Terdampak Perang Iran-Israel, Pemerintah Perlu Utamakan 3 Kebijakan untuk Masyarakat Rentan
JAKARTA, investortrust.id - Rektor Universitas Paramadina Didik J Rachbini menyarankan tiga kebijakan penting bagi pemerintahan Presiden Joko Widodo, dan presiden terpilih nanti, untuk menjaga ekonomi imbas dari perang Iran-Israel. Kebijakan khusus perlu diambil untuk menjaga dan melindungi golongan bawah dan rentan.
“Untuk menjaga daya beli tidak turun, maka pemerintah harus sekuat tenaga dan segala kemampuan mengendalikan harga-harga atau menjaga inflasi,” kata Didik, dalam keterangan resminya, Kamis (18/4/2024).
Baca Juga
Rupiah Rebound ke Rp 16.159/USD, Diproyeksikan Penguatan Dolar Sudah Terbatas
Kebijakan BI Penting
Untuk menjaga daya beli dan mengendalikan harga itu, Didik menyarankan agar pemerintah menjalin duet yang intens dengan Bank Indonesia (BI). Kebijakan BI, kata dia, berperan penting mengendalikan sisi moneter.
“Sejauh ini, BI cukup baik dalam melaksanakan pengendalian inflasi dan lebih keras lagi menjalankannya, pada saat dunia dalam ketegangan yang memuncak. Sementara itu, di sisi sektor riil, pemerintah pusat dan daerah wajib memantau harga-harga kebutuhan pokok dari hari ke hari,” ucap dia.
Baca Juga
Mentan Amran Klaim Proyek Lahan Tebu di Merauke Bisa Tekan Impor Gula
Kebijakan kedua yang harus diambil yaitu optimalisasi instrumen fiskal. Pemerintahan perlu menjaga instrumen fiskal yang dikeluarkan dapat produktif.
“Kebijakan fiskal yang baik adalah yang prudent, berhati-hati dan mampu mengendalikan defisit. Jangan jor-joran, proyek besar kendalikan dan populisme jangan serampangan,” kata dia.
Didik menyebut, kebijakan fiskal yang diambil perlu mempertahankan produktivitas dan menjaga dunia usaha di dalam negeri. Sebab, sektor dalam negeri menjadi penggerak terbesar perekonomian.
Kebijakan ketiga, kata Didik, yaitu pertimbangan kebijakan perdagangan luar negeri. Dia menyebut, pemerintah baru perlu mengarahkan perdagangan luar negeri ke kawasan yang sedikit terjadi konflik.
“Jalur Eropa dan Timur Tengah pasti terganggu. Tetapi, mitra dagang di kutub ekonomi lainnya akan hidup terus, seperti mitra Jepang, Cina, Asean, India, dan lain-lain,” kata dia.
Didik mengatakan, bagi presiden terpilih eskalasi geopolitik dapat membuat program ekonomi yang ditargetkan berantakan. Selain itu, konflik dapat menambah beban baru bagi masyarakat.
“Sasaran pertumbuhan ekonomi yang tinggi, juga angan-angan dalam kampanye, lupakan saja. Fokus pada daya tahan masyarakat, daya beli mereka, menahan agar tidak terjadi pengangguran yang besar,” kata dia.

