Indonesia Impor Air Mineral Rp 15,2 Miliar dalam 8 Bulan, Termasuk dari Arab
JAKARTA, investortrut.id - Sepanjang Januari hingga Agustus 2024, Indonesia tercatat mengimpor air mineral dari sejumlah negara.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor air mineral Indonesia dalam delapan bulan terakhir mencapai US$ 991.280 atau setara Rp 15,2 miliar (kurs Rp 15.343 per US$)
Baca Juga
Tanpa Ditopang Air Mineral, Kinerja Industri Minuman 2023 Minus 2,6%
Berdasarkan data BPS, impor air mineral Indonesia berasal dari sejumlah negara, yakni Fiji, Italia, Korea Selatan, Jepang, Perancis, Australia, Amerika Serikat (AS), Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab (UEA).
Nilai impor air mineral dari Fiji tercatat sebesar US$ 460.578, dari Italia sebesar US$ 357.441, dari Korea Selatan sebesar US$ 92.069, dari Jepang sebesar US$ 43.031, dari Perancis sebesar US$ 20.032, dari Australia sebesar US$ 4.119, dari Arab Saudi sebesar US$ 3.962, dari UEA sebesar US$ 2.248, dan dari Amerika Serikat (AS) sebesar US$ 275.
Sementara itu, nilai impor air mineral pada tahun ini terbesar dilakukan pada Maret sebesar US$ 312.721, Juni sebesar US$ 169.857, April mencapai US$ 148,540, lalu pada Januari US$ 113.992, Mei US$ 90.916, Agustus US$ 75.626, Juli US$ 44.598, dan terakhir pada Februari yang sebesar US$ 35.030.
Berdasarkan catatan investortrust.id, industri air mineral dalam kemasan (AMDK) dalam negeri menjadi salah satu penopang sektor industri minuman. Menurut Ketua Umum Asosiasi Industri Minuman Ringan (ASRIM) Triyono Prijosoesilo, kinerja industri minuman 2023 mengalami pertumbuhan 3,1%. Ia mengatakan angka itu bisa dicapai karena ditopang oleh bisnis air mineral dalam kemasan.
Jika tidak ditopang oleh air mineral dalam kemasan, kata Triyono, kinerja industri minuman pada 2023 bisa anjlok hingga minus 2,6%.
Baca Juga
Impor Susu pada Agustus 2024 Melonjak, untuk Program MBG Prabowo-Gibran?
"Ada pertumbuhan 3,1% kalau kita lihat secara total, tetapi penyumbang utama dari pertumbuhan itu hanya air mineral," ucap Triyono dalam konferensi pers yang digelar di kawasan Jakarta Selatan, Rabu (13/3/2024).
"Kalau kita bagi secara kategori, yang tumbuhnya positif adalah package water, selebihnya negatif. Kalau kita keluarkan itu (AMDK) berarti yang terjadi minus 2,6%," katanya menambahkan.

