Kurs Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 16.281/USD Hari Ini, Selasa
JAKARTA, investortrust.id - Kurs rupiah melemah dalam penutupan perdagangan Selasa (9/7/2024) sore, setelah rentetan tren apresiasi hari-hari sebelumnya. Berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), nilai tukar rupiah melemah 16 poin ke level Rp 16.281/USD.
Sementara di pasar spot seperti dilansir Yahoo Finance, hingga pukul 15.30 WIB, kurs rupiah bergerak menguat 4 poin ke level Rp 16.245/USD. Hari sebelumnya, rupiah ditutup di posisi Rp 16.249/USD.
Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi mengungkapkan, para pedagang bertaruh soal Ketua The Fed Jerome Powell akan memberikan pernyataan dovish selama dua hari kesaksiannya di hadapan Kongres Amerika Serikat. Mereka menyoroti lemahnya data pasar tenaga kerja di perekonomian terbesar di dunia itu.
"Meskipun Powell baru-baru ini mencatat adanya kemajuan menuju disinflasi, ia juga mengatakan The Fed masih memerlukan kepercayaan lebih untuk mulai menurunkan suku bunga," kata Ibrahim dalam keterangannya, Selasa (9/7/2024).
Baca Juga
Selain Powell, sejumlah pejabat The Fed juga akan memberikan pidatonya minggu ini. Data utama inflasi indeks harga konsumen tersedia dan kemungkinan besar akan menjadi faktor dalam prospek suku bunga The Fed.
Para pedagang saat ini menetapkan peluang sekitar 76% untuk penurunan suku bunga pada pertemuan The Fed bulan September. Ini naik dari 64% pada minggu lalu, menurut FedWatch Tool dari CME Group.
Di sisi lain, tetap ada sentimen ketegangan Cina, setelah Uni Eropa memberlakukan tarif tinggi terhadap impor kendaraan listrik negeri Tirai Bambu itu. Pasar mengamati adanya pembalasan dari Beijing, terutama ketika para pejabat mengisyaratkan kemungkinan perang dagang soal tarif.
Baca Juga
Banggar DPR Sepakat Penggunaan Sisa Anggaran dan Proyeksi Defisit APBN 2024
Harga saham-saham Cina pun sebagian besar tertinggal dari rekan-rekan mereka sepanjang bulan Juni, karena optimisme terhadap pemulihan ekonomi di negara tersebut semakin tipis di tengah 'pembacaan' perekonomian yang tidak terlalu signifikan. "Fokus minggu ini adalah pada pembacaan perdagangan dan inflasi dari Cina, untuk mendapatkan lebih banyak petunjuk mengenai negara tersebut," paparnya.

