JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar rupiah bergerak menguat Rabu (17/7/2024) pagi, menjelang pengumuman keputusan Bank Indonesia (BI) mengenai arah kebijakan suku bunga acuan atau BI Rate. Dilansir dari Yahoo Finance, hingga pukul 08.45 WIB, kurs mata uang Garuda bergerak menguat 55 poin ke level Rp 16.119/USD.


Menurut Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Andry Asmoro, hal itu seiring indeks dolar Amerika Serikat yang sedang mengalami tren depresiasi, didorong keyakinan investor bahwa The Fed akan menurunkan suku bunga acuan tanggal 24 September mendatang. Keyakinan itu datang dari pernyataan Kepala The Fed Jerome Powell, yang mengindikasikan rencana untuk menurunkan suku bunga sebelum inflasi mencapai target 2%. 

"Powell juga mengakui adanya dampak tertunda dari kebijakan moneter," kata Andry dalam keterangannya, Jakarta, Rabu (17/7/2024).

Baca Juga

Harga Emas Antam Makin Melambung, Naik Rp 17.000 per Gram Rabu Pagi  


Ia juga menyorot sentimen konsumen AS yang turun selama empat bulan berturut-turut pada 24 Juli dan ekspektasi inflasi setahun ke depan mencapai titik terendah dalam empat tahun. Tren-tren ini, bersama dengan inflasi yang moderat dan revisi gaji yang lebih rendah, memperkuat ekspektasi penurunan suku bunga The Fed.


Dari sisi stabilitas politik, upaya pembunuhan yang gagal terhadap Donald Trump meningkatkan kemungkinannya untuk menjadi presiden AS kedua kali. Menurut Andry, potensi ini mendukung imbal hasil US Treasury karena prospek kebijakan inflasi yang melibatkan pemotongan pajak, imigrasi yang lebih ketat, dan tarif impor yang lebih tinggi.


Sebelumnya Kurs Mandiri mencatat rupiah kemarin terdepresiasi sebesar 0,06% ke Rp 16.180/USD, atau terdepresiasi sebesar 5,1% year to date. Sedangkan untuk hari ini, Ekonom Mandiri itu memperkirakan kurs rupiah akan bergerak fluktuatif di kisaran Rp 16.163-16.225/USD.



Pertahankan BI Rate
Dari dalam negeri, bank sentral akan mengumumkan keputusan mengenai arah kebijakan suku bunga acuan pada siang ini. Ekonom Senior PT Bank Permata Tbk Faisal Rachman memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga acuan sebesar 6,25%.


Lebih jauh ia memperkirakan arah kebijakan moneter BI di masa depan mengenai suku bunga akan sangat bergantung pada perkembangan kondisi ekonomi dan politik global, khususnya di AS. Pasar saat ini mengantisipasi dua kali penurunan Fed Funds Rate (FFR) pada tahun ini, yang dimulai pada 24 September.

Baca Juga

Harga Minyak Melemah 1,3% Imbas Penurunan Ekonomi Cina


Namun demikian, ia tetap berpandangan The Fed hanya akan menurunkan FFR satu kali, kemungkinan besar pada kuartal IV-2024. Ia juga meyakini The Fed akan menerapkan pendekatan yang sabar dan berbasis data, dengan mempertimbangkan aspek perekonomian AS yang lebih luas, termasuk implikasi dinamika politik dalam negeri menjelang pemilu presiden.


"Kami masih melihat peluang penurunan BI rate akan muncul ketika The Fed memulai penurunan FFR," katanya, dikutip Rabu (17/7/2024).


Di sisi lain, ekonom senior Bank Permata itu juga memproyeksi BI Rate akan bertahan di level 6,25% hingga akhir tahun 2024. Ada potensi penurunan BI Rate terjadi kuartal I-2025.