasi pasar turun setidaknya 10%) di Nasdaq, dan hampir koreksi di S&P 500. Jika inflasi yang terjadi tetap jauh di atas target Federal Reserve AS sebesar 2% -- bahkan jika suku bunga tersebut turun sedikit dari tingkat tertinggi saat ini -- imbal hasil obligasi jangka panjang akan jauh lebih tinggi, dan harga ekuitas dapat mengalami penurunan sebesar 20% atau lebih.
Lebih penting lagi, jika inflasi terus lebih tinggi dibandingkan beberapa dekade terakhir (‘moderasi hebat’), portofolio 60/40 akan menyebabkan kerugian besar. Maka, tugas investor adalah mencari cara lain untuk melakukan lindung nilai terhadap 40% portofolio mereka yang berbentuk obligasi.
Setidaknya ada tiga opsi untuk melakukan lindung nilai terhadap komponen pendapatan tetap dari portofolio 60/40. Yang pertama adalah berinvestasi pada obligasi yang diindeks inflasi atau obligasi pemerintah jangka pendek, yang imbal hasilnya cepat berubah sebagai respons terhadap inflasi yang lebih tinggi. Pilihan kedua adalah berinvestasi pada emas dan logam mulia lainnya, yang harganya cenderung naik ketika inflasi lebih tinggi. Emas juga merupakan lindung nilai yang baik terhadap risiko politik dan geopolitik yang mungkin melanda dunia, dalam beberapa tahun mendatang.
Terakhir, seseorang dapat berinvestasi pada aset riil dengan persediaan yang relatif terbatas. Ini seperti tanah, real estate, dan infrastruktur.
Kombinasi optimal antara obligasi jangka pendek, emas, dan real estate akan berubah seiring waktu dan dengan cara yang kompleks, bergantung pada kondisi makro, kebijakan, dan pasar. Ya, beberapa analis berpendapat bahwa minyak dan energi -- bersama dengan beberapa komoditas lainnya -- juga dapat menjadi lindung nilai yang baik terhadap inflasi.
Namun, persoalan ini rumit. Pada tahun 1970an, harga minyak yang lebih tinggilah yang menyebabkan inflasi, bukan sebaliknya. Dan mengingat tekanan yang ada saat ini untuk beralih dari minyak dan bahan bakar fosil, permintaan di sektor-sektor tersebut mungkin akan segera mencapai puncaknya.
Kombinasi portofolio yang tepat ini masih bisa diperdebatkan. Namun, hal yang sudah jelas: dana kekayaan negara, dana pensiun, dana abadi, yayasan, dan individu yang mengikuti aturan 60/40 harus mulai memikirkan untuk mendiversifikasi aset mereka, guna lindung nilai terhadap kenaikan inflasi. ***

