Rupiah Kian Perkasa usai Rilis Inflasi AS
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar rupiah kian perkasa dalam pembukaan perdagangan Jumat (12/7/2024) pagi, usai rilis data inflasi Amerika Serikat melambat. Dilansir dari Yahoo Finance, kurs rupiah bergerak menguat 60 poin ke level Rp 16.129/USD pada pukul 09.00 WIB, dibanding posisi hari sebelumnya Rp 16.189/USD.
Data laju inflasi AS pada Juni 2024 yang dirilis kemarin waktu setempat tercatat melambat. Indeks harga konsumen (consumer price index/CPI), yang mengukur biaya barang dan jasa di seluruh perekonomian AS, turun 0,1% dari bulan Mei, dengan tingkat kenaikan harga 12 bulan terakhir sebesar 3% atau level terendah dalam lebih dari tiga tahun.
Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan pada hari Kamis (11/7/2024) waktu setempat, tingkat indeks harga semua objek barang turun dari bulan Mei 3,3% yoy (year on year). Penurunan tingkat inflasi memberikan dukungan lebih lanjut bagi Federal Reserve untuk mulai memangkas suku bunganya pada tahun ini.
Ini adalah pertama kalinya sejak Mei 2020 angka inflasi bulanan menunjukkan penurunan, dengan tidak termasuk biaya pangan dan energi yang bergejolak. CPI inti meningkat 0,1% bulanan dan 3,3% dari tahun lalu, dibandingkan dengan perkiraan masing-masing sebesar 0,2% dan 3,4%, menurut laporan Biro Statistik Tenaga Kerja di negara dengan perekonomian terbesar di dunia itu.
"Kenaikan tahunan pada tingkat inflasi inti merupakan yang terkecil sejak April 2021," kata Chris Larkin, direktur pelaksana perdagangan dan Investasi di E-Trade dari Morgan Stanley, seperti dikutip CNBC.
Baca Juga
Penurunan harga bensin sebesar 3,8% menahan inflasi pada bulan tersebut, mengimbangi kenaikan sebesar 0,2% pada harga pangan dan perumahan. Biaya-biaya yang terkait dengan perumahan telah menjadi salah satu komponen inflasi yang paling keras kepala dan menyumbang sekitar sepertiga dari bobot CPI, sehingga penurunan tingkat kenaikan merupakan tanda positif lainnya.
"Data yang paling dinantikan pasar pekan ini, yaitu inflasi konsumen atau CPI AS Juni turun ke level 3% yoy, lebih rendah dari angka bulan lalu dan perkiraaan pasar. Core CPI yang tidak termasuk harga makanan dan energi turun ke level 3,3% yoy, lebih rendah dari perkiraan. Rilis data ini semakin mendukung pemangkasan suku bunga The Fed di September 2024 mendatang. Berdasarkan survei, probabilitas pemangkasan naik dari 73% ke 93% untuk pemangkasan 25 bps di September mendatang," kata analis Cheryl Tanuwijaya membeberkan hasil analisis Tim Riset InvestasiKu, Jakarta, Jumat (12/03/2024).
Baca Juga
Emas Batangan Antam Melesat Rp 13.000 per Gram, Harga Termurah Rp 749.500

